Berteman Dengan Buku
Kisah ini tentang seorang teman. Seorang yang sangat saya kagumi semenjak ku mengenalnya saat kuliah. Sudah cukup lama, mungkin dua puluh lima tahun yang lalu. Hal yang saya kagumi darinya adalah sikapnya yang sederhana, rendah hati dan kecintaannya dalam membaca buku.
Masih lekat dalam ingatanku betapa ia dan buku punya ikatan yang tak terpisahkan. Aku selalu mengamati gerak geriknya. Kebiasaannya bermesra dengan buku sungguh patut ditiru. Buku adalah kekasihnya. Jarang ketemukan ia jauh dari sang kekasihnya itu.
Kan ku ceritakan kepada Mu kawan, bagaimana temanku itu menjalin kasih dengan buku;
Berteman dengan buku
Jarang ku melihatnya tak berkalung tas kecil, saat ia pergi ke manapun. Tas kecil yang selalu melekat di tubuhnya menjadi ciri khasnya. Tas nya ya, itu-itu saja. Tas yang selalu berisi buku di dalamnya. Sebelum berangkat pergi, ia selalu mengisikan sebuah buku ke dalam tasnya. Bisa dikatakan hidupnya berteman dengan buku. Ada yang kurang rasanya jika keluar rumah tidak membawa serta minimal satu buku. Walaupun buku tersebut belum tentu sempat untuk dibaca. Alasan utama dari kebiasaanya ini adalah "andai di suatu waktu ada jeda aktifitas, misalnya menunggu, mengantri dan waktu luang yang lain, maka di situlah si buku tersebut dibaca."
Jarang ku melihatnya tak berkalung tas kecil, saat ia pergi ke manapun. Tas kecil yang selalu melekat di tubuhnya menjadi ciri khasnya. Tas nya ya, itu-itu saja. Tas yang selalu berisi buku di dalamnya. Sebelum berangkat pergi, ia selalu mengisikan sebuah buku ke dalam tasnya. Bisa dikatakan hidupnya berteman dengan buku. Ada yang kurang rasanya jika keluar rumah tidak membawa serta minimal satu buku. Walaupun buku tersebut belum tentu sempat untuk dibaca. Alasan utama dari kebiasaanya ini adalah "andai di suatu waktu ada jeda aktifitas, misalnya menunggu, mengantri dan waktu luang yang lain, maka di situlah si buku tersebut dibaca."
Tidur bersama sang kekasih
Dalam sehari, kita beraktifitas di berbagai tempat. Selain tempat kerja, biasanya waktu paling lama yang kita tempati adalah tempat tidur. Bagi beberapa orang tempat tidur tak hanya digunakan untuk tidur semata. Adakalanya sudah waktunya tidur tapi rasa kantuk belum datang.
Dalam sehari, kita beraktifitas di berbagai tempat. Selain tempat kerja, biasanya waktu paling lama yang kita tempati adalah tempat tidur. Bagi beberapa orang tempat tidur tak hanya digunakan untuk tidur semata. Adakalanya sudah waktunya tidur tapi rasa kantuk belum datang.
Bagi pecinta membaca buku biasanya waktu seperti itu digunakan untuk membaca buku sambil rebahan. Hingga tertidur dengan sendirinya. Karena itulah selain bantal dan guling, ada setumpuk buku-buku pilihan yang ada di tempat tidurnya. Maka jadilah ia tidur bersama kekasihnya, buku.
Dirundung kesedihan
Temanku yang menjalin kasih dengan buku ini, juga pernah dirundung kegalauan. Kesediahan itu disebabkan karena saat ada pameran buku murah di kotanya, kantongya tak mendukung untuk berkunjung ke pameran buku tersebut.
Kegalauan juga menyerangnya ketika melewati sebuah toko dan tak kuasa untuk mampir di sana. Lagi-lagi karena isi dompet yang tidak berpihak. Ia hanya bisa membayangkan betapa buku-buku baru itu berjajar rapi di sana.
Lagi-lagi temanku ini dirundung sedih, saat teringat sebuah buku yang dulu pernah dibaca, dan ingin membacanya lagi tapi buku tersebut entah di mana rimbanya. Sebenarya buku tersebut tidaklah hilang, tetapi antara yang peminjam dan yang dipinjam sama-sama amnesia, alias lupa.
Menghibur diri dengan membaca
Temanku satu ini memang tak seperti kebanyakan orang. Ia tak hobi pergi dan menghabiskan waktu di tempat wisata. Menurutnya begitu banyak waktu terbuang, pulang ke rumah badan kelelahan. Padahal namanya refresing tapi dapatnya kok lelah? Begitulah ia beralasan. Dan sudah dapat diduga, ia lebih memilih berdiam diri di kamar untuk membaca buku sepuas-puasnya. Baginya bersantai sambil membaca buku adalah hiburan yang paling meghibur.
Buku adalah obat
Temanku ini pernah bercerita dengan sangat emosional. Konon sekian tahun yang lalu mendapatkan ujian dan cobaan hidup yang berat. Akibatnya bermalam-malam ia tidak bisa tidur. Sampai-sampai kesehatan mental dan fisiknya terganggu. Saat tengah malam, ia mendekati lemari bukunya. Membaca satu per satu judul dari ratusan buku yang tertata di lemari tersebut. Ditemukan sebuah buku yang telah dibelinya dulu di sebuuah bazar buku. Buku tersebut berjudul "Raihlah Hakekat Jangan Abaikan Syari'at, Adab-adab Perjalanan Spiritual Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani."
Buku tersebut sejak dibelinya setahun yang lalu belum pernah dibacanya. Setelah membaca buku ini beberapa halaman saja terjadi sebuah keajaiban, ia langsung tertidur pulas, seperti orang yang baru saja minum obat dari dokter. Dalam dadanya yang panas seakan tersiram air dari langit, tubuhnya yang dingin seakan berselimut hangat. Pikirannya yang beku, telah mencair. Jalan yang awalnya gelap, berubah terang benderang. Buku telah menyembuhkan luka hatinya.
Rupanya buku ini, berisi tentang nasehat-nasehat hati dari seorang waliyulloh. Hati dan jiwa yang berhari-hari terbakar, karena tidak ridho atas keadaan yang tidak diinginanya, terpadamkan oleh pesan-pesan tasawuf. Pesan yang dipancarkan oleh kalimah-kalimah spiritual dalam buku tersebut. Jadilah buku itu sebagai obat yang menyembuhkan panasnya api amarah yang berkobar-kobar di dalam dada.
Begitulah secuil kisah dari temanku si pecinta buku ini. Ia lebih menyukai sulit tidur dari pada gampang mengantuk. Tapi nasib berkata lain, ia begitu gampang terserang kantuk saat matanya manatap barisan-barisan tulisan. Kesedihanlah, yang mampu menghalau serangan kantuknya. Tapi tamu yang satu ini tak usahlah kau datang, karena temanku tak menghendakinya.[...]
Inspiratif p. Nur
ReplyDeleteSelamat mnjdi juara bu kom..
DeleteTerimakasih atas Cerman_nya... Sangat inspiratif, semoga teman itu sehat2 selalu...
ReplyDeleteAamiin...
DeleteBagaimana khabarnya beliau sekarang pak? Sosok yang inspiratif
ReplyDeleteAlhamdulillah...insyaa Alloh bliau sehat Ustadz...
Delete