Menulis, Memusiumkan Kata
Masih tentang spirit dalam berliterasi, menulis. Urusan satu ini bagi pemula seperti saya, butuh beribu motivasi yang secara bertubi-tubi harus dihadirkan ke dalam jiwa yang lemah ini. Karena merutinkan menulis menjadi sebuah kebiasaan harian (habituasi), rasanya masih begitu berat. Pasang surut, dan masih banyak surutnya.
Tak kurang-kurang saya mencatat quotes dari para motivator dan narasumber menulis. Mereka yang sudah berhasil melahirkan banyak karya, di berbagai kesempatan selalu bersusah payah meyakin-yakinkan para pemula untuk berangkat menulis. Mereka mengatakan bahwa menulis itu benar-benar mudah, semua orang bisa menulis. Menulis juga mendatangkan keajaiban-keajaiban dalam hidup. Tidak ada penulis yang mula-mula menulis, tulisannya langsung bagus. Tulisan bagus adalah bonus dari kebiasaan. Itulah sebagian dari berpuluh-puluh qoutes motivasi menulis yang pernah saya dengar dan catat.
Ketika sebuah keterampilan tertentu telah dimiliki oleh seseorang, maka kemudian apakah keterampilan itu digunakan atau tidak digunakan akan sangat dipengaruhi oleh motivasi, niat, dan spirit. Yakni, sejauh mana jiwa kita terdorong untuk melakukan sesuatu yang sejatinya kita bisa lakukan. Jika niat dan motivasi itu benar-benar kuat, maka yang terjadi kemudian adalah menempatkan sesuatu itu, sebagai prioritas aktivitas. Demikian juga dengan menulis. Sangat dipengaruhi oleh kekuatan psikologis berupa niat dan motivasi tersebut.
Melihat tulisan demi tulisan dari teman, sesama bloger pemula, muncul rasa salut yang luar biasa. Pasti proses menulis tersebut telah mengalahkan pertarungan diantara berbagai aktifitas yang menyibukkannya. Dan nyatanya mereka mampu memenangkan, dengan terbitnya tulisan demi tulisan. Saya meyakini bahwa spirit seperti itulah diantara kunci-kunci sukses menjadi seorang penulis yang hebat di kemudian hari.
Kawan, pernahkah Anda mendengar istilah, "Musium Kata?" Iya kan ..., pasti Anda teringat; Andrea Hirata, Laskar Pelangi dan Bangka Belitung. Memang benar, Museum Kata adalah sebuah Musium Sastra yang didirikan oleh Andrea Hirata pada November 2012, di Belitung Timur. Musium ini didirikan untuk menginspirasi generasi muda Indonesia agar berani bermimpi sesuai semangat Laskar Pelangi. Pemilihan nama "Musium Kata" oleh Sang Penulis Fenomenal ini, juga menyiratkan bahwa dari sebuah "kata" yang dirangkai-rangkai menjadi cerita novel, mampu mengguncang dunia. Apresiasi tingkat Nasional dan Internasional pun diraihnya. Dan lebih dari itu, pesan moral dari karya "kata" Andrea Hirata ini telah menjadi inspirasi positif bagi jutaan orang.
Meresapi istilah "Musium Kata" dari Andrea Hirata, rasanya saya mendapatkan 'sengatan' baru dalam belajar menulis. Dengan membaca dan merenungi beberapa tulisan ala kadarnya, yang saya tulis tiga bulan yang lalu di blog, memunculkan sebuah perasaan tertentu. Perasan diri ini ada; sedang berfikir, tersenyum, menangis, lugu, bodoh, mengalami dan hadir di suasana itu. Suasana yang andai tulisan itu tidak ada, maka keistimewaan hidup tiga bulan yang lalu itu tak ada bekas dan jejaknya. Padahal tulisan-tulisan itu baru tiga bulan saja saya tulis. Maka saya membayangkan bagaimana rasanya jika sekian puluh tahun yang akan datang kita membaca tulisan-tulisan kita tempo dulu. Pasti sensasinya akan jauh berbeda karena situasi yang telah jauh berubah.
Benar sekali, dengan menulis apapun; baik pengalaman hidup, gagasan, bahkan cerita fiksi sekalipun, sebenarnya kita sedang memusiumkan kata. Dan "kata" kita hari kemarin, atau hari ini, sungguh akan menjadi "sesuatu" jika kita kunjungi dan baca-baca lagi di kemudian hari.
Kawan ..., ajaklah aku bersamamu menjadi sesuatu, dengan menulis. [...]
Cakep pak nur....
ReplyDeleteKang kulo rasani di tulisan tsb..panjenengan pak Pri..
Delete