Pandemi dan Revitalisasi Peran Orangtua
Psikolog, Elly Risman Musa (dalam Munif Chatib, 2012:vii) mengatakan, "Kita semua, ternyata tidak siap menjadi orangtua. Kita bersekolah untuk menjadi ahli di bidang masing-masing, tetapi tidak untuk menjadi ayah-ibu. Ilmu dan teknologi berkembang, kita tetap menggunakan 'cara lama' dalam mengasuh anak kita yang kini disebut generasi Z.
Statemen di atas mengingatkan para orangtua, yang dewasa ini mulai lupa akan peran pentingnya dalam mendidik anak. Bisa jadi hari ini banyak orangtua yang lulusan pendidikan tinggi, sudah ahli dalam pelbagai bidang, tapi keahlian sebagai 'ayah-ibu' bagi anak-anaknya malah sering terlupakan. Kebanyakan mereka telah merasa cukup dengan memberi kebutuhan jasmani anak. Merasa telah bebas dari tanggungjawab dengan sudah menitipkan anaknya kepada sekolah dan membiayainya.
Faktanya memang seorang anak rata-rata sejak 0 sampai 18 tahun hidup bersama orang tuanya. Dalam waktu yang panjang tersebut tentunya orangtua mempunyai pengaruh yang besar bagi anak-anaknya. Karena selama itu seorang anak hidupnya bergantung kepada jasa dan perjuangan orangtuanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Lalu, pada suatu waktu tiba-tiba anaknya bermasalah. Sebagian orangtua dan juga masyarakat biasanya mengatakan, "anak-anak ini bermasalah karena terpengaruh lingkungan pergaulan bersama teman-temannya." Pernyataan ini hampir selalu diterima dan menjadi dalil di tengah masyarakat.
Pertanyaannya kemudian, "mengapa anak yang 'bermasalah' ini, lebih terpengaruh oleh temannya dari pada orangtuanya?" Padahal orangtua telah belasan tahun berjuang 'berdarah-darah' dan 'bermandi keringat' demi anak-anaknya? Bukankah dengan jasa yang sebesar itu seharusnya anak lebih mudah terpengaruh oleh orangtuanya, dari pada terpengaruh orang lain? Tapi nyatanya --dalam dalil di atas-- orang lain (teman) yang baru dikenalnya lebih bisa mempengaruhi perilaku mereka, sehingga terjerumus ke jalan yang nista. Ada apakah ini?
Menyikapi persoalan ini, Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhori (2012:xiii) mengatakan, "banyak anak zaman sekarang ini lebih mudah terpengaruh lingkungan pergaulan teman dari pada orang tua karena banyak orangtua menikah, hamil, dan melahirkan anak, tetapi pada dasarnya mereka tidak menjadi orangtua sebenarnya. Mereka memang merawat anak, memberi makan anak, menutupi anaknya dengan baju, tetapi tidak mendidiknya anaknya."
Ihsan menambahkan, "jika hanya sekedar merawat dan memberi makan --maaf kalau terlalu sadis-- apa bedanya dengan hewan? Banyak orangtua yang punya anak, tetapi tidak menjadi 'orangtua' untuk anaknya. Lebih banyak orangtua yang menjadikan anaknya "yatim piatu", padahal secara fisik mereka masih hidup. Andai kata para orangtua memjadi orangtua sebenarnya, yaitu menjadi 'orangtuanya manusia', sungguh tak berpayah-payah seorang anak menghadapi derasnya pengaruh zaman saat ini."
Masa darurat pandemi Covid-19 di mana waktu orangtua membersamai anak melimpah ruah, maka moment ini menjadi kesempatan emas untuk revitalisasi peran orangtua mendidik anak-anaknya. Hal ini harus dimulai dengan menata hati dan emosi. Karena sesuatu yang berangkat dari hatilah yang akan bisa masuk ke dalam hati.
Selayaknya menjadi seorang pilot, dokter, dan guru, semua ada sekolahnya. Supaya ia berhasil dalam menunaikan tugasnya. Demikian juga dengan menjadi 'orangtua', sebenarnya harus ada sekolahnya. Terlebih begitu penting peran dan tanggungjawabnya bagi pembentukan kharakter anak-anaknya.
Bayangkan saja, jika pilot dan dokter tak pernah sekolah, lalu si pilot nekat menerbangkan pesawat, dan si dokter nekat mendiagnosa suatu penyakit, apa yang kira-kira akan terjadi? Demikian juga dengan 'orangtua', perlu ilmu untuk mampu menyelami luasnya dua dimensi seorang anak. Yaitu dimensi jasmani dan ruhani. Sehingga mampu memerankan diri sebagai 'orangtua' yang sebenarnya bagi anak-anaknya.
Untuk menjadi 'orangtua' yang 'benar', sejatinya harus juga diupayakan dengan serius belajar sebagaimana seriusnya belajar untuk menjadi pilot. Jika perlu bersekolah "menjadi orangtua". Berapa banyak orangtua yang mau membaca buku tentang parenting, bertanya kepada ahli pendidikan, psikolog, dan upaya lainnya.
Menjadi orangtua ideal perlu dimulai dari menghadirkan kesadaran akan besarnya amanah dan tanggungjawab. Kesadaran betapa berharganya memberi sentuhan hati untuk mendidik dengan penuh kasih sayang. Memantaskan diri dalam bersikap dan berkebiasaan untuk memberi keteladanan. Mengenali kharakter anak kekinian, dan mengantisipasi berbagai pengaruh/tipu daya zaman. Menyediakan sebagian waktu bersama anak-anaknya, tidak menghabiskan semua waktunya untuk urusan pekerjaan semata.
Suksesnya orangtua termasuk diantaranya jika pengaruh 'positif' terhadap anak-anaknya tak dikalahkan oleh orang lain (temannya), yang hanya beberapa hari saja ia mengenalnya. Orang tua tak kalah dekat dengan alat-alat permainan yang menghabiskan waktu berharganya.
Jika orangtua sukses menjadi 'orangtua' bagi anak-anaknya, maka tempat ibadah dan tempat belajar akan semarak dengan anak-anak. Dan bisa jadi tak perlu lagi ada kampanye anti narkoba, anti candu game, anti bullying, dan semacamnya.
Tetapi sebaliknya, jika masih banyak kenakalan remaja, anak yang nyandu game, narkoba, bullying, malas belajar, malas beribadah, maka yang perlu dikampanyekan adalah, "orangtua harus kembali menjadi 'orangtua' yang mengutamakan mendidik anak-anaknya." [...]
Catatan parenting yg keren....
ReplyDeleteOrang tua sekaligus guru pembimbing
ReplyDelete