Pergunu; Membangunkan Tidur Panjang Guru dalam Literasi
Hari ini Sabtu 07 November 2020, sungguh istimewa. Hari yang pasti akan selalu diingat oleh seratus guru NU peserta diklat literasi. Diklat yang diselenggakan oleh Pimpinan Cabang PERGUNU Kabupaten Tulungagung. Diklat ini diselenggarakan dalam rangka membangunkan tidur panjangnya para guru NU dari berhenti menulis. Tak ada satu pun peserta yang menyangkal, saat nara sumber Dr. Ngainun Naim, mengatakan bahwa "setelah menyelesaikan karya tulisnya berupa skripsi dan tesis sekian tahun yang lalu, mereka --para penyandang gelar sarjana ini-- belum pernah menulis lagi. Traumakah?"
Meraka semua adalah para guru. Sebuah profesi yang sangat mulia. Kepada merekalah warna-warni masa depan bangsa ini digantungkan. Gurulah ujung tombak tercapai dan tidaknya Tujuan Pendidikan Nasional. Karena merekalah yang batiniahnya tiap detik, menit, jam dan hari bersama anak-anak bangsa ini.
Konon, kemajuan suatu peradaban dapat ditelusuri dari jejak-jejak karya literasinya. Pernyataan ini, sampai detik ini belum ada yang membantahnya. Karena memang demikianlah adanya. Bahkan warisan kemajuan peradaban yang berupa karya-karya tulis itu, masih menjadi rujukan keilmuan manusia 'modern' saat ini.
Rendahnya budaya literasi Indonesia memang cukup memprihatinkan. Sampai-sampai organisasi ilmu pengetahuan dan kebudayaan PBB (UNESCO), tak enak hati memberitahukan hasil penelitiannya tahun 2019 tentang minat literasi baca orang Indonesia. Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara di dunia. GenPI.co
Menyikapi fakta di atas, pemerintah pun akhirnya turun tangan. Melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 20015 meluncurkan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Selanjutnya Kemendikbud menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebagai bagian dari penumbuhan Budi Pekerti. Ditegaskan bahwa GLN bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, tetapi juga tanggungjawab semua pemangku kepentingan termasuk dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi sosial kemasyarakatan serta keluarga. Dampak dari Gerakan Literasi Nasional ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing bangsa. (gln.kemendikbud.go.id)
Karena itulah, Ketua PC. Pergunu Tulungagung Drs. Muselim, M.Pd.I dalam sambutannya berharap kegiatan diklat literasi ini tak selesai di sini. Tetapi ditindaklanjuti dengan membentuk komunitas menulis, misalnya WAG Gubug literasi pergunu, atau nama lainnya. Untuk menyemangati peserta beliau menjanjikan akan memberikan hadiah berupa uang tunai bagi penulis terbaik; pada tugas menulis perdana usai pelatihan ini.
Diklat literasi Pergunu hari ini makin istimewa karena berhasil menghadirkan Bapak Dr. Ngainun Naim dari IAIN Tulungagung sebagai narasumber. Sepertinya beliau tahu persis hambatan lahir dan batinnya para guru dalam literasi (menulis). Para peserta mulai tersenyum sumringah saat beliau menyakinkan bahwa menulis itu saat ini benar-benar 'mudah'. Alat sudah tersedia dalam genggaman. Hanya memerlukan; semangat, keberanian, keyakinan, kedisiplinan, ketelatenan, serta mau membaca. Beliau juga menegaskan bahwa ilmu menulis itu hanya satu, yaitu praktik menulis. Walaupun ilmu kepenulisan seseorang nilainya 100, tetapi jika tidak praktik menulis, maka ilmunya tersebut tak akan pernah terbukti. Dan lebih dari itu, Beliau juga meyakinkan kepada para peserta bahwa menulis itu banyak mendatangkan barokah.
Kegiatan hari ini dilengkapi materi pembuatan blog yang dibimbing oleh pengurus PC. Pergunu Bapak Moh. Anshori. Beliau adalah Kepala Sekolah pada Lembaga Pendidikan Islam Bayanul Azhar, dan cukup aktif menulis di blog. Beliau menjadikan website dan blog sebagai rumah literasinya. Lebih dari saratusan artikel telah diterbitkan. Sebagian dari tabungan tulisan di blog dan website nya saat ini telah diberangkatkan untuk cetak buku. Jejak-jejak para penulis bloger disampaikan oleh Beliau untuk memberi gambaran bahwa begitu mudah dan murah untuk membuat karya literasi.
_______________
Dalam rangka semakin mensolidkan keanggotaan Pergunu Tulungagung, Bapak Moh. Anshori juga membimbing pengisian Sensus Pergunu Nasional melalui aplikasi SIMAS. Peserta sebagai perwakilan dari lembaga, diharapkan menggethok-tularkan program ini di lembaganya masing-masing. Sensus anggota ini penting bagi PP Pergunu dan PC Pergunu. Yaitu untuk dapat memetakan kuantitas dan kualitas anggota. Pemetaan data anggota kemudian menjadi dasar dalam merumuskan program-program penguatan Pergunu ke depan.
Mengakhiri kegiatan diklat leterasi hari ini, Nurhadi, M.Pd.I selaku moderator menyitir beberapa quotes motivasi literasi, di antara sebagai berikut;
"Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi." (Helvy Tiana Rosa).
"Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akherat" (Ali Bin Abi Thalib)
"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." (Imam Al-Ghozali)
"Kita tidak harus menunggu datangnya inspirasi, kita sendirilah yang menciptakannya" (Stephen King)
"Menulislah dengan tulisan jelek, karena tulisan yang bagus itu hanya bonus dari kebiasaan,"
"Teruslah menulis, paling tidak orang-orang tahu kalau kamu masih hidup,"
"Syarat menulis itu ada enam yaitu; menulis, menulis, menulis, menulis, menulis dan menulis" (Kuntowijoyo)
Ia menambahkan bahwa, perjalanan diklat literasi hari ini tidak selesai sampai di sini. Telah dibentuk sebuah group WA. Group WA ini pada akhirnya menjadi ajang sharing karya literasi anggota setiap hari. Setidaknya dalam sehari anggota wajib menulis lima paragraf tentang apapun yang ingin ditulis; pengalaman hidup, gagasan, nasehat, dan lain-lain. Boleh berupa esay, artikel ilmiah populer, puisi dan sebagainya.
Pada suatu waktu, panitia akan menyampaikan kisi-kisi tugas menulis bareng tentang suatu topik. Tulisan dari para peserta ini, pada saatnya akan dikompilasi menjadi buku karya bersama atau antologi.
Menutup kegiatan hari ini Bapak Moh, Anshori mewakili PC Pergunu dan Panitia berharap kepada peserta untuk memantapkan niat, berangkat belajar menjadi penulis supaya gerakan literasi di sekolah (GLS) berjalan semakin efektif. Hal ini akan terwujud jika guru telah menjadikan diri nya sebagai model/uswah. [...]


Mantep... Gus....
ReplyDeleteSmg ketularan....nulari ...mantebb
ReplyDeleteMantab poll loss doll dugh...
ReplyDeleteAku harus keprewe....
Mati suri atau mati kutu...
Duet penulis sukses dan moderator yang hebat. Msntap benar
ReplyDeleteKulo kinten pak Pri Rawuh...
DeleteMenginslirasi dan luar biasa Gus.? >
ReplyDelete