Ibu, Sang Keramat Pemegang Kunci Surga

 


Ibu. Sang keramat pemegang kunci surga. Sama sekali tak sulit menemukan alasan mengapa ibu mempunyai predikat begitu istimewa.  Keistimewaan ibu telah dikukuhkan oleh Sang Pencipta, Alloh SWT serta RasulNya. Pun juga tak dibantah oleh manusia apapun kedudukannya. Jika ia (manusia) yang benar kemanusiaannya, pasti akan menjadikan ibu sebagai keramat baginya. 

"Surga itu di bawah telapak kaki ibu." Demikian Nabi menegaskan dalam Hadits nya. Menjelaskan betapa dekat surga dengan sang ibu. Jarak dekatnya seorang ibu dengan surga mudah dipahami jika kita melihat sifat Tuhan yang dititipkan pada seorang ibu, yaitu kasih sayang (ar-Rahiim). Secara jasmaniah hanya ibu yang mempunyai rahim, untuk merawat manusia sejak mula-mula sebelum dilahirkan ke alam dunia. 

Keistimewaan ibu ada pada banyaknya bentuk kasih sayang yang dicurahkan dari jiwa dan raganya. Kasih sayang murni yang menjadi dasar kokohnya lembaga inti dalam masyarakat, yang tak lain adalah sebuah keluarga. Hampir tak terbantahkan, bahwa harmoni kehidupan masyarakat bersumber dari kebaikan dan harmoni yang dicurahkan oleh ibu dalam keluarga. 

Begitu melimpah bentuk-bentuk kasih sayang murni seorang ibu. Yang tiada habis untuk ditulis, tiada bisa untuk dihitung. Yang membuat menangis saat direnungkan. Benar kata ulama sufi,  hanya  yang dari hati, yang dengan mudah dapat merasuk ke hati terdalam. 

Ibu menyayangi buah hatinya melebihi kebutuhan sayangnya pada diri sendiri. Ibu memberi perhatian pada keluarganya melibihi perhatian pada diri pribadinya. 

Saat ia mengandung dan menyusui, yang ia pikirkan dan lakukan adalah, "apakah hal ini dan hal itu baik untuk buah hatinya?" Jika baik ia lakukan, dan jika kurang baik ia hindari walaupun mungkin dirinya sangat menginginkannya. Biasanya ia hobi makan rujak buah yang pedas, begitu mengandung dan menyusui hobinya serta merta berhenti, demi kenyamanan sang buah hati. 

Ibu itu, pikiran dan hatinya dipenuhi gambaran tarian-tarian bahagia anak-anaknya. Mengupayakan segala rupa usaha demi mereka sukses dan bahagia.  Demikian juga dengan do'a-do'anya, sebagian besar bermohon untuk anak dan keluarganya. Bahagianya digadaikan demi kebahagiaan anak-anaknya. 

Adakah yang rela memberikan sesuatu yang terbaik untuk orang lain kecuali ibu? Adakah yang rela kedinginan demi menghangatkan orang lain kecuali ibu? Adakah yang rela menahan lapar demi mendahulukan anaknya kecuali ibu? Pantaslah jika ibu dirindukan oleh surga. 

Malam hari ia berfikir besok apa yang akan dimasak, di pagi yang masih petang ia pergi berbelanja, memasaknya, mencuci piring dan segala peralatan dapurnya. Begitu semua telah siap, dipanggil semua anggota keluarganya untuk segera sarapan. Ia tak kan menyentuhnya sebelum memastikan anak dan suaminya telah makan.  Berpuluh tahun istiadat seperti itu dilakukannya, terkadang sekedar ucapan terimakasihpun tak ia terima. Tak mengapa, ia tak mempermasalahkannya. Bukankah yang demikian ini adalah ciri-ciri penduduk surga?

---------------------

Terjadinya konflik sosial yang melanda suatu negeri adalah pertanda rendahnya nilai kasih sayang antar sesama. Apapun alasannya mencaci-maki, mengolok-olok dan sikap merasa paling baik, ingin menang sendiri adalah bagian dari penyakit sosial. 

Entah apa yang sedang terjadi, akhir-akhir ini sutuasinya makin runyam saja. Di antara mereka yang sedang beradu narasi itu, sebenarnya ada kelompok yang diam dalam dilema. Ingin mereka bicara tapi tak tega ada yang tersakiti karena bicaranya dinilai pro sana dan kontra sini. 

Mereka semua adalah kaum terpelajar, karena itu mereka lihai bernarasi. Mereka semua sering berpidato bahwa media bak pisau bermata dua, bisa memudahkan tapi juga bisa melukai. Maka gunakan untuk kemudahan dan kebaikan hidup. Tapi apa yang mereka contohkan? Benar-benar bermata dua, semua digunakannya untuk menyebar kebencian, berbangga dengan menyakiti sesama. 

Saya terkadang membayangkan, hanya kekuatan kasih ibu yang bisa menghentikan kerumitan di zaman ini.  Jika hubungan antar sesama dibangun kasih sayang laksana ibu dengan anaknya, kiranya tak mungkin ada disharmoni di negeri ini. Semua pasti akan dikomunikasikan dengan santun dan bijaksana, serta menempatkan kasih sayang di atas urusan dan kepentingan apapun.

Mungkinkah, di akhir zaman ini telah terjadi krisis kasih sayang seorang ibu? Entahlah, yang pasti begitu melimpah ruah ibu yang saat ini tak berada di rumah, mewakilkan urusan kodratinya kepada orang lain. 

Pada akhirnya, marilah kita bermohon kepada Alloh SWT semoga ibu-ibu kita yang telah meninggalkan dunia ini, benar-benar berada di surgaNya dalam bahagia. Aamiin.  Dan semoga Alloh SWT memberi kekuatan kepada para ibu untuk terus mencurahkan kasih sayangnya kepada keluarga dan kehidupan ini pada umumnya. Aamiin. [...]

Comments

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia