Gunawan ; Berguru pada Penulus Ma'arif dan Pergunu
doc.zoom.jagongbuku
Berguru pada Penulis Ma'arif dan Pergunu
Oleh: Gunawan
Hujan masih saja mengguyur. Maklumlah, sudah saatnya memang ia turun. Menyapa setiap penduduk bumi.
Aku membuka aplikasi WhatsApp. Tak sengaja aku melihat status WA salah seorang dosen. Beliau mem-posting perihal sebuah acara. Seputar dunia literasi. "Jagong Buku," demikian tulisan yang tertera di pamflet. Merupakan acara "Bincang-bincang tentang Penerbitan Buku Penulis Ma'arif & Pergunu".
Tak ingin ketinggalan, aku juga ikut meramaikan. Sayang sekali kalau dilewatkan. Apalagi, hal ini berkaitan dengan dunia literasi.
Acara yang diinisiasi oleh LP. Ma'arif Tulungagung dan Pergunu Tulungagung ini menarik. Sebab, narasumbernya ada lima orang. Di mana yang menjadi narasumber utamanya adalah salah satu dosen inspiratif dan produktif yang dimiliki oleh IAIN Tulungagung, yakni Dr. Ngainun Naim.
Acara yang disiarkan langsung via Zoom tersebut dimulai sekitar pukul 20:00 WIB. Bertepatan dengan malam Minggu pula. Nikmat sekali rasanya.
Tentu, ada banyak hal yang aku dapatkan di acara tersebut. Banyak pengetahuan yang aku peroleh. Lebih khusus lagi, pengetahuan seputar dunia literasi dan buku.
Bahwa menulis itu perlu dibiasakan. Agar terbiasa. Agar menjadi budaya. Supaya karya-karya tulis terus bermunculan. Supaya kepingan pengetahuan dan secuil cerita bisa mengabadi, dan juga bisa dinikmati oleh publik--baik untuk saat ini maupun kelak.
Tugas penulis, ya, menulis. Menjadi penulis juga tidak boleh takut. Tak usah takut dikritik. Tak perlu minder bila karyanya dicemooh.
"Jadi penulis, ya, menulis. Jadi penulis itu harus berani," demikian kata Dr. Ngainun Naim dalam pengantarnya.
Ada banyak media yang bisa digunakan untuk menulis. Terlebih, di era teknologi dan media sosial kini. Website atau Blog adalah salah satu media yang bisa digunakan untuk menulis sekaligus menyimpan tulisan. Kata Pak Ngainun Naim, bahwa menulis di Blog itu ibarat menabung. Jika terus diisi atau disimpan, maka tabungan tersebut akan semakin banyak. Menulis satu judul tiap hari, dua bulan menulis bisa menjadi satu buku.
Tentu, apa yang beliau sampaikan tersebut bukanlah sekadar teori yang niraplikasi. Beliau menyampaikan itu atas dasar pengalaman yang beliau jalani selama ini. Sejauh yang aku ketahui, beliau selalu menulis setiap hari. Dan, tulisan-tulisannya tersebut diunggah di Blog pribadinya.
Suprianto, selaku narasumber lain pada saat itu, juga menyumbang argumentasi. Penulis buku "Merenda Asa" tersebut mengatakan bahwa meskipun tidak membaca, semangat menulis harus tetap menyala.
Beberapa narasumber lain juga turut berbagi pengalamannya. Bagaimana mereka bisa sampai menebitkan bukunya, sedikit banyak diceritakan via dunia maya tersebut. Mohamad Ansori hadir dengan bukunya yang bertajuk "Membangun Pembelajaran Inspiratif". Pak Nurhadi muncul dengan bukunya yang berjudul "Melukis Mimpi di Masa Pandemi". Sementara, Ibu Eti Rohmawati hadir dengan bukunya yang diberi titel "New Normal New Hope".
Di sesi tanya jawab juga tidak kalah menarik. Di sesi tersebut, ada beberapa poin penting yang aku catat dari pernyataan Pak Ngainun Naim. Pertama, bahwa yang terberat bagi seorang penulis adalah melawan dirinya sendiri. Terkadang, mengambinghitamkan kesibukan. Kedua, penulis itu tidak akan kehabisan ide. Sebab, di saat tak ada ide sekalipun, itu bisa menjadi ide tulisan. Menuliskan terkait mengapa ide saat itu tidak muncul-muncul.
Waktu terus berputar. Kurang lebih dua jam acara "Jagong Buku" tersebut berlangsung. Tak terasa lama, kendati waktu menunjukkan nyaris tengah malam. Pokoknya menulis, adalah kalimat penutup yang disampaikan oleh Pak Naim. Sebuah kalimat yang "provokatif", berusaha mengajak orang untuk terus dan tetap menulis. []
Wallahu a'lam.
___27/7___

Comments
Post a Comment