Bocil, Dan Kekuatan Sugesti
Bocil, menggemaskan sekali makhluk satu ini. Menyelami pola lakunya, bermacam teori membicarakannya. Bocah kecil yang masih belia usia. Merekalah "subyek" pendidikan yang paling sempurna. Ruang pikiran dan hatinya masih terbuka lebar menerima pengalaman dan informasi baru. Belum terkontaminasi aneka kerumitan kehidupan.
Bocil belum bisa membaca, namun mampu menghafal berbagai lagu dan kalimah do'a. Luar biasa bukan? Karena itulah, keistimewaan masa ini, sayang jika disia-siakan. Lingkungan emas mestinya diciptakan, untuk mensuasanakan milieu terbaik, yang sudah pasti akan terekam dalam kertas putihnya. Sayang, kesadaran tentang hal ini masih minim.
Bocil hari ini larut dalam lembah gelap budaya modern. Mata dan telinganya telah meraih apapun. Permainannya bukan lagi yang mendung gizi hati, sebagaimana bocil jaman dahulu yang bersama teman-temannya membuat sendiri permainan yang mereka senangi. Hari ini pasar gelap telah menyediakan semuanya. Disuguhkan, dekat dan lekat dalam genggaman. Memancing tak lagi pergi ke kali, bermain bola tak pergi ke lapangan. Semua, berjenis jenis macamnya ada dalam genggaman. Mereka terbiasa menyenangi imitasi dan kepalsuan. Bermain bola tapi dalam duduk dan berbaring tanpa kawan bermain, membangun rumah tanpa memegang alat pertukangan. Tak ada setetes pun keringat keluar dari tubuh. Itulah dunia generasi Z, dunia game.
Sementara itu, ruang kosong yang dimiliki Bocil menunggu hadirnya sugesti positif nan indah yang membawanya kaya akan ilmu dan pengetahuan. Yang membuat mereka melonjak dan berkata, "oh ternyata ..., " sebuah ekspresi saat ia baru saja memeroleh hal baru melengkapi rasa ingin tahunya. Jika pengetahuan barunya itu ia peroleh dari orang yang ia hormati maka pengetahuan itu akan ia kunci dalam jiwanya. Karena itu kita sering menemukan si Bocil berkata, "tidak begitu, tapi katanya guruku begini ..., " begitulah ia membela pengetahuannya.
Ada sebuah cerita sederhana tentang Bocil dan sebuah sugesti. Si Bocil sedang malas makan, ibunya gagal menyuapinya, karena lauknya hanya tempe. Selama ini ia memahami tempe, ya, ... begitu itu rasanya, tak segurih daging ayam dan telor ceplok.
Beberapa saat kemudian si Ayah datang dan bertanya, "sudah makan nak?" Ia menjawab dengan nada remeh, "ndak mau makan, lauknya cuma tempe." Malam itu persediaan telor ternyata habis, hanya tersedia masakan tempe bacem.
Di dekat si Bocil yang sedang bermain hp, sang Ayah mencoba memainkan sugesti. Ayah memulai cerita, " tahukah kamu, baru saja didirikan sebuah pabrik Indonesia di negara China. Pabrik apakah? Pabrik pembuat tempe. Mengapa pabrik tempe didirikan di Negara China? Karena tempe itu makanan yang nikmat, bergizi dan menyehatkan. Orang Indonesia patut berbangga karena biasa makan tempe."
Si Bocil ternganga, otaknya kemasukan informasi baru perihal keistemewaan tempe. Ternyata tempe itu makanan yang enak dan istimewa. "Orang China berkulit putih dan kaya-kaya saja menyukai tempe. Berarti tempe bukan makanan biasa." Begitu mungkin isi pikiran baru si Bocil.
Sesendok nasi dan secuil tempe bacem didekatkan ke mulut Bocil, yang dari tadi dikunci rapat tak mau mencicipi nasi lauk tempe tersebut. Kali ini si Bocil mau membuka mulutnya. Sambil mengunyah, pikirannya ke mana-mana. Membayangkan orang China yang juga suka makan tempe. Sampai-sampai ingin di negeranya ada pabrik tempenya. "Tempe benar-benar makanan istimewa pikirnya."
Sugesti tentang betapa istimewanya tempe, membuat pikiran "buruk" Bocil tentang tempe berubah. Selama ini tempe tak masuk nominasi sebagai jenis makanan yang ia sukai. Kini ia tahu, tempe itu ternyata makanan yang mewah dan bahkan disukai orang luar negeri.
Tak terasa sepiring nasi lauk sepotong tempe bacem habis dimakan dengan lahapnya. Sugesti positif tentang tempe telah merasuk ke pikirannya, pikiran memerintahkan indra perasanya (lidah) untuk menerima tempe sebagai makanan lezat. Pikirannya terbangun keyakinan baru bahwa tempe kaya manfaat.
Kisah sederhana ini mengingatkan pentingnya mendahului pembelajaran dengan kegiatan apersepsi. Yaitu kegiatan pendahuluan untuk membuka kesiapan mental dan pikiran peserta didik. Mengkoneksikan fakta-fakta, pengetahuan-pengetahuan awal dengan materi ajar yang akan dipelajari. Sehingga hadir rasa butuh (tersugesti) untuk memahami materi yang akan dipelajari tersebut.
Kegagalan pertama pembelajaran adalah tiadanya sugesti karena proses apersepsi urung dilaksanakan. Mungkin sang guru lupa bahwa alam pikiran murid dan sang guru berbeda. Guru lupa bahwa mereka belum butuh, dan perlu proses penyadaran supaya muncul rasa butuh. Mereka perlu tahu apa pentingnya ini dan itu buatku? Sebagaimana cerita Bocil di atas, ia perlu tahu apa istimewanya tempe. Dan apersepsi telah berhasil mensugestinya, hingga menerima kehadiran tempe ke dalam mulutnya.
Sama halnya dengan tempe, perlu sebuah alasan supaya materi pelajaran disambut positif kehadirannya. Sampai mereka merasa, "ini baik untukku, ini yang kubutuhkan. Aku senang memakan ini, aku senang telah memahami pelajaran ini." Maka, dari situlah mula-mula tujuan belajar yang berupa "perubahan perilaku" itu terjadi. [...]
Tempe goreng kelangenan kulo pak nur..
ReplyDeleteTempe dibacem tambah yahut p pri..
Delete