Ujian Kehidupan Mencerdaskan Hati

 


Lembaran kehidupan di awal tahun 2021 dipenuhi berbagai fenomena alam. Wabah berbahaya Covid-19 yang masih betah singgah di bumi.  Kecelakaan pesawat, bencana banjir, gempa bumi, erupsi gunung berapi, dan tanah longsor turut mengisi halaman kelam awal tahun ini. 

Seorang teman berkata (maaf),  "Sabendino WhatsApp beritane kok kematian" (setiap hari selalu ada berita orang meninggal). Apa yang diungkapkan oleh teman tersebut, seakan mewakili pikiran kebanyakan orang lainnya. 

Memang, kelahiran dan kematian akan selalu terjadi di alam kehidupan dunia. Tetapi bukan itu yang dimaksudkan. Selain saat ini adalah era keterbukaan informasi, hingga semua peristiwa di sudut dunia manapun bisa diberitakan. Sudah menjadi fakta, bahwa akhir-akhir ini, siapupun menjadi rentan dan sangat dekat dengan peristiwa sakit dan bahkan kematian. 

Begitu ada berita bahwa si A telah berpulang ke Sisi Nya, pikiran orang (pembaca/pendengar) langsung mengalir ke sebuah pertanyaan, "Sakit Covid-kah ia?" dan tentu saja jawabannya hanya dua kemungkinan, "iya" dan "tidak".  

Pola pikir yang demikian, saat ini menjadi "umum". Karena setiap waktu, narasi yang selalu dihadirkan ke ruang baca dan ruang dengar masyarakat adalah susah payahnya pemerintah dalam "berperang" melawan bahaya Covid-19. Juga susah payahnya pemerintah mengajak warganya berdisiplin menjaga jarak  (social distancing) untuk menghentikan mata rantai/sebaran virus. 

Seumpama kehidupan ini adalah sebuah kelas belajar, belum tuntas satu soal dikerjakan, soal kedua, ketiga dan keempat pun diberikan. Mau tidak mau, pikiran terkuras untuk menyelesaikan semuanya. Itulah barangkali yang saat ini sedang dihadapi oleh Bangsa ini. 

Bencana alam yang melanda suatu negara, sudah pasti akan diselesaikan tuntas oleh negara, menggunakan segala daya dan perangkatnya. Negara jauh-jauh hari sudah mengantisipasi segala kemungkinan bencana yang terjadi di tanah airnya. Karena tiada negara yang tidak mengenali diri negerinya, baik potensi alam maupun kerawanan yang menyertainya. Luasnya laut, banyaknya gunung berapi, hutan dan gunung-gemunung, pasti mengandung kesuburan, dan keberlimpahan kekayaan. Dan pada saat yang sama juga menyimpan ancaman yang harus dikenali, diwaspadai dan diantisipasi. 

Negara yang tak bertepi laut tak perlu mengantisipasi datangnya sunami. Daerah yang tak punya pegunungan tak perlu mengantisipasi terjadinya tanah longsor, demikian mungkin contoh rasionalnya. Negara melalui aparatur dan perangkatnya, telah memiliki cara bersikap dalam melindungi segenap tumpah darahnya. Hal ini, telah menjadi tanggung jawab Negara atas rakyatnya. 

___________

Dalam konteks ujian kehidupan, setiap manusia yang mendiami semesta ini sejatinya juga sedang berada di kelas belajar. Kelas yang sungguh luas dan besar. Berbagai persoalan pun datang dan pergi silih berganti, mulai lahir dan bahkan sampai akhir hidupnya di dunia ini. 

Sang Pencipta, Pemilik dan Pemelihara jagad raya ini (Alloh SWT), telah memberikan peringatan di dalam QS. Al-Baqoroh:155:156 sebagai berikut, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada mu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan 'innalillahi wa inna ilaihi roji'un' (sesungguhnya kami milik Alloh dan sesunghuhnya kepada Nyalah kami kembali)."

Demikianlah perjalanan hidup dan kehidupan. Manusia telah dibekali oleh Sang Penciptanya untuk menselaraskan diri dengan hukum-hukum alam (Tuhan). Soal telah disiapkan adanya, demikian juga dengan perangkat ilmu untuk menyikapinya. Tak seorangpun yang hadir di kelas semesta ini akan luput dari ujian (soal) kehidupan itu. 

Bagi mereka (orang beriman), Agama yang telah dibawa oleh seorang Rasul (utusan Alloh), telah membawa risalah sebagai bekal perjalanan hidup. Seorang ulama sufi, menasehatkan sebagai berikut,  "Ada tiga hal yang mesti bagi setiap mukmin dalam setiap situasi dan kondosi. Yaitu, 1) perintah yang harus dilaksanakan, 2) larangan yang harus dijauhi dan 3) ketetapan yang harus diterima. Setidaknya, dalam kondisi apapun, seorang mukmin tidak terlepas dari salah satunya. Maka, ia mesti melazimkan hatinya dengan tiga hal tersebut. Membisikkannya pada jiwa, dan menggunakan seluruh anggota tubuh untuk menaatinya dalam setiap kondisi." (Adab-adab perjalanan spiritual Syaikh Abdul Qodir al-Jailani:2008:55-56)

Sembari menapaki perjalanan hidup ini, baiknya kita banyak-banyak bertanya, adakah perintah Nya yang kita abaikan? Atau adakah larangannya yang justru kita langgar? Ataukah kita telah sering lupa bahwa semesta ini ada Dia (Alloh) yang mengatur dan menetapkan segala yang terjadi di dalamnya?

Kepahitan yang terjadi di bumi ini, dan termasuk di Indonesia hari ini adalah ketetapan Tuhan. Bisa jadi, dan tak mengherankan jika situasi problematis saat ini membuat manusia susah, sedih dan  tak enak hatinya. Jika susah dan sedih itu berada di dalam hati (bukan di pikiran), lalu mengapa manusia tidak berupaya bertanya kepada hatinya? Tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan dan dicari oleh manusia? Di sinilah Agama memerankan dirinya.  

Selama ini manusia begitu serius dan bersungguh-sungguh memandaikan otak, tangan, kaki, mata dan telinganya. Tapi bagaimana upaya mencerdaskan hatinya (spiritualitasnya)? 

Sang teladan terbaik umat Islam, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita sebagaimana dalam Haditsnya, "Aku dibuat takut kepada Alloh dengan rasa takut yang tak seorangpun menyamainya, dan aku telah diuji oleh Alloh dengan ujian yang tidak dialami oleh siapapun" (Hadits No 2472 Riwayat turmudzi dalam al-Jami' Ashohih). 

Hadits di atas membisikkan pada hati orang yang beriman, bahwa di dalam ujian yang dihadirkan oleh Alloh SWT sejatinya terdapat Rahmad (kasih sayang) bagi umat yang beriman kepada Nya. Bukankah Nabi Muhammad SAW adalah hamba yang paling dicintai Nya? Tapi mengapa sang kekasih Nya justru diberi ujian hidup yang begitu berat? 

Semakin besar ujian, dan kemudian lulus ..., maka semakin besar pula cinta Nya? ataukah karena ia dicintai maka ia diuji oleh Nya? Wallohu a'lam.

Menghadapi ujian kehidupan, Umar bin Khottob Ra, juga mengajari ilmu kecerdasan hati. Beliau pernah berkata, "Aku tidak peduli dalam keadaan apa aku menjalani hariku, dalam keadaan aku sukai atau tidak aku sukai, karena aku tidak tahu mana yang terbaik bagiku di antara keduanya" ((Adab-adab perjalanan spiritual Syaikh Abdul Qodir al-Jailani:2008:224)

Bagi Umar Ra, hadiah dan ujian kehidupan tak membuat ia senang atau susah. Tapi dekat dan jauhnya ia dengan Sang Maha Penciptalah yang membuat hatinya bahagia dan/atau gundah-gulana.  Bisa jadi saat didera cobaan seseorang menjadi makin dekat dan bersimpuh menghadap Tuhan, dan sebaliknya bisa jadi saat sedang gemulai kebahagiaan ia lupa diri dan Tuhannya. 

Karena itu, dalam situasi dan kondisi apapun, orang beriman yang cerdas hatinya (spiritualitasnya) harus terus memperjuangkan dengan sungguh-sungguh untuk bisa berdekat-dekat dengan Nya. Berupaya selalu mengingat dan menyebut-nyebut Asma-Nya, sembari menggelorakan rasa terimakasih (syukur) betapa Baik Dia (Alloh) kepada  makhluk-makhluk Nya, termasuk kita. [...] 


----seri menasehati diri sendiri---

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia