Pak Udin, Profesional Yang Haus Belajar
Pak Udin, demikian saya dan teman-teman komplek perumahan memanggil namanya. Sebagaimana dulu, tiga tahun yang lalu beliau memperkenalkan diri kepada kami, panggil saja, Udin. Kediaman aslinya Bogor Jawa Barat. Kami tak mengetahui persis alamatnya, yang saya ingat hanya butuh waktu lima belas menit dari rumahnya menuju Taman Safari Bogor yang sangat terkenal itu.
Pak Udin, tiga tahunan ini menjadi warga pendatang di komplek perumahan kami. Perusahaan tempatnya bekerja menugaskannya untuk menjadi manager area toko-toko swalayan di wilayah Jawa Timur, tepatnya Jombang, Kediri, Tulungagung dan Trenggalek. Karena itulah, beliau mengontrak sebuah rumah dekat tempatnya bekerja. Ternyata rumah itu ada di komplek perumahan kami, Perum Jepun Permai 2 (PJP-2).
Awal tahun bekerja, keluarganya (istri dan dua anaknya) diajak serta, hidup di rumah kontrakan. Bahkan salah satu anaknya yang bernama Farez, sempat mengenyam sekolah di TK Cordova Jepun Tulungagung.
Tiga tahun Pak Udin bertetangga dengan kami di perumahan kecil ini. Sikapnya yang pemurah, ramah, sopan serta peduli pada lingkungan membuat kami menaruh hormat padanya. Berbagai kegiatan lingkungan pun juga diikutinya, seperti sholat berjama'ah, ngaji bareng Gus Sauqi, kerja bakti, serta kegiatan bersama lainnya.
Sikapnya yang terbuka (inklusif) dengan warga perumahan menjadikan pak Udin cukup istimewa bagi kami. Tak seperti warga pengontrak biasanya, yang rata-rata menutup diri dari berinteraksi dan bersilaturrahmi dengan para tetangga. Pak Udin sungguh berbeda. Hampir semua warga mengenal namanya. Padahal ada warga yang lebih lama bertempat tinggal di sini, tapi warga lain tak begitu tahu nama terlebih aktifitasnya.
Kemarin, 27/01/2021 seperti biasa sehabis sholat jama'ah maghrib kami duduk-duduk santai di angkringan depan musholla. Beliau menyampaikan warta yang cukup mengejutkan. Dengan nada santunnya, beliau menyampaikan bahwa tanggal 1 Pebruari 2021 (kurang lima hari lagi) ia akan pamit meninggalkan Tulungagung. Kebijakan dari kantor telah memindah tugaskan dirinya di daerah Jombang. "Sekalian saya mohon pamit, mungkin nanti tidak sempat ketemu," demikian beliau berkata sambil berkaca-kaca.
Mendengar ucapan pak Udin saya terdiam sejenak. Mengulang ingat, mungkin dua minggu yang lalu saya pernah bertanya kepadanya, "sudah adakah info tugas pindah wilayah pak Udin?" Beliau menjawab, "belum pak Noer," kalo gitu, "Alhamdulillah," jawab saya. Sejujurnya saya merasa beruntung punya teman seperti pak Udin.
Betul, mungkin belum ada dua minggu pertanyaan itu saya lontarkan. Dan ternyata tiba-tiba saat ini beliau menyampaikan kata pamit. Beberapa waktu yang lalu pak Udin sempat mengungkapkan sebuah pertanyaan yang cukup indah, begini "Jika saya berdo'a meminta kepada Alloh supaya dipindah ke Bogor, apakah do'a saya ini menunjukkan bahwa saya tidak ikhlas ditempatkan di sini?"
Bagi saya pertanyaan ini bukan sembarang pertanyaan. Pak Udin, rupaya sedang menjalankan laku ikhlas, tawakal, dan ridho atas keputusan dan pilihan Tuhan kepadanya. Permintaan dan do'anya sampai-sampai dipikirkan dalam-dalam supaya tidak dituduh tidak ikhlas dan tidak ridho terhadap ketentuan Alloh.
Bekerja jauh dari keluarga bagi orang yang masih muda memang ujian yang tak ringan. Demikian juga yang dirasakan pak Udin dan keluarganya. Tapi keyakinan akan hadirnya hikmah yang indah dari kesabarannya telah menguatkan hati pak Udin untuk tetap bertahan, dan tetap profesional.
Beberapa kali mengobrol dengan pak Udin, beliau mengungkapkan kemungkinan pindah wilayah/kantor. Beliau berharap dapat dipindah ke kotanya, Bogor. Supaya kembali bisa berkumpul bersama keluarganya. Sejak awal masa pandemi Covid keluarganya pulang ke Bogor menunggui orangtuanya yang sedang sakit.
Lama berpisah dengan keluarga membuat pak Udin tak nyaman. Pikirannya terbagi pada memikirkan orangtua yang sedang sakit, anak-anaknya, dan yang paling utama adalah istrinya. Tak kurang sepuluh kali dalam sehari pak Udin menerima telephon dari istrinya. Sekedar ingin mengetahui sedang di mana, mengerjakan apa, bersama siapa. Istri pak Udin sungguh istimewa, perhatian dan kasih sayangnya kepada pak Udin melimpah ruah. Selalu ingin memastikan keadaan sang suami tercinta.
Pak Udin bagi saya adalah tetangga sekaligus teman yang spesial. Semangat belajar dan rasa ingin tahu tentang nilai-nilai agama sangat mengesankan. Beberapa kali meminta waktu saya untuk berdiskusi bersama. Mula-mula beliau mengungkapkan sebuah pertanyaan, melanjutkanya dengan cerita pengalaman hidup, serta harapan-harapannya ke depan.
Sebagaimana manusia pada umumnya. Pak Udin pernah mengalami masa-masa sulit dalam perjalanan hidupnya. Suatu masa yang jika disuruh memilih pasti ia ingin menghindarinya. Termasuk tugas perusahaan saat ini yang menjauhkannya dari keluarga. Dinamika kehidupan yang dilematis ini, coba dilihatnya dengan husnudhon kepada kehendak Tuhan. Sambil menyandarkan diri secara total pada Kuasa dan Kehendak Alloh atas makhluknya, ternyata makin hari Pak Udin makin bisa bersyukur. Menemukan hal-hal indah dan mulia hingga menghiasi langkah demi langkah dan hari demi hari selama menjalani profesinya.
Pak Udin semakin menguat kesadarannya bahwa untuk mampu ingat kepada Alloh, dan mampu beribadah kepadaNya, harus dilatih dan diperjuangkan secara terus menerus. Selama ini hanya pekerjaan yang paling diseriusi pengerjaannya. Selain pekerjaan, urusan lain dilakukannya hanya di sisa-sisa waktu dan sisa-sisa tenaga saja.
Pernah kami guyonan dengan pak Udin, betapa kami mengiyakan, bahwa untuk mengejar karier dunia kita begitu semangatnya sama sekali tak seimbang dengan upaya mengejar nasib akherat. Lelah sedikit saja sudah gagal mendatangi panggilan subuh. Tapi jika pimpinan kita memanggil suatu pagi harus menemuinya di luar kota, subuh kita sudah bergegas tanpa ada perasaan beban dan selalu sumringah melakukannya. Sungguh dan sungguh ironis, bagi hamba yang memimpikan Rahmad Nya.
Tiga hari lagi pak Udin akan pergi, menjalankan tugas baru di tempat yang baru. Yang pasti tak akan ada lagi WA yang semisal kemarin, "Pak Noer di rumahkah, sibukkah? Jika tidak sibuk bolehkah saya bersilaturrahmi?" Silaturrahmi ala pak Udin adalah diskusi tentang spiritualitas. Dan selalu menambah ilmu kami tentang bagaimana sikap hamba terhadap Tuhannya. Karena itu saya selalu menyambutnya dengan senang hati kedatangan pak Udin, bukan saja karena selalu ada sesuatu yang ia bawa untuk anak-anak. Tetapi ketulusannya belajar bersama cukup langka dimiliki oleh seseorang di jaman modern ini.
Rupanya pak Udin punya suatu niatan. Selain mengembaranya untuk bekerja, pulang membawa nafkah untuk keluarga, tapi juga ingin membawa kesan persaudaraan yang sebenarnya. Lebih dari itu pak Udin sedang mempraktikkan konsep dirinya sebagai orang yang tak pernah berhenti belajar.
Selamat menjalankan tugas baru di tempat yang baru untuk pak Udin. Semoga terus sukses dalam karier. Dan semoga pintu-pintu ilmu tetap terbuka untuk kita semua. Aamiin.
Hari-hari di manapun kita berada, ada baiknya mengingat nasehat Umar Bin Khottob ra, "Aku tak peduli apakah hari esok menyenangkan atau tidak menyenangkan bagiku, karena aku tidak tahu mana yang terbaik bagiku (menurut Alloh) di antara keduanya."[...]
Selamat menuju tempat tugas baru pak udin. Ada pertemuan pastinya juga ada perpisahan, bertemu karena Allah, berpisah pun karena Allah
ReplyDeletekeren pak, menginspirasi
ReplyDeleteaku mocone Karo nangis Iki. tumetes eluh neng pipi. tulisane uapik. critone koyo ngremus dodo. pak Udin pak udin. padahal aku mau nunut (numpang) ke Bogor , kok sudah pindahan ....
ReplyDeleteSuperdesti... Nama yg indah...
DeletePesannya saya sampaikan ke hadapan pak Udin
Nanti kapan2 bareng ke bogor pak Des..
Sae sanget pak Nur
ReplyDelete