Pendidikan, Teruslah Dibicarakan
Maju dan munduryna suatu bangsa ditentukan oleh pendidikan. Entah berapa puluh kali, kalimat itu dan semisalnya, terdengar ke telinga kita. Semua orang sepakat, alias tak ada yang membantah. Bahwa hanya melalui pendidikan, kualitas sumberdaya manusia suatu bangsa dapat ditingkatkan. Karena itu pendidikan merupakan sumber dari segala sumber kemajuan suatu bangsa.
Entah apa yang terjadi jika suatu bangsa beserta masyarakatnya tak mempedulikan pendidikan dan berhenti membicarakannya. Atau misalnya, negara enggan memberikan prioritas anggaran pendidikan. Profesi guru diremehkan, gajinya rendah hidupnya tampak susah. Gedung sekolah kusam, kotor tak terurus. Negeri yang seperti ini rasanya seperti negeri yang mau mati. Mengapa? Karena pembicaraan tentang kejayaan masa depan bangsa, selalu dari mimbar-mimbarnya generasi mudanya. Generasi para calon penerus dan pemimpin bangsa. Karena itu, seandainya negara memberikan perhatian dan anggaran besar-besaran untuk pendidikan dan pengembangan sumberdaya mereka (pelajar/generasi muda), hal itu tidaklah salah sasaran. Dan justru itulah, intinya inti dari tujuan pembangunan suatu bangsa.
Pertanyaan adalah, apakah bangsa Indonesia termasuk telah bersemangat menyelenggarakan pendidikan bagi warga bangsanya? Yang jelas bangsa ini se dari dulu, bahkan sebelum merdeka tak pernah lelah menggerakkan pendidikan.
Kita telah sering mendengar tokoh-tokoh termasyhur bangsa ini dahulu telah berburu ilmu sampai ke luar negeri dan menjadi gurunya para ulama besar dunia. Sebut saja misalnya, Syekh Nawawi al-Bantani, Shekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Yasin al-Fadani, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syekh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi.
Sejarah Indonesia juga mencatat dengan tinta emasnya, para tokoh besar yang kemudian dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Mereka merintis perjuangan kemerdekaan dengan menggerakkan kemajuan pendidikan pada zamannya. Perkembangan pendidikan di Indonesia saat ini, tidak lepas dari peran tokoh-tokoh pendidikan di masa lalu. Mereka adalah, Kyai Haji Mohammad Hasjim Asyari, Ki Hajar Dewantoro, Kyai Haji Ahmad Dahlan, Raden Ajeng Kartini dan Dewi Sartika.
----------------------
Sejak zaman dahulu, kini dan sampai kapanpun semua orang akan terus bicara pendidikan. Menunjukkan bahwa semua orang berkepentingan dengan pendidikan. Orang ingin merubah dan memperbaiki orang lain, masyarakat, negara bahkan dunia, langsung atau tidak langsung pasti melalui pendidikan. Bahkan orang yang ingin menghancurkan suatu bangsa pun juga melalui pendidikan. Pendidikan adalah urusan dan kepentingan bersama. Maka semua orang selalu akan ambil bagian jika yang dibicarakan adalah soal pendidikan.
Kebanyakan masyarakat umum jika membicarakan pendidikan identik dengan mencercanya, mengutuknya dan perasaan tidak puas lainnya. Walaupun demikian ia tetap saja menyerahkan pendidikan anaknya ke lembaga pendidikan.
Pendidikan memang tidak akan pernah selesai dibicarakan. Kenapa? Pertama, karena sudah menjadi kodrat manusia, selalu ingin yang lebih baik. Kedua, pengembangan pendidikan biasanya didasarkan pada teori pendidikan, dan suatu teori umumnya selalu ketinggalan dengan kebutuhan masyarakat. Kurikulum pendidikan terbaru, selalu disusun berdasar teori kebutuhan masyarakat pada saat itu. Begitu waktu berubah, maka kebutuhanpun ikut berubah. Lagi-lagi pendidikan ramai dihujat karena tak sesuai dengan kebutuhan. Ketiga, karena pengaruh pandangan hidup. Beberapa tahun yang lalu, orang begitu puas dengan pendidikannya karena sesuai dengan pandangan hidupnya kala itu. Suatu waktu yang lain, ia terpengaruh oleh pandangan hidup baru yang lebih modern. Maka berubah pula pandangan orang tersebut terhadap pendidikannya.
Siapapun turut serta bicara tentang pendidikan, itu hal yang baik. Menunjukkan pendidikan adalah bagian dari kebutuhan hidup. Kebaikan berikutnya, jika dibarengi dengan tumbuhnya partisipasi masyarakat dalam mendorong kemajuan pendidikan.
Yang perlu diwaspadai adalah, jika mereka yang punya kuasa terhadap kebijakan mempunyai sifat latah. Kemudian sedikit-sedikit membuat kebijakan yang hanya bersifat tambal sulam. Kita pernah menyaksikan, saat ada indikasi lulusan sekolah kurang cinta negara, lantas buru-buru mata pelajaran tertentu dirubah menjadi pendidikan kewarganegaraan. Ditemukan adanya gejala kerusakan lingkungan, buru-buru menambah mapel pendidikan lingkungan hidup. Melihat begitu terpuruknya bangsa ini di percaturan abad 21, pembejaran dimodifikasi sedemikian rupa supaya siswanya punya keterampilan abad 21. Gejala seperti tidaklah sepenuhnya salah, tetapi pasti akan melelahkan. Perlu keberanian untuk melihat persoalan yang lebih subtansial dari sekedar tambal sulam indikator kebutuhan kekinian.
Bila merenungi betapa --tidak pernah selesainya-- upaya memburu 'bentuk pendidikan terbaik' yang digagas saat ini. Rasanya perlu untuk menelusuri mula-mula pendidikan itu diartikan. Kurang lebih 600 tahun yang lalu orang-orang Yunani menyatakan bahwa, pendidikan ialah usaha membantu manusia menjadi manusia. (A Tafsir, 2006:33).
Bicara hakekat pendidikan, ada dua kata kunci yang mesti digaris bawahi, yaitu "membantu" dan "manusia." Rupanya tidak mudah manusia untuk menjadi 'manusia.' Manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia. Dan seseorang dapat dikatakan telah menjadi manusia bila ia telah memiliki sifat (nilai) kemanusiaan. Pada titik inilah, pembicaraan tentang manusia tiada habisnya dari zaman ke zaman. Pun demikian dengan pendidikan, akan selalu menyertai setiap perubahan yang disponsori oleh daya nalar manusia.
Apapun pembicaraan tentang pendidikan, manusialah yang menjadi obyek sasarannya. Karena itu, pendidikan yang baik harus didesain sesuai dengan pengertian tentang 'hakekat manusia.' Maka pertanyaannya, "Siapakah hakekatnya manusia itu?" Jawabannya tiada lain, "Pencipta manusialah yang paling tahu siapa hakekatmya manusia itu." Dari sinilah seharusnya pembicaraan tentang pendidikan "diawali" dan "diakhiri." Dan dari sinilah pula, keluarga besar Pendidikan Islam boleh berbangga hati. [...]
Pendidikan menurut saya adalah usaha yang sepanjang hayat membentuk karakter dan jati diri. bilakah ini peran pendidik sekarang digantikan oleh G Classroom??
ReplyDeletePendidikan dari manusia oleh manusia dan untuk manusia... Diluar itu, perlu diteliti lebih lanjut.
DeleteTulisan yg keren...
ReplyDeleteBu Diana cerisnya sangat sangat sangat keren..
DeleteBacaan segar sambil merenung, membuka cakrawala pendidikan kedepan
ReplyDeleteKelihatan sekali Pak Nur menguasai ruang lingkup pendidikan. Mantap
ReplyDelete