Sebentuk Cinta Di Antara Angin, Laut dan Ayah Bunda


Sebentuk Cinta Di Antara Angin, Laut dan Ayah Bunda

           Maula Izza Nur Azizi, biasa dipanggil Momo. Si kecil, yang rambutnya bergelombang ini, tahun ini masuk kelas 1 SD. Ia tinggal bersama keluarganya di komplek perumahan, di sebuah kota kecil. Perumahan itu tak punya lapangan untuk tempat bermain. Anak-anak perumahan menjadikan jalan dan gang-gang kecil sebagai tempat bermain. Momo dan teman-temannya beberapa kali main layang-layang, tapi gagal terbang karena nyangkut di kabel listrik dan rumah tetangga.

Betapa senangnya Momo. Ayahnya yang jarang libur, hari itu mengajaknya berlibur lima hari ke rumah si-mbah di kampung beserta keluarga. Momo naik motor di pangkuan ayahnya. Sedangkan bunda Momo naik motor bersama kak Nayla.

“Yah, Yah ... Itu ada banyak gapangan di sana, di atas motor yang sedang melaju, tiba-tiba Momo menunjuk-nunjuk ke atas, ada banyak layang-layang beradu ketinggian. 

Ayah Momo melirik ke atas sebelah kanan. “Oh iya Mo, itu di atas kali Ngrowo, biasanya di sana banyak anak-anak main layang-layang, jelas ayah Momo sambil menyetir motornya.

“Yah,  kapan to aku main layang-layang bisa tinggi seperti itu, momo curhat kepada ayahnya.

Momo punya dua layang-layang, tapi selalu gagal menerbangkannya di perumahan. Karena perumahannya tidak tersedia lapangan untuk bermain. Bermain layang-layang di jalan perumahan berakibat fatal. Layang-layangnya selalu nyangkut di kabel dan terkadang nyangkut di gentingnya tetangga.

Merasa kasihan mendengar curhatan Momo, ayah Momo bilang,” Kamu berdoa-o Mo! Moga-moga di Munjungan nanti ada toko yang menjual layang-layang. Nanti kita beli.”

“Siap yah ....

Momo merasa senang ayahnya menjanjikan akan akan membelikan layang-layang.

Dua motor yang dikendarai Momo beserta ayahnya, dan bunda bersama kak Nayla melaju naik turun menyusuri gunung-gemunung menuju sebuah kampung di tepi pantai Selatan. 

Sepanjang jalan momo berdo’a dan membayangkan ada nanti di jalan dekat pasar Munjungan ada layang-layang yang bergantungan di depan toko. Sesampai di jalan raya dekat pasar, tiba-tiba Momo berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke suatu toko“Yah, Yah, Yah... itu ada layang-layang di toko sana!” seru Momo.

Ayah Momo serta-merta membelokkan sepeda motornya ke seberang jalan. “Do’a mu terkabul Mo, do’a nya anak sholih selalu dikabulkan Alloh ya Mo ..., bisik ayah Momo sambil membantu Momo turun dari motor.

“Ya iya lah, Yah, ... hu hui ... beli layangan, beli layangan.”

Momo girang bukan main, sampai lupa belum melepas helmnya saat masuk ke dalam toko. Sebuah layang-layang berwarna merah bergambar spiderman berhasil dibeli beserta senarnya. 

Keesokan harinya Momo bangun pagi-pagi tak seperti biasanya. Momo bangun tidur sendiri dan mencari ayahnya yang sedang olahraga pagi di depan rumah.

“Yah, kok belum ada angin?”

“Ya belum Mo, anginnya kalo pagi gini ya belum bangun tidur.” canda ayah Momo sambil berlari-lari kecil.

“Di pantai sana Mo, selalu ada anginnya!” Mbah Uti nimbrung dari dalam rumah.

“Lo ... iya to, Yah?” tanya Momo penuh penasaran.

Mungkin iya, makanya kamu segera mandi dan sarapan! Nanti kita ke pantai main layang-layang,” seru ayah Momo sambil melanjutkan senam pagi.

Mendengar penjelasan ayahnya Momo segera melompat, menuju  kamar mandi. Selesai mandi, bunda Momo telah siap dengan sepiring nasi dan telor ceplok kesukaan Momo.  Tanpa perlu diminta, bunda selalu tahu yang terbaik untuk anaknya.

Setengah jam kemudian Momo dan ayahnya telah sampai di tepi pantai Blado. Momo memegangi layangannya dan ayah Momo menarik senarnya. Sungguh pilihan yang tepat. Layang-layang Spiderman melesat ke udara berdansa-dansi mengikuti embusan angin laut.

Momo sangat menikmati suasana pantai di pagi hari dengan angin sepoi-sepoi yang masih sejuk. Deburan ombak laut Selatan yang tanpa lelah naik turun menyapu hamparan pasir putih nan luas. Sesekali Momo berlari menghindari gulungan ombak yang seakan ingin menerjang kakinya. Layang-layang menari-nari di udara dengan gembira. Kadang berputar ke kiri dan ke kanan saat tiba-tiba embusan anginnya menguat.

“Yah Yah Yah, toloong!” Momo berteriak histeris saat layang-layang oleng ke kiri dan nyangkut di nyiur kelapa yang cukup tinggi. Melihat kejadian itu, ayah Momo terdiam dan tak berucap sepatah katapun. Ayah Momo melongo sambil kedua tangannya memegangi kepala.

“Yah! Akankah, layangan-ku berakhir sampai di sini?” Momo menarik nafas panjang, dadanya bergemuruh. Sedih tak terkira. 

Ketika sedang senang-senangnya tiba-tiba layang-layang kesayangannya nyangkut dan terdampar di atas pohon kelapa. Ayah Momo merasa sangat kasihan pada Momo yang terus memandangi layang-layangnya kopat-kapit di atas pohon itu.

“Gimana, Yah, nasib layanganku?” Momo memelas.

Bismillah, Ayah akan mengambilnya, Mo,” ujar ayah Momo meyakinkan. 

Ayah Momo mencoba menghibur, supaya Momo tidak larut dalam kesedihan.

Mendengar kata-kata ayahnya yang akan mengambil layang-layang di ketinggian itu, Momo seakan tak percaya. Karena pohonnya cukup tinggi dan setahu Momo ayahnya tidak bisa memanjat. Belum pernah selama ini Momo melihat ayahnya memanjat pohon.

Momo masih murung dan sedih, belum percaya apa yang akan dilakukan oleh ayahnya. Rasanya tak mungkin ayahnya mampu mengambil layangannya. Kalaupun bisa memanjat bagaimana bisa meraih layangan yang ada di pucuk daun kelapa. Tak mungkin, dan pasti gagal. “Tamatlah riwayat layang-layang Spiderman-ku.” Itulah yang memenuhi pikiran Momo. 

“Mo, pegang ini!” ayah Momo mencopot celana panjangnya seraya mengambil HP di saku celana untuk dipegangi oleh Momo.

Ayah Momo memanjat pohon sambil membawa sebuah ranting bambu. Satu demi satu, langkah demi langkah dan sampailah ayah Momo di tengah perjalanan menuju puncak pohon. Kaki ayah Momo gemetar, napasnya ngos-ngosan, tangannya sekuat tenaga merangkul pohon kelapa yang keras dan kasar.

Percobaan pertama berakhir kegagalan. Sang ayah kembali turun dari pohon karena ranting yang dibawa kurang panjang. Momo memberikan satu ranting lagi untuk disambungkan. Ayah Momo menyambung dua ranting itu dengan tali seadanya.

Kemudian percobaan kedua dimulai. Ayah Momo naik lagi memanjat pohon kelapa dengan sisa-sisa tenaganya.

“Yah, dikit lagi, Yah, dikit lagi!” teriak Momo memberikan semangat kepada sang ayah.

Dan kerjasama sang ayah bersama Momo pun berhasil. Layang-layang kembali ke tangan Momo dengan selamat. Tak bisa dibayangkan senangnya hati Si Momo. Bisa menerbangkan layang-layangnya kembali.

“Yah, ternyata ayah kok bisa ya mengambil layang-layangku di sana tadi.” Momo kali ini benar-benar bangga pada ayahnya.

Momo menyesal meragukan keseriusan perjuangan ayahnya dalam memenuhi keinginannya. Kali ini keraguan itu terjawab lunas. Kejadian ini membuat Momo tak ragu bahwa ternyata ayahnya sungguh mencintainya. Momo makin merasa terharu dan bangga, saat ayahnya memperlihatkan lengan tangannya terluka, tergores keras dan kasarnya kulit pohon kelapa saat berjuang memanjat pohon tersebut.

Sang ayah lupa rasa perih di tangannya, saat si Momo mengatakan “Terimakasih ya, Yah ... sudah berhasil menyelamatkan layang-layang spidermanku. Dan maafkan Momo, tadi tidak percaya ayah bisa naik pohon kelapa itu.”

Momo kembali melanjutkan menerbangkan layang-layangnya. Pandangannya terbagi dua. Selain mencermati gerakan layang-layang, Momo juga mewaspadai kedatangan ombak di belakangnya. Hati Momo berdebar-debar antara suka cita dan rasa was-was.

Terik matahari yang semakin menyengat dan perjuangan menyelamatkan layang-layang membuat tenggorokannya kering. Momo kehausan. 

Momo terkejut, ketika menoleh ke sebuah gazebo di sebalah kanannya Sang Bunda telah berdiri tersenyum bangga kepadanya. Bunda Momo menunjukkan sebuah kantong kresek berisi minuman dan aneka jajan.

Amboi .... Momo senang tak terperi. Sungguh hari yang istimewa untuk Momo. Angin telah membantunya menerbangkan layang-layangnya. Laut menyemangati tiada henti. Sang ayah rela berdarah-darah demi senyum anaknya. Dan sang bunda selalu tahu apa-apa yang anaknya mau. [...]




Comments

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia