Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

 

gambar:timurmedia.com

Tiba-tiba saja terlintas dalam lamunanku, apakah gerangan yang menjadi mimpi-mimpi para  generasi millenial kini? Pertanyaan ini muncul berkelebat saat pagi, siang, sore dan malam, mata ini selalu menatap pemandangan anak-anak hari ini. Mereka sedang duduk-duduk dan kadang berbaring sambil melampiaskan berbagai ekspresi; berteriak, sangat happy, marah, kecewa, meronta-ronta, padahal ia sedang tak bersama siapa-siapa. Hanya ada sebuah benda di tangannya.

Itulah dunia mereka hari ini. Dunia yang bukan seperti dunia kami beberapa tahun yang lalu. Dunia yang tak pernah menginjak sawah ladang, tak tahu merumput dan mandi di sungai. Tak pernah bersorak bahagia walau hanya karena sebuah kelereng masuk ke lubang. 

______________

Di masa pandemi ini, kita kehilangan pemandangan indah pagi hari. Matahari memang tak mengubah sifatnya. Sinar paginya tetap tak tergantikan. Hangat menyapa, menuntun denyut kehidupan. Tapi, mereka yang dulu bangun petang, berdandan rapi, berkejar-kejaran menuju kelas-kelas belajar tak terlihat lagi. Kini mereka bangun tidurnya makin jauh melangkahi subuh. 

Pandemi menuntut kita hidup secara new normal. Kenormalan baru itu bukan sekedar dari tidak ada prokes menjadi hidup dengan prokes. Jauh lebih penting dari itu sebenarnya adalah perubahan konsep diri, perubahan berbagai cara memenuhi kebutuhan hidup. Perubahan kesadaran tentang apa pentingnya kita dihadirkan di semesta ini.   

Hidup di tengah wabah, ibarat berlayar di laut ganas. Hampir-hampir tak bisa menikmati indahnya pelayaran. Karena ancaman selalu ada di depan mata. Walaupun sudah memakai pelampung sekalipun. Tak benar-benar menjamin keamanan. Sebab ancaman itu bukan hanya angin atau badai. Yang terkadang datang dan terkadang pergi. Tapi luas dan dalamnya lautanlah yang sedang tak baik-baik saja. Menguji ketahanan (imunitas) setiap yang melayarinya. 

Mabuk laut karena badai itu biasa,  begitu badai reda mereka sudah tertawa-tawa. Tapi bagaimana jika lautnya yang justru membadai. Mungkinkah semua penumpang akan bermabuk laut sepanjang waktu? Pada situasi itu, masihkah akan mengandalkan sebuah alat pelindung diri? 

Jika demikian, maka bukan hanya sebuah pelampung yang kita perlukan. Tapi konsepsi tentang siapa diri ini dan mau ke mana pelayaran ini dilabuhkan, juga tak kalah penting untuk ditanamkan. 

Alam semakin tak bersahabat. Mungkin kalimah ini cukup mewakili, situasi saat ini. Jika demikian keadaannya, lalu apa yang mesti kini kita lakukan untuk menyongsong cerahnya hari depan?  Jangan sampai sama saja seperti yang dulu-dulu. Sementara alam telah jauh berubah. Ibarat, berlari saja  tak tergapai, apalah jadinya jika hanya berjalan? 

_________________ 

Saya ingin memasuki dunia generasi muda (millenial) untuk mencoba menggugah  dan mencari jawaban dari pertanyaan di atas. Konon, hal-hal besar yang merajai dunia teknologi hari ini tak lepas dari keberanian bermimpi orang-orang berjiwa besar sebelumnya. Mimpi-mimpi itu kemudian berdialog dengan ilmu. Jadilah sebuah produk kreatif yang kemudian hampir semua orang bergantung kepadanya. Sebut saja, teknologi komputer, berbagai alat komunikasi, mesin-mesin canggih dan pintar lainnya. 

Dunia kemudian dikuasai oleh segelintir manusia yang berani bermimpi itu, dan yang mampu menembus kelas sebagai produsen (pembuat). Kelompok lain, cukup berbangga dengan hanya sebagai pembeli/pengguna (konsumen). Dari dua kelompok ini saja, sudah terlihat, siapa yang memanen keuntungan. Pun juga tampak nyata, kita kini sedang berada di posisi mana. 

Berangkat dari mimpi, kehidupan dunia ini terus berevolusi. Hasrat hidup lebih baik, menggerakkan dinamika perubahan dari zaman ke zaman. Siapa yang berani bermimpi akan memimpin perubahan. 

Agak sedikit jauh ke belakang, dulu, beberapa tahun yang lalu, orang tua kita pernah bermimpi. Alangkah hebat dan senangnya jika punya tanah, sawah dan ladang yang luas. Punya sapi dan kerbau (rojokoyo) yang banyak. Alangkah gagahnya jika bisa menumpuk gabah dan hasil panen di dalam rumah. Tak lama, setiba generasi anaknya, mimpi semacam itupun punah. 

Beberapa tahun yang lalu, generasi kita bermimpi, alangkah bangganya jika dibelikan sepeda motor. Sayangnya bukan untuk digunakan memudahkan urusan transportasi dan sekolah semata. Tapi untuk bisa bergabung dalam geng, untuk dimodifikasi, diganti rodanya, dicopot spionnya, dibrong knalpotnya. Sekelas itu, bangga bukan main.

Yang belum lama ini, mereka juga bermimpi orang tuanya membelikan smartphone, sayangnya bukan untuk alat belajar, tapi untuk mabar (main bareng/ngegame bareng). Cukup miris, yang mereka impikan justru hanya akan membuat mereka kehabisan waktu emasnya belajar. Jika tak didampingi, sungguh menjadi awal dari bunuh diri generasi. 

Walhasil, rupanya kaum millenial semakin jauh dari menyadari mengapa mereka penting berani bermimpi. Bahkan belum mampu menghitung rugi dan untungnya menghabiskan waktu tanpa belajar. Nyatanya belajarpun, masih suatu keterpaksaan. Ataukah, mungkin model belajarnya yang tak sejalan dengan dunia mereka? Entahlah, dewan guru dan psikologlah yang paling tahu jawabannya. 

Tak usahlah jauh-jauh untuk membuktikan bahwa keberanian bermimpi mampu memeluk dunia. Lihatlah fenomena kawanmu, Fiki Naki. Ia berani bermimpi, "Alangkah senangnya jika bisa menguasai beberapa bahasa asing." Bahasa, sebuah ilmu yang tak banyak digemari oleh para siswa sekalipun. Fiki Naki bertekat, melatih diri secara otodidak. Diperjuangkannya mimpinya itu, dipelajarinya bahasa asing setiap waktu. Melawan rasa malas, membuang jauh-jauh rasa takut salah. Diasahnya, dengan menjalin pertemanan dengan orang asing di berbagai negara. Tak perlu waktu lama, mimpi pun jadi nyata. 

Lihatlah Fiki Naki (M Faqih Ayatullah, 20 tahun) kini. Ia telah memikat hati seorang bidadari dari Kazakhstan, Dayana namanya. Dayana tak ragu-ragu mengatakan, "aku ingin menikah denganmu." Dayana terkesima saat pemuda berwajah khas Indonesia itu menyapa menggunakan bahasanya. Tak perlu waktu lama chemistry merekapun terbangun sempurna. Dayana menangkap dengan cepat aura seorang  pemimpi dari Fiki Naki. Bahwa pemimpi, adalah pembawa perubahan besar kehidupan. 

Dayana, gadis belia nan baik hati yang masih berumur 16 tahun. Parasnya cantik sekali, kulitnya seputih susu, sikapnya yang lembut, penampilannya yang sederhana makin membuat ia gadis yang sempurna. 

Fiki Naki berhasil membuat hati Dayana meleleh. Bukan karena materi yang melimpah. Mereka baru lima menit bersua, dari tak saling kenal. Berkenalan, dan bertukar profil akun instagram. Fiki memeluknya dengan keterampilan berbahasa, itulah harta yang Fiki punya. Kemampuan berbahasa Fiki yang cukup langka, untuk pemuda se usianya. Ternyata benar, yang langka itu mahal harganya. Dan Dayana, telah membelinya.

Fiki Naki dan Dayana adalah sebagian dari protret generasi millenial. Yang tak lagi  bermimpi punya sawah ladang yang luas atau ternak yang banyak. Dunia yang membentang tak bertepi ini mereka genggam melalui ketrampilan berbahasa dan berteknologi. Tak perlu beli tiket pesawat, Fiki keluar masuk berbagai negara, berbincang, bercanda dengan gadis-gadisnya. Saling mengenalkan diri dan kebudayaan bangsanya. 

Hobi Fiki Naki belajar bahasa asing dengan orang asing dan Dayana menjadi sawah ladang baru baginya. Atau menjadi toko dan mall, ibaratnya. Ketrampilan komunikasinya divideokan, untuk sebuah konten, dipajang di etalase YouTube-nya, dinikmati jutaan nitizen

Awal Pebruari 2021 yang lalu. Youtuber Ozii Project bersama Youtuber lainnya menganalisa gaji Fiki Naki dari tokonya (YouTube). Dengan melihat data pada social blade; semacam piranti analitis yang membantu nitizen memantau perjalanan akun/konten berbasis subscribe. Mereka menaksir penghasilan Fiki Naki, terendah dan tertinggi perbulan dan pertahun. 

Dua minggu yang lalu, akun YouTube Fiki Naki mencatatkan, 2.78 juta subscriber dan 129.543.634 viewers. Singkat kata, dengan asumsi dolar Rp. 14.000,- Fiki Naki diprediksi berpenghasilan terendah/bulan sebesar Rp. 296 juta lebih, dan berpenghasilan tertinggi/bulan Rp. 4 M lebih. Adapun prediksi gaji terendah/tahun  Fiki Naki sebesar 3 M lebih, dan tertinggi/tahun diperkirakan mencapai 563 M lebih. 

Cerita Fiki Naki vs Dayana semakin menarik, dan membuat nitizen terus kepo dengan kisahnya. Dua insan ini terus saling bermanja. Melompati batas-batas lokasi negara. Tak perlu ada disampingnya untuk menyayikan lagu cinta dan kerinduan. Dunia millenial telah memfasilitasi semuanya. Dayana seakan tahu makna lirik sebuah lagu yang Fiki nyanyikan, "Bintang malam sampaikan padanya,..., Aku ingin melukis sinarmu di hatinya..., Embun pagi sampaikan padanya ..., Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya ..., Tahukah engkau, wahai langit? Aku ingin bertemu membelai wajahnya ..., Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah ..., Hanya untuk dirinya ..., (Lagu Rindu : Kerispatih)

Dayana tersipu, wajahnya memerah.  Sambil menggerakkan kepalanya ia seakan berkata, 'Curi aku dari Kazakstan."

---------------------------

Mimpi. Semua cerita indah Fiki Naki dan Dayana berangkat dari keberanian bermimpi. Mimpi ala generasi millenial. 

Kawan, apakah anda lahir setelah tahun 1990 ke atas. Jika iya anda disebut sebagai generasi millenial. 

Istilah millenial ini pertama kali dicetuskan oleh dua pakar sejarah dan juga penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Secara harfiyah, memang tidak ada  demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi satu ini. Namun pada awalnya penggolongan generasi ini terbentuk bagi mereka yang lahir pada tahun 1990 dan juga awal tahun 2000, dan seterusnya.  Sebagai cirinya, generasi millenial lebih memilih ponsel dari pada TV. Sebab  generasi ini lahir di era kecanggihan teknologi, dan internet berperan besar dalam keberlangsungan hidup mereka. (kompasiana.com. 1 November 2017) 

Para generasi lama hendaknya (walau sedikit) mengerti dunia millenial. Dunia yang dipenuhi berbagai kosa kata, internet, konten, video, youtube, subscriber, viewers, instagram, ometv, dan seerusnya. Itulah sawah, ladang, sungai dan rawa-rawa tempat bermain mereka. Pastikan mereka bukan hanya sebagai pengguna dan konsumen dari piranti yang ada itu. Pastikan mereka berani bermimpi tentang dunianya esok hari. Dan semangati mereka berjuang mewujudkannya.    

Belajar dari fenomena Fiki Naki Dayana, bersama generasi millenial, kita hembuskan sebuah spirit untuk berani bermimpi, dan meyakini bahwa; 1) Nasib akan membuktikan sifatnya yang haqiqi, bahwa ia akan memihak kepada para pemberani. 2) Kini, dengan berlari sekalipun belum tentu duniamu terkejar, bagaimana jadinya jika engkau hanya berjalan dan bahkan hanya duduk berpangku tangan? [...]

Comments

  1. Subhanallooh ....luar biasa menginspirasi, dengan diksi yang keren

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Yaa Alloh.. Bu Nyai... Smbhnuwun sampun kerso rawuh n paring dawuh teng blog kulo.

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Seperti membaca novel yang indah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan ngelantur p pri...penulisnya mbingungi..dua hari nulis...akibatnya kurang nyambung

      Delete
  5. Replies
    1. Sembahnuwun yii.. Mpun kerso pinarak n paring dawuh...

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Menua, Berguru Pada Usia