Sambal Dan Managemen Rasa

 

Manusia adalah makhluk yang hidup dalam ruang dan waktu. Dalam rentang hidupnya, berbagai hal dilakukan manusia. Bermodal keunggulan akal pikiran dan daya kreatif anugerah dari Tuhan, manusia terus mencipta. Membangun peradapan yang terus berkembang dari zaman ke zaman.  

Hasil kreatifitas manusia terus hadir mewarnai kehidupan, melukis sejarah peradaban. Ketika seseorang berhasil mencipta sesuatu yang berguna bagi diri, sesama dan alam semesta, maka ia telah membuktikan bagian penting dari eksistensi hidupnya. 

Kreatifitas demi kreatifitas dalam berbagai bidang selalu hadir sepanjang perjalanan kehidupan manusia. Satu sisi memudahkan, tapi sisi yang lain mengandung resiko-resiko kehidupan. Yakni, jika suatu upaya menggapai kemudahan dilakukan dengan pemerkosaan  terhadap hukum alam. Membakar hutan demi memudahkan proses menanam, mengebom laut demi memanen ikan adalah contohnya kreatifitas yang menciderai ekosistem kehidupan. 

Jika ingin memasuki dunia kreatifitas dan dunia orang kreatif, maka kita harus menerima hakekat yang menegaskan bahwa dunia dan hidup ini merupakan sesuatu yang misterius. Cobalah kita melihat alam batin kita, kadang senang dan bahagia, pada saat yang lain sedih dan susah mendera. 

Lihat juga bagaimana manusia mempunyai beragam selera, selera memilih warna, selera memilih makanan, dan seterusnya. Manusia juga mempunyai beragama impian, kesenangan dan cita-cita. Bermacam suasana ini menunjukkan bahwa manusia dituntut untuk kreatif, termasuk kreatif dalam mengelola (memanagemen) rasa. 

Jika seseorang berhasil mengelola beraneka perasaan yang datang silih berganti menyertai perjalaman dan cerita hidupnya, maka kepahitan hidup sekalipun bisa terasa manis. Sebaliknya kesuksesanpun belum tentu berujung kebahagiaan jika tak benar dalam mengelola sikap batin. 

Perjalanan hidup manusia sungguh misterius. Karana butuhnya manusia bukan sekedar kenyang perutnya, sebagaimana makhluk yang lain. Hal inilah yang membuat urusan hidup manusia begitu kompleks. 

Manusia butuh cukup timbunan makanan, sandang, dan tempat tinggal yang nyaman. Jikapun tiga hal tersebut telah tersedia, ternyata belum juga paripurna dan lunas keinginannya. Alam batin manusia masih membutuhkan rasa aman, nyaman, senang dan bahagia serta masih banyak lagi. Yang berhubungan dengan manusia lain seperti ingin dihargai, ingin dihormati dan semacamnya. 

Rupanya keistimewaan akal dan pikiran yang diberikan Tuhan pada manusia sejalan dengan kompleksitas tugas dan impian manusia di tengah semesta ini. Manusia bermodal akal yang dimilikinya mesti menjadi makhluk yang kreatif.  

Di tangan manusia kreatif, apapun yang ada dan hadir di alam semesta ini didayagunakan untuk kepentingan hidup manusia. Apapun di alam ini, bagi manusia adalah sarana untuk memudahkan, mengenakkan dan membahagiakan. 

Karena daya kreatif manusia, gelapnya malam, dirubah menjadi terang, jarak yang jauh menjadi dekat, bahkan tingginya langit dan dalamnya samudrapun sukses di jelajahi. Pisiknya memang lemah dan ringkih tapi dengan akalnya, manusia bisa melakukan apa saja. 

Selera lidah manusiapun terlayani dengan sempurna. Lihatlah jenis kreasi minuman tak terhitung jumlahnya demikian pula jenis makanan. Semua merupakan produk kreatifitas, beribu jenis makanan dan minuman beribu pula pabrik dan penjual yang memasarkannya. Kreatifitas manusia telah nyata menggerakkan roda kehidupan.

Tak usah jauh-jauh, bicara soal sambal saja tak ada habisnya; jenisnya, rasanya, aromanya, serta makanan gandengannya, beraneka rupa. Sambal adalah produk kreatif hasil dari managemen rasa. Cabai yang pada dasarnya berasa pedas menyiksa disinergikan dengan berbagai rasa lainnya yang berbeda. Berpadu menjadi satu, berubah wujud dan terciptalah suatu rasa baru yang unik dan sungguh nikmat. Dan lebih dari itu, ada makanan tertentu yang jika tiada kehadiran sambal tak sumpurna nikmatnya. 

Begitulah, dari pedas yang menyiksa, dimanage sedemikian rupa terwujudlah rasa baru yang luar biasa nikmatnya. Banyak oramg membicarakannya,  mencariembuat banyak orang dari berbagai penjuru datang untuk ikut menikmati.

Filosofi sebuah olahan sambal tak ubahnya rasa batin manusia. Kepahitan batin, jika ia berdiri sendiri tumbuh dalam hati seseorang pasti akan menjadi sesuatu yang menyiksa dan menyikitkan. Tetapi jika suatu kepahitan batin di sikapi dengan mengolah rasa (managemen qolbu) secara baik dan benar, tiada sakit dirasa karena semua yang terjadi di pada diri manusia yang lemah ini, baik dan buruk, senang dan susah semua adalalah Kehendak Nya. Kehendak Dia Yang Maha Baik. Tiada sikap bagi seorang hamba kecuali Sabar, syukur dan Ridho terhadap seluruh Ketentuan Nya.  

Jangan biarkan pedasnya cabe menguasai seisi mulutmu, demikian juga jangan biarkan  kepedihan menguasai seisi hatimu. Kelolalah dengan kreatif, pedas dan kepedihan itu, sehingga dari pedas berubah menjadi kenikmatan baru, dan dari kepedihan menjadi kebahagiaan baru. 

Nikmatnya sambal bisa dibuat sesuai selera, demikian juga dengan bahagia, bisa dihadirkan kapanpun saatnya.[...]


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia