Keping-Keping Bahagia



Hanya Dia Sutradara terbaik di atas semua sutradara. Adakah tertulis takdir pertemuan itu?  Rasanya tidak mungkin, itulah yang memenuhi pikiranku. Walaupun harapan untuk bisa berjumpa dengannya sebesar dunia. Cukup semenit saja, itu sudah cukup. Cukup membuatku terlempar ke surga. Terbahagia. 

Waktu sudah pukul sembilan malam. Saat rombongan tujuh bus sekolah mendinginkan mesin di halaman rumah makan itu. Para penumpang serta merta berhambur menuju tempat makan, sebagian membersihkan diri di kamar mandi dan sebagian lagi bersembahyang. 

Aku menyendiri disergap keraguan. Masih tiga jam lagi perjalananku untuk sampai tempat itu. Tempat di mana keajaiban itu direncanakan Nya. Itu berarti lebih dari pukul sebelas malam ku kan sampai di kotanya. Juga berarti ia telah lumpuh terkunci dalam sangkar emasnya. Tak ada lagi kemungkinan itu setitikpun. Memikirkan situasi itu, surgaku yang awalnya tampak samar-samar berubah menjadi berkabut-kabut dan menghitam. Tubuhku menggigil.

Selera makan malamku lenyap. Seluruh anggota tubuhku meronta dan berkata-kata. Bahwa bukan makanan yang ku butuhkan, sama sekali bukan. Mataku tak mau melihat apapun, selain wajahnya. Telingaku tak mau mendengar, selain suaranya. Pikiranku tak mau memikirkan, selain tentangnya. 

Mataku berkilat-kilat, dadaku berdebar hebat, kakiku seakan tak menginjak bumi. Saat sebuah pesan masuk di hp ku. Ku sebut ini sebagai pesan dari surga, belum pernah aku segila itu menyikapi sebuah pesan.  Ku pastikan, bahwa dadaku belum pernah berdebar sekencang itu. Aku terpapar virus cinta kelas akut, yang sungguh membahagiakan. 

Rasanya ingin berbisik pada sopir bus andalan itu, untuk memaksimalkan laju busnya. Andaiku punya sayap, pasti ku telah terbang ke sana secepat kilat. Karena satu detik saja bisa memandangi bibadari itu sungguh tak ternilai harganya.

Di antara perasaan senang yang memuncak itu, hadir ketakutan yang mencekam. Aku tak kuasa membayangkan betapa kecewaku jika rencana ijaib ini berakhir kegagalan, karena keterlambatanku. Ia sudah bersusah payah melarikan diri dari karantina jam malamnya tapi aku menggagalkan perjuangannya. Jika ia kecewa, akulah yang akan lebih menanggung sakitnya. Aku sama sekali tak ingin mengecewakannya. 

Saat ku mengabarkan posisiku, ia membalasnya, "Sampai dermaga kurang setengah jam lagi, aku tunggu di depan pintu gerbang, di seberang jalan." Dadaku berdegup semakin kencang, sendi-sendi tulangku serasa lepas, badanku lemas. Waktu telah menunjukkan jam 11.30 malam. Ku bayangkan, pasti ia seperti bidadari berada dalam kesunyian malam karena jalan-jalan terlihat sudah lengang. 

Sepuluh menit lagi keajaiban itu terjadi. Gemerlap lampu dermaga telah terlihat. Aroma karat kapal-kapal lapuk di dermaga telah tercium. Dadaku semakin bergejolak, tak terkendali. Habislah kesabaranku,  ingin segera bertatap mata dengannya. Dia mahkluk terindah yang pernah ada. 

Air laut tampak berkilat-kilat, ombaknya tiba-tiba melambat menjinak saat diriku melangkah menuruni pintu bus. Tanganku meraih-raih apa saja untuk menopang tubuhku yang seakan melayang. Menyongsong keajaiban hadiah istimewa dari Tuhan. 

Bergegas ku mendekati pintu gerbang, mataku tak berkedip mangawasi seberang jalan. Dari balik pagar ku lihat ia ada benar-benar ada di sana, di seberang jalan. Tarikan dua kutub maghnet pun terjadi. Aku menghentikan langkahku, karena mataku sedang melihat keajaiban yang sempurna. Makhluk terindah berbalut busana orange muda bergerak menyeberangi jalan di bawah lampu kota. Indah tak terperi, hingga aku tak ingin melangkah lagi. Demi pemandangan terindah itu. 

Hampir bersamaan sapaku dan ia pun juga menyapa. Entah kalimah apa yg keluar dari bibirku dan bibirnya, karena telingaku seperti tuli. Hanya mataku yang menguasai keadaan itu. Ia tersenyum padaku. Seakan mengatakan lompatlah dari pagar di depanmu, dan peluklah bidadarimu ini sesukamu. 

Aku melangkah gugup, menuju pintu gerbang, membelok, dan menemuinya. Tanganku kini benar-benar menyentuhnya. Bersalaman, sambilku bersusah payah meyakinkan diriku bahku aku tidak sedang bermimpi. 

Beberapa saat aku dan dia dilanda kebisuan. Tak bisa berucap kata. Kata-kata apapun tak penting untuk diucapkan, karena aliran darahku telah berdenyut bersama denyutnya. Indah sekali. 

Aku seperti melihat diriku sendiri di dirinya. Laksana gelas yang pecah menemukan pecahannya. Menyatu utuh kembali. Melihat matanya ada diriku di situ, melihat wajahnya ada senyum diriku. Melihat dirinya seperti melihat kembaranku sendiri yang berpisah berpuluh tahun dan bertemu lagi. Semua yang ada dalam pikiranku ia mampu membacanya. Di sinilah kata-kata tak perlulagi disuarakan. Dari hati ke hati kami saling mengagumi. 

Ia tahu aku tak ingin beranjak dari tempat itu. Tapi kapat sudah menderu-deru, memecah mencipta gelombang bersiap meninggalkan dermaga. Tanganku diraihnya pelan, aku balas dengan menggenggamnya erat sambil berjalan menuju jembatan. Berpuluh langkah dalam saling menggenggam tangan adalah perjalanan terjauh, termahal dan terindahku. 







Bersambung..

Comments

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia