Peradaban, Literasi dan Tangan-tangan Guru
Menggerakkan spirit literasi. Aktivitas ini saya yakini sangat erat korelasinya dengan upaya membangun bangsa yang berperadaban. Sejarah kehidupan manusia dari masa ke masa bertumbuh dan berkembang. Manusia sebagai penggerak utama perjalanan sejarah kehidupan ini, tak henti berkreasi menyempurnakan warna kehidupan. Mengokohkan jati diri sebagai makhluk yang berbudaya.
Kebudayaan manusia berkembang menggapai kemajuan, seluruhnya terekam dalam karya peninggalan, prasasti-prasasti serta berbagai karya literasi. Karya lama diwariskan, dibaca generasi susudahnya, dipelajari dan dilestarikan. Demikian, berlangsung secara berkesinambungan, menyejarah menandai zaman.
Budaya baca dan tulis yang masih rendah di masyarakat kita dewasa ini menjadi perhatian serius pemerintah. Di dalam keprihatinan itu, dunia pendidikan sering disebut-disebut. Dan wajar saja, karena siapa lagi yang menggerakkan budaya baca tulis jika bukan masyarakat pendidikan (civitas academica). Ironis rasanya jika (misalnya), menuduh sebab --lemahnya budaya literasi bangsa ini-- karena nenek moyang kita yang seorang pelaut.
Sudah pasti guru dan tenaga pendidikan yang akan ditagih oleh zaman, saat ranking baca dan tulis generasi negeri ini tak kunjung beranjak naik peringkatnya. Akan dipertanyakan, apakah tidak dibimbing, dicontohkan dan diajak untuk menyenangi baca tulis oleh gurunya? Bukankan menulis adalah aktivitas ketrampilan, bukan bakat bawaan? Yang semua orang bisa jika terbiasa/dibiasakan?
Bahwa ketrampilan menulis adalah jenis ketrampilan ternyata masih perlu terus diyakin-yakinkan kepada guru profesional sekalipun. Faktanya, tidak jarang terdengar dari mereka, yang mahir mengajar ini mengatakan bahwa, "Saya tidak berbakat menulis." Iya bukan, padahal sehari-hari mereka mengajar dengan menceramahi murid-muridnya. Bukankah deretan kalimat yang tiap hari diceramahkan itu adalah sebuah bahasa yang juga berarti sebuah tulisan jika dituliskan?
Tipisnya keyakinan guru bahwa literasi (khususnya menulis) adalah suatu keterampilan yang hanya butuh kebiasaan, bisa jadi merupakan problem mendasarnya. Jika hal ini dibenarkan, maka diperlukan reinforcement (penguatan) pada level ini sebagai hulunya.
Sejak Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dideklarasikan oleh mendikbud tahun 2016, sebenarnya telah banyak kegiatan penguatan literasi yang menyasar tenaga kependidikan. Namun sampai tahun 2020 hasil karya literasi belum menunjukkan hasil yang signifikan. Bisa dikatakan ujung tombak penggeraknya masih tumpul. Atau memang budaya satu ini tidak bisa dibangun dengan serta merta. Atau mungkin masih perlu adanya mesin penggerak yang lebih telaten membersamai gerakan para pendidik tersebut.
Musim pandemi di tahun 2021 yang telah mempopulerkan WFH dan PJJ telah juga menyemai semangat menulis komunitas pendidik. Pelatihan, dan webinar literasi marak diselenggarakan silih berganti. Mula-mula masyarakat pendidikan berfikir, masa pandemi tersedia banyak waktu untuk belajar menulis. Kesempatan inipun tak disiasiakan.
Para pelatih menulispun turun gunung, membaur di grup-grup menulis. Menyemangati, mengajak dan memberi contoh. Turunnya para pelatih menulis untuk di kelas daring (WA) perlu mendapat apresiasi tersendiri. Secara tidak langsung kehadirannya di grup WA menulis merawat semangat para penulis pemula, yang semangatnya rawan menguap dengan berbagai alasan klasik. Tidak sempat, tidak muncul ide, tidak bakat, dan alasan ngeles lainnya.
Beberapa bulan terakhir, masyarakat pendidikan dan pegiat literasi layak berbangga. Hari-hari diramaikan terbitnya buku antologi dan buku karya pribadi. Banyak siswa tersenyum melihat karya tulisnya dibukukan. Namanya terlukis di sampul buku yang tercetak indah. Rasanya bagai mimpi, punya buku karya sendiri.
Kepercayaan diri para guru penulis pemula terbangun. Saat buka karya perdananya benar-benar berhasil terbit. Semangat literasinya terus terjaga dan berkembang. Bicaranya makin berbobot saat menebar mutiara-mutiara motivasi kepada siswanya untuk berliterasi. Kali ini ia telah menjadi model dan contoh nyata, tidak mengada-ada, dan bukan sekedar "katanya". Saat meyakin-yakinkan siswanya untuk menyenangi menulis sebagai kegiatan yang berlimpah manfaat.
Seperti miliarder yang memberikan mentor bisnis. Guru penulis yang mengajak siswanya menulis, seakan mempunyai kekuatan magis. Mereka (siswa) tanpa ragu mengikuti akan diajak ke mana oleh gurunya. Karena mereka tahu, bahwa sang guru pernah berhasil mewujudkan apa yang diimpikannya.
Guru penulis yang telah menghasilkan karya buku, dan mengajak siwanya gemar membaca dan menulis, laksana tangan kiri menuntun siswanya sementara tangan kanan meraih mimpi-mimpinya. Sang guru menghasilkan karya, diikuti karya siswa-siswanya. Pantaslah ia disebut sebagai guru inspiratif yang sebenarnya. [...]
Comments
Post a Comment