Jejak Perjalanan Buku Perdana
Saat anak kecil ditanya tentang cita-citanya, mereka dengan mudah menjawab, "ingin menjadi presiden, polisi, tentara, dokter, pilot," dan sebagainya. Seiring perjalanan waktu dan pengetahuannya mereka makin menyadari bahwa cia-cita masa kecilnya tersebut adalah sebuah mimpi atau impian semata. Sungguh berat perjuangan menjadi presiden, yang hanya ada satu se Indonesia, demikian juga untuk menjadi pilot, polisi, tentara dan dokter. Perlu perjalanan mencari ilmu yang panjang, dan proses seleksi yang ketat.
Banyak anak yang konsisten dengan cita-cita masa kecilnya hingga mereka fokus belajar ilmu sesuai dengan cita-citanya itu. Mereka yang bermimpi menjadi dokter, saat sekolah memilih jurusan IPA/Biologi dan berusaha diterima kuliah di fakultas kedokteran di kampus ternama. Jika ia lulus dengan sempurna, jadilah ia seorang dokter yang kompeten, penuh dedikasi karena mencintai profesinya itu.
Mereka yang bercita-cita menjadi polisi, tentara dan pilot, sejak TK sudah memilih merias diri sebagai tentara, polisi atau pilot saat pawai alegori pada peringatan hari kemerdekaan. Jika mimpi mereka ini konsisten, saat remaja ia akan menyukai olah raga, berlari dan membentuk fisiknya untuk memantaskan diri sesuai apa yang ia cita-citakan.
Betapa bahagianya mereka saat pengumuman hasil tes seleksi dokter, tentara, polisi atau pilot, panitia menyebut namanya sebagai peserta yang lulus. Madu, pasti manis sekali. Seakan ia lah orang yang paling bahagia se dunia saat itu. Karena ternyata mimpi indahnya menjadi kenyataan.
Hampir sedemikian barangkali yang saya rasakan hari ini. Sabtu, 09 Januari 2021 saat saya menerima kabar dari mentor literasi kondang Bapak Dr. Ngainun Naim. Beliau mengabarkan bahwa ada dua buka karya penulis pemula yang beliau bimbing, hari ini telah tiba dari penerbit di kantornya. Salah satu dari buku itu adalah saya penulisnya. Mungkin sensasi rasa senang dari para penulis ternama pun awalnya sama seperti yang saya rasakan saat ini. Sebuah mimpi indah yang ternyata, nyata adanya
______________
Buku perdana dari seorang pemimpi. Ya, memimpikan bisa menulis buku solo bagi saya adalah hal yang hampir mustahil, menyadari ilmu yang sangat terbatas dan keterampilan menulis yang masih memulai belajar.
Keberuntungan saya adalah berkesempatan berkumpul dan ber-golong bersama kawan-kawan yang sedang belajar menulis. Mereka adalah para Kepala Madrasah di bawah naungan LP Ma'arif Tulungagung. Singkat cerita sehabis menuntaskan kegiatan pelatihan mereka bersepakat membuat grup menulis di WhatsAap (WAG). Semacam pindah dari kelas tatap muka ke kelas tatap maya.
Beruntungnya lagi, di antara narasumber diklat tersebut yaitu Bapak Dr. Ngainun Naim, yang dengan senang hati berkenan membersamai grup ma'arif menulis ini. Beliau tiada henti setiap hari mengirimkan contoh tulisan dari blog nya. Selalu mengingatkan untuk isiqomah menulis minimal lima paragraf setiap hari. Rupaya pendidikan dengan metode "uswah" inilah yang membuat kelas menulis daring ini cukup efektif. Nyatanya beberapa buku antologi dan beberapa buku solo telah berhasil terbit dari kelas ini, termasuk buku saya di antaranya.
Tak akan pernah saya lupakan juga jejak perjalan dari dua penulis sebelumnya di Grup Ma'arif menulis ini. Yaitu; 1) Bapak Suprianto yang mengawali menerbitkan bukunya berjudul, "Merenda Asa, Kisah Hidup, Gagasan dan Pencerahan." Buku indah ini terbit pada bulan Juni 2020. 2) Ibu Eti Rohmawati, yang pada bulan yang sama juga berhasil menerbitkan karya perdananya berjudul, "New Normal, New Hope." Kedua karya indah ini telah menginspirasi dan memberikan jejak bagi saya, ke arah mana proses sebuah tulisan di blog supaya menjadi sebuah buku. Rute perjalanan mereka saya ikuti sebagaimana nasehatnya, dan sungguh sempurna, buku solo berikutnya (ini) pun hari ini terlahir.
Pengalaman mengikuti jejak mereka sungguh penting. Sama seperti andai kita belum pernah berpengalaman naik pesawat terbang. Maka penting untuk mendengarkan petunjuk dari mereka yang telah pernah bahkan berulang kali naik pesawat terbang. Dari situlah kita akan diberitahu alurnya; di mana beli tiketnya, kapan datang ke bandaranya, perlunya menyiapkan identitas dan tiket pesawat, datang ke bandara harus lebih awal, memastikan gate keberangkatan, menyiapkan KTP dan boarding pass saat akan masuk pesawat, bagaimana mengambil barang di bagasi dan seterusnya. Mengapa pengetahuan seperti ini perlu? Jawabannya adalah, karena kita belum pernah berpengalaman naik pesawat. Dan tak mungkin kita menggagas prosedur sendiri, karena telah ditentukan standar prosedurnya. Sebab itu perlu menimba ilmu dari mereka yang telah/pernah mengalaminya.
Sebelum mengalami sendiri sesuatu, misalnya naik pesawat terbang pasti kita akan membayangkan sebuah proses yang membingungkan, pikiran dipenuhi kebimbangan, penuh tanda tanya bagaimana dan bagaimana? Tetapi setelah mendapatkan tularan cerita dari mereka yang telah berpengalaman dan kemudian mengalaminya sendiri, maka jejak gelap itu berubah menjadi terang benderang. Hilang sudah kekhawatiran dan kebingungan sebelumnya.
Ilustrasi panjang lebar di atas bermaksud menjelaskan bahwa demikian juga dengan proses mengolah tulisan di blog untuk diterbitkan menjadi sebuah buku. Apa yang harus dilakukan, apa yang harus dibuat dan kepada siapa bahan (karya) itu dikomunikasikan. Ikuti proses yang pernah dilakukan oleh mereka yang telah berpengalaman. Maka berikutnya, jika telah berhasil, pengalaman itu akan menjadi kekayaan pribadi dan selanjutnya bisa ditularkan kepada mereka yang akan melakukan proses serupa.
___________
Buku perdana saya kali ini berjudul, "Melukis Mimpi di Masa Pandemi." Dengan membaca judulnya saja, telah terbayangkan bahwa di masa pandemi ini, justu penulis mampu mewujudkan mimpinya menulis sebuah buku. Bukulah lukisan (karya) indah itu, yang hadir justru di saat masa sulit, yaitu ancaman pandemi Covid-19.
Sinopsis dari buku "Melukis Mimpi di Masa Pandemi" ini sebagaimana tertulis di sampul belakangnya sebagai berikut;
Bahwa, jejak perjalanan alam semesta dapat ditelusuri dari catatan demi catatan yang dilahirkan oleh anak zaman. Pandemi Covid-19 merupakan peristiwa penting yang terjadi di abad 21 ini. Apa saja yang telah dilakukan oleh manusia dalam menyesuikan diri dengan kehadiran pandemi Cavid-19, kelak dapat ditelusuri dari produk yang diabadikan melalui literasi maupun karya kreatif lainnya. Siapa yang telah menyumbangkan sebuah produk dan karya kreatif mengiringi suasana zaman, kelak akan dikenang eksistensinya oleh generasi sesudahnya.
Buku sederhana ini lahir, bagian dari ikhtiyar mengabadikan suasana kebatinan yang penulis alami di tengah hadirnya ujian kehidupan berupa Covid-19. Melalui goresan pena, penulis mencoba menuangkan pengalaman, refleksi, gagasan, serta nasehat diri. Selaras dengan aktifitas keseharian dalam profesinya sebagai praktisi pendidikan. Penulis mencoba memotret suasana pendidikan di masa pandemi, kebiasaan new normal, serta refleksi jatidiri manusia di alam fana dewasa ini.
Buku ini adalah sebuah karya dari seorang penulis pemula. Yang sedang berupaya meyakinkan dirinya sendiri serta khalayak luas terutama komunitas pendidikan untuk terus menggerakkan spirit dan budaya literasi. Menjadikan situasi sulit di masa pandemi sebagai momentum untuk berani melompat ke tingkat yang lebih kreatif, inovatif dan lebih bermanfaat.
Sebagai karya perdana hasil dari proses belajar sebagai penulis pemula, buku ini masih banyak kekurangan di sana sini. Karena itu, kami membuka seluas-luasnya pintu kritik dan saran dari sesama pegiat literasi demi terus tumbuhnya semangat menulis dan demi terwujudnya kualitas karya-karya literasi berikutnya. [...]

Alhamdulillah... ikut menjadi bagian dari terbitnya sebuah karya. Terima kasih pak nur, tidak menyangka buku perdana ssaya mendapat apresiasi dari jenengan.
ReplyDeleteTrimkasih pak Pri..
DeleteJoss Pak Noer....semoga selanjutnya terbit karya-karya baru yang lebih joss...
ReplyDeleteSami2 yii... Aamiin
Delete