Vaksinasi, dan Jembatan Menuju Kampung Baru
Fenomena pandami Covid-19, problematika dan segala upaya pencegahannya masih menjadi diskursus utama media massa sampai awal tahun 2021. Bukan hanya di Indonesia, tapi demikian juga di negara-negara lain.
Minggu kedua bulan Januari 2021 jagad media informasi Indonesia diramaikan dengan berita persiapan vaksinasi. Di era keterbukaan di mana masyarakat semakin cerdas, dan dukungan akses media informasi ada di genggaman semua orang, program vaksinasi Covis-19 kali ini banyak diwarnai adu argumentasi. Mungkin jauh berbeda dengan suasana program vaksinasi yang pernah diselenggarakan pemerintah pada tahun-tahun yang lalu. Dulu rakyat dengan mudah menerima apa yang diprogramkan oleh pemerintah.
Satu sisi pemerintah perlu mensukseskan program massal ini secepatnya, sebagai langkah strategis melindungi keselamatan warganya. Di sisi yang lain masyarakat butuh keyakinan untuk menerima vaksinasi ini tanpa adanya keraguan.
Diskusi tentang Vaksin Sinovac yang telah dipilih oleh pemerintah, efikasi (kemanjuran) dan kemungkinan dampak negatif pada penggunanya, cukup fulgar diperdebatkan di media sosial. Hal inilah di antara penyebab berkembangnya kebimbangan masyarakat. Hingga pemerintah perlu melakukan pendekatan persuasif kepada berbagai pihak, untuk membantu meyakinkan masyarakat, menepis keraguan. Harapan idealnya, program vaksinasi ini dapat diterima dengan suka cita oleh seluruh rakyat Indonesia.
Untuk membangun keyakinan itu, presiden Jokowi sampai harus turun tangan, merencanakan menyediakan dirinya menjadi orang pertama yang disuntik vaksin. Berikutnya para pejabat tinggi di bawah presiden, yang kemudian dilanjutkan olek kelompok tenaga kesehatan (Nakes) dan aparatur sipil negara (ASN). Dan diupayakan dalam 15 bulan, 181.5 juta penduduk Indonesia telah tervaksinasi.
Secara teori vaksinasi adalah kegiatan pemberian vaksin kepada seseorang di mana vaksin tersebut berisi satu atau dua antigen. Saat vaksin dimasukkan ke dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh akan melihatnya sebagai antigen atau musuh. Dengan begitu, sebagai respon adanya ancaman ancaman dari musuh maka tubuh akan memproduksi antibodi untuk melawan antigen tersebut. Namun kekebalan tubuh yang didapat melalui vaksinasi tidak betahan seumur hidup terhadap infeksi penyakit berbahaya tersebut. Dalam jangka waktu tertentu vaksinasi perlu diulangi lagi karena antibodi semakin lama semakin turun bahkan hilang.
Jadi apasih vaksin itu? Vaksin adalah suatu zat yang sengaja dibuat untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh dari penyakit tertentu. Pemberian vaksin bertujuan untuk mencegah/mengurangi pengaruh infeksi penyakit-penyakit tertentu.
Sejarahnya, saat ini sudah 30 jenis vaksin yang diciptakan, sejak konsep vaksinasi dilakukan boleh Edward Janner, pertama kali pada tahun 1796. (kontan.co.id)
Adapun vaksin Covid-19 CoronaVac buatan Sinovac yang saat ini akan digunakan untuk vaksinasi penduduk Indonesia telah mendapatkan restu dari (BPOM) dalam bentuk Emergency Use Authorization (EUA), merujuk pada hasil uji klinis yangn menunjukkan efikasi 65.3%. (Detik Health)
Terhadap ikhtiyar vaksinasi yang dilakukan oleh pemerintah ini, mungkin ada baiknya kita sikapi dengan pikiran positif. Mendorong pemerintah melakukan berbagai pengamanan dan antisipasi-antisipasi klinis. Penting juga dibangun kesadaran bahwa vaksinasi ini bukanlah upaya pamungkas melawan Covid-19. Tuntutan perilaku kreatif untuk bersama melakukan pencegahan, perlindungan dan herd immunity menjadi kearifan baru di era ini.
Mungkin kita bisa mengambil pelajaran dari ilustrasi berikut ini, terdapat suatu kampung pedalaman yang ingin membuka akses dengan kampung yang telah maju di seberang sana, tapi terpisahkan oleh sebuah sungai. Mereka bersama berikhtiyar membangun sebuah jembatan penghubung. Jembatan yang mustahil dibangun oleh orang per-orang. Dengan kerjasama mereka berhasil mewujudkan jembatan baru tersebut. Pada akhirnya semua bisa menikmati dan mengambil manfaat dari hasil kebersamaan tersebut.
Belajar dari ilustrasi di atas, menghadapi fenomena zaman saat ini, semua penduduk bumi punya kesempatan dan andil yang sama untuk berinvestasi dengan daya kreatifnya mencipta kebiasaan baik baru.
Semua orang berbicara bahwa hari ini proses pendidikan anak terkendala, iklim perekonomian terganggu, maka kewajiban semua membangun jembatan yang dapat menghubungkan persoalan tersebut hingga menjadi bukan lagi persoalan. [...]
Semoga menjadi salah satu solusi yang tepat ya pak....
ReplyDeleteAamiin...
Delete