Spiritualitas Purna Tugas

Sejarahnya dulu, mula-mula seorang anak disemangati untuk bersekolah. Belajar merapi-rapikan diri, bersepatu, dan berdisiplin. Besok-besok jika sudah punya ijazah bisa untuk mendaftar menjadi pegawai negeri. Sebuah profesi kantoran, tak kepanasan dan tak kehujanan, tampak bersih dan intelek, serta bergaji tetap setiap bulan. Madu, ilustrasi yang manis sekali. 

Pikiran seperti itulah yang dulu umum dimiliki kebanyakan orang tua kita, yang hidupnya didera panas dan hujan di persawahan, berkotor-kotor, banting tulang dengan hasil panen yang tak pasti. Terlebih jika ladang dan sawah yang digarap bukan milik sendiri. Nasib yang miris ini, tak ingin diwariskan kepada anak-anaknya.  Maka, sekolah dipandang sebagai satu-satu nya cara merubah nasib. Benar saja, mereka yang empat puluhan tahun yang lalu tertib mendulang ijazah sekolahan, jika ia mendaftar PNS hampir pasti diterima. 

Ada sebuah pertanyaan, Apakah pikiran model di atas saat ini masih umum terjadi? Ternyata perkembangan zaman telah berubah begitu cepat. Hari ini, anak zaman yang menyebut dirinya generasi milenial, tak lagi berbangga dengan cerita sawah ladangnya pak Fulan yang luas, sapinya banyak. Mereka lebih bangga dengan luasnya followers dan banyaknya subscribers. Pun juga tak begitu suka dengan profesi yang tampak tertib, berseragam dan berdisiplin dalam tugas. Mimpi-mimpi mereka telah berbeda. Karena hidup mereka hidup di era tatap maya.  Bebas berkelana ke mana-mana, berteman tanpa harus bertemu. Bertransaksi tanpa harus pergi ke pasar, dan jika pintar/kreatif mereka bisa mendulang panen tanpa harus bercocok tanam. Menjadi programer, pembuat konten di youtube, pedagang online tanpa toko, dan semacamnya. Mereka telah bertransformasi dari lokal menjadi global, dari manual menjadi digital.

Mimpi menjadi PNS masih ada, tapi bagi para sarjana sebelum generasi milinial hari ini.  Mereka-mereka yang sehabis lulus sekolah/kuliah telah dengan suka rela membantu negera dalam berbagai tugas seperti, mendidik dan mengajar anak-anak bangsa, menyuluh masyarakat, melayani administrasi di kantor-kantor, menyapu jalan-jalan kota, menjaga pintu dan memeriksa rel kereta. Jika kemudian pemerintah menghargainya dengan mengangkatnya sebagai PNS atau karyawan tetap BUMN, hingga kesejahteraannya makin baik, sungguh tak salah kebijakan. 

Lebih dari tiga puluh tahun, seorang PNS rata-rata aktif mengabdikan dirinya kepada negara. Itu artinya seseorang yang memilih jalan sebagai PNS, memberikan sebagian besar usia hidup teristimewa dan terproduktifnya sebagai abdi negara. Terikat sebuah kontrak untuk berbakti dan bertugas. Berlari memburu detik-detik absensi, adalah potret dari perjuangan berbakti. Dan bersusah payah merencanakan, mengerjakan, dan melaporkan tusi adalah perjuangan dalam tugas. 

--------------------------

Abah Sumani, M.Pd.I hari ini, Selasa 23 Pebruari 2021 mengundang kami para koleganya se-profesi sebagai pendidik dan pengawas pendidikan di lingkungan Kementerian Agama. Beliau mengabarkan kepada kami pada acara ramah tamah di kediamannya, bahwa mulai Maret 2021 telah resmi purna tugas/purna bakti. 

Sebagai undangan istimewa adalah Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung, Bapak Drs. H. Masngut, M.Pd.I dan Plt. Kasi PAIS. Bapak Ahmad Balya, M.Ag. Kegiatan ramah-tamah seperti ini bagian dari tradisi positif untuk merawat tali silaturrahim sesama aparatur pemerintah. Harapan besarnya adalah, paseduluran tetap terus terjaga sekalipun telah purna. 

"Patut disyukuri perjalanan pengabdi sampai purna, tubuh masih sehat dan bugar. Sehingga masa purna dapat digunakan untuk semakin khusyu' beribadah, makin banyak waktu membersamai keluarga, anak dan cucu. Pun juga semakin banyak waktu untuk bermasyarakat. Jika ditanya apakah pengabdian Bapak Sumani ini mabrur dan husnul khotimah? Insyaa Alloh mabrur dan husnul khotimah. Buktinya tidak ada catatan sedikitpun tentang kekurangan pak Sumani selama menjalankan tugas," Demikian disampaikan oleh Bapak H. Masngut dalam sambutannya. Beliau menambahkan sebuah pesan untuk meneladani hal-hal positif yang telah dicontohkan oleh Pak Sumani selama mengabdi. 

Kegiatan tasyakuran purna tugas selalu berlangsung dalam suasana trenyuh. Wajar saja, karena teman se ruang kerja yang bersama-sama bertahun lamanya, tampak telah menua dan tak lagi boleh bertugas dan berbakti. Tugas dan fungsinya harus diletakkan, untuk digantikan tenaga baru yang lebih muda, segar dan kekinian. 

Hari-hari menikmati suasana berdamai dengan waktu, tak ada lagi berlari-lari mengejar detik-detik genting pingerprint. Tak ada lagi aktivitas "bertugas" dan dan "berbakti". Sebab itulah disebut purna tugas, atau purna bakti. Tak ada pilihan lain, kecuali mengikhlaskan tugas dan baktinya, biarlah para murid-muridnya yang meneruskannya. 

Tulus do'a semua rekan kerja pun sama, semoga selalu sehat dan bahagia bersama keluarga. Dan semoga seluruh dedikasinya, menjadi amal yang membanggakan dihadapan Tuhan. Sebaliknya, yang masih aktifpun minta dido'akan untuk bisa mengabdi dan tetap sehat sampai purna tiba.

Satu hal istimewa bagi insan purna bakti yang gemulai iman. Semakin banyak waktu dan kesempatan  membangun keintiman dengan Tuhan. Tentu saja, menjadi sebuah kebahagiaan baru. Bayangkan jika spirit itu tak dimiliki, kira-kira ke manakah masa senja itu akan disandarkan. Di saat tangan semakin tak lagi kuat memegang, kaki tak lagi kencang berlari, pikiran tak lagi kuat mengingat. Sementara hati semakin butuh kedamaian dan ketenangan. Purna tugas, akan menjadi indah bila disambut dengan hati yang bersih, seraya menetapkan niat mendirikan ruang khusus untuk semakin intim dengan Sang Maha Kekasih. [...]

Comments

  1. Semoga bahagia menghampiri setelah Purna bakti

    ReplyDelete
  2. Semoga segala pengabdian beliau, tercatat sebagai amalan sholiha, amin

    Sahe Pak....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia