Misteri Sebuah Tulisan
Setiap kalimat yang telah dicipta oleh seorang penulis memiliki kekuatannya sendiri. Sebuah buku (tulisan) begitu selesai ditulis, kemudian diluncurkan ke publik, maka ia menjadi milik publik. Ia akan berbicara sendiri menyampaikan isinya melalui sistem tanda yang dimilikinya, terutama struktur bahasanya.
Suatu yang jarang disadari, bahwa teks dan pengarangnya saling bertautan, namun jarang keduanya hadir bersama-sama di hadapan kita sebagai pembacanya. Padahal sebenarnya sebuah tulisan yang hadir di hadapan pembaca, bermula dari suasana batin yang misterius dari penulisnya. Situasi psikologis saat ide itu muncul, motivasi-motivasi yang menyertai, perjuangan membangun tulisan yang utuh, pemilihan bahasa (diksi) dengan menyisihkan berbagai kata yang serupa. Dan berbagai dinamika batin lainnya.
Teks dan konteks penulis saat proses menulis mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Bahkan sebuah tulisan yang belum selesai hari ini, yang kemudian dikunjungi lagi esok hari oleh penulisnya untuk dilanjutkan penyelesaiannya, hampir selalu berubah penjiwaannya. Karena hidup manusia hari ini dan kemarin sungguh berbeda, berwarna-warna. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh psikologis dari seorang penulis terhadap sebuah teks yang sedang ia tulis.
Pengalaman seorang penulis buku, yang membaca ulang buku karyanya juga membuktikan adanya keajaiban sebuah tulisan. Bahwa karya tulis yang pernah ditulisnya seakan mempunyai dunianya sendiri. Berbagai perasaan muncul saat penulis berdialog dengan tulisannya sendiri tempo hari. Sambil tersenyum sang penulis tersipu keheranan, seakan ia melihat dirinya sendiri dalam bentuk yang lain di belakangnya. Jangankan yang kemarin, satu paragraf yang hilang dua menit yang lalu, yang coba cepat-cepat ditulis ulang pun hasilnya tak bisa persis sama.
Mungkin bisa ditarik sebuah asumsi bahwa, jika ingin melihat suasana jiwa-jiwa kita kemarin seperti apa, dapat ditelusuri dari tulisan demi tulisan yang pernah kita hasilkan. Bila asumsi ini benar maka kegiatan menulis terbilang aktivitas yang kental akan nilai spitualitas diri.
Menulis tentang apapun di sekitar kita menjadi urgen kita lakukan. Terlebih jika ingin eksistensi kita di alam ini ada jejaknya. Bukankah hari, pekan, bulan dan tahun yang pernah kita lewati itu sungguh berharga? Lalu mengapa perjananan itu kita biarkan lewat begitu saja tanpa menandainya, setidaknya dengan menuliskannya?
Tentu kita menyadari betapa berbagai prestasi dan imajinasi manusia sepanjang sejarah akan hilang jikalau tidak diawetkan dalam simbul-simbul kebahasaan (tulisan).
Bahkan ajaran suci Tuhan dengan para RasulNya pun memerlukan simbu-simbul bahasa yang kemudian berlaku pada masing-masing bangsa. Bersambung-sambung melintasi masa.
Dengan bahasa dan tulisan, warisan dan khazanah nilai-nilai kemanusiaan terekam, dan tersimpan. Melalui bahasa dan tulisan pula kita mengekspresikan serta mendepositokan nilai-nilai, wacana-wacana, tradisi-tradisi, fenomena-fenomena, yang terjadi kini untuk disampaikan kepada masyarakat dan generasi berikutnya. Karena itu, mengapa masih ragu untuk menggerakkan tangan (menulis), hingga menjadi bagian dari pencerita indahnya warna-warni perjalanan kehidupan ini? [...]
Leress... tak renungkan hampir semuanya benar Pak Nur...
ReplyDeleteKenapa ta kok masih ragu jg...
ReplyDeleteKnp ya kok msh ragu juga
ReplyDeleteMonggo ragunya diperangi bu nyai.. Mpun menyerah..
Delete