Mudik Tipis-Tipis
Hari ini (30/01/'21) aku pulang kampung. Semacam mudik tipis-tipis. Saya sebut demikian karena tidak dalam rangka liburan atau perayaan hari raya. Mudik kali ini untuk menghormat kepada keluarga kerabat yang kemarin meninggal dunia, takziyah. Karena itu tidak ada persiapan khusus, dan tak mengajak serta keluarga.
Kebiasaan pulang ke kampung halaman selama pandemi turut menuai paceklik. Tak senyaman dulu sebelum musim pandemi. Saat ini semua orang telah terbangun mindset-nya untuk mengesahkan sikap 'curiga' kepada orang lain. Hal ini dibuktikan pada saat bertemu dengan orang lain (teman, kerabat, saudara) sekedar kebiasaan berjabat tangan saja sering terjadi 'keraguan' dan 'dilema'. Karenanya, beberapa orang menyikapinya dengan ber tos lengan atau mendahuluinya dengan pertanyaan ijin, "salaman apa tidak?" dan semacamnya. Cukup pahit/clekit rasanya ketika kita menjulurkan tangan untuk bersalaman, ternyata ia nya tak berkenan. Untuk hal yang satu ini saya yakin telah banyak korbannya.
Narasi tentang Corona dan berbagai protokol pencegahannya telah mencipta budaya baru (new normal). Kenormalan yang paling terasa adalah keintiman dalam interaksi sosial menjadi terganggu. Social and physical distancing telah menjadi kesepakatan baru. Tak boleh dekat-dekat, pun harus menutup sebagian wajah. Akhirnya banyak kejadian tak mengenali teman sendiri, akibat wajahnya dibungkus masker.
Di acara mudik tipis-tipis kali ini, ada dua hal yang mengusik pikiran saya. Pertama, sehari sebelum berangkat, seorang teman mengeluhkan perihal turunnya harga telor ayam. Mereka sakit hatinya, karena harga telur terjun bebas, sementara harga pakan tak mau peduli keadaan, alias naik terus.
Analisa sederhana menilai aneh jika telor harganya turun, sementara saat ini konsumsi telur masyarakat meningkat. Selain itu juga adanya Program Keluarga Harapan (PKH) yang turut menyerap telur untuk pembagian paket bantuan langsung berupa sembako.
Analisa lebih mendalam dari teman yang lain, katanya, "turunnya harga telur disebabkan serapan pabrik roti yang menurun drastis." Ia menambahkan, "saat ini pabrik roti membatasi produksinya karena mereka memprediksi hari raya tahun ini masih akan diwarnai pengetatan-pengetatan dan social distancing. Tak ada keramaian di hari raya, itu berarti tak akan banyak roti dihidangkan di atas meja." "Oh iya masuk di akal," aku membatin.
Kedua, curhatan kegalauan teman yang seorang petani. Katanya, "Pie iki? ..., harga gabah murah sementara pupuk mahal dan langka. Apa-apa-an ini? protesya!" Tak mengerti soal yang begini-begini, aku pun menjawabnya dengan canda. "Dipupuk pakai srintil (kotoran kambing) saja kang!" Rupaya ia makin panas hatinya dengan jawaban saya itu. Buktinya ia sudah tak sudi bertanya-tanya lagi.
Mereka-mereka yang sedang 'asyik' curhat kegalauannya di atas, sama-sama menuduh bahwa pemerintah 'tidak hadir' membantu menyelesaikan ketidakadilan yang menimpanya. Tapi apalah daya, mereka hanyalah satu dari sekian banyak persoalan yang sedang di dera oleh Bangsa ini.[...]

Nmpamg curhat juga..niki wancine panen, ayam pedaging harganya terjun bebas....menunggu hadirmu..P.joko wi....hehe
ReplyDeleteSiap hadir bu...wkkk
DeleteKulo njih nderek curhat pak Pengawas, "Kapan gaji guru TK naik??" 🤣🤣🤣
ReplyDeleteRencana tdk naik bu... Tapi berubah...wkkk
DeleteJadi curhat tipis tipis saat mudik tipis tipis
ReplyDeleteDompetnya juga pis tipis nda..
DeleteKangen kampung halaman ya pak...
ReplyDelete