Pada dasarnya semua adalah proses belajar. Tidak ada yang sebenar-benarnya benar dan baik. Yang ada adalah belajar terus menerus mendekati benar. Atau belajar terus menerus untuk mendekati baik. Karena yang sebenar-benarnya benar dan sebenar-benarnya baik hanyalah Dia Yang Maha Benar dan Dia Yang Maha Baik, yaitu Alloh SWT.
Manusia sebagai makhluk istimewa diberikan berbagai potensi yang dibenamkan oleh Alloh SWT ke dalam dirinya. Potensi yang ada mengharuskan ia belajar, karena manusia sebenarnya sebagai makhluk pembelajar (educable). Dan juga harus dididik (educandus).
Abdurrohman Shaleh (uin.malang.ac.id) mengataka, "Man is the core of the educational proces." Bahwa manusia adalah inti dari seluruh proses pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia adalah obyek sekaligus pelaku pendidikan.
Jika paradigma bahwa manusia sebagai makhluk pembelajar dimiliki oleh setiap orang, saya membayangkan kehidupan kita akan dipenuhi dengan kekayaan kebudayaan, kebaikan-kebaikan, dalam harmoni, serasa berada di rumah besar peradaban yang indah dan kokoh.
Belajar tidak mesti berada di kelas-kelas sekolah. Juga tak harus jauh-jauh. Setiap aspek dalam kehidupan manusia dapat dijadikan sebagai pelajaran agar menjadi pribadi yang lebih baik, bermanfaat dan bijaksana dalam menjalani kehidupan.
Barusaja saya melihat tayangan YouTube, ada 17 juta orang (viewer) telah menonton (belajar) dari sebuah lagu yang dinyanyikan oleh group music indi, Fourtwenty. Sebuah lagu dengan syair bernuansa reflektif, berjudul, "Kita Pasti Tua."
Rupanya sang pencipta lagu sedang menasehati dirinya sendiri dan penikmat lagu tersebut bahwa, kita semua pasti dan pasti menua. Ya, tentang suatu yang dipunyai oleh semua orang hidup yaitu usia. Ia berjalan dengan pasti membawa empunya menuju tua, dan akan berhenti pada suatu masa yang menjadi rahasiaNya.
Kurang lebih lirik dalam lagu itu demikian;
Ini cerita ketika tulang mulai menua
Masih mungkin ada hasrat yang menggebu
Berkumpul dan bernyanyi seperti dulu
Wajah tampanku keriput dan badanku membungkuk
Rasa ingin tak percara kini ku menua
Tak menggoda layaknya saat muda
Awas nanti tua
Kita pasti tua
Lemah dan tak tertenaga
Mulai renta berkelana
Dibalik rambut putihku
Wajah tampanku keriput dan badanku membungkuk
Rasa ingin tak percaya
Kini ku tlah menua
Tidak menggoda layaknya saat muda
Awas nanti tua
Awas nanti tua
Kita pasti tua, lemah tak bertenaga
Mulai rentan berkelana
Rabun sudah bola mata
Ada yang tak berubah
Jiwa masih muda
Jika nanti sudah tua mulai jarang bersenggama
Tunggu saja waktunya
Kita pasti tua
Kita pasti tua.
Meresapi lagu tersebut, terdapat pelajaran penting yang bisa kita jadikan nasehat untuk diri kita. Karena untuk urusan usia, kebanyakan dari kita (terlebih yang masih muda) sering lupa. Tahu-tahu, masa muda itu terlewat, dan usia kita telah purna dari disebut sebagai manusia usia produktif. Ceritanya mereka yang masuk pada masa purna produktif (pensiun) jiwanya memberontak. Seakan tak terima dengan keadaan itu, jiwanya tetap merasa masih muda.
Jika tak terkelola dengan baik, hal buruk kadang terjadi akibat post power syndrome.
Alloh SWT, sampai-sampai mengingatkan perkara ini dalam Firman Nya QS al-'Asr : 1-3. (1) Demi masa (2) Sungguh manusia berada dalam kerugian (3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.
Merugi, sungguh merugi jika waktu terbaik kita tak didayagunakan untuk kemuliaan dan kebajikan, serta saling mengingatkan untuk kebenaran dan kesabaran. Semua kebajikan yang ada, dalam melakukannya butuh energi dan kekuatan pisik. Masa (umur/usia) perlu diperhatikan kemanfaatannya supaya usia muda tidak kehilangan momentumnya.
Demikian juga dengan lirik lagu, "Kita Pasti Tua" di atas. Ia mengingatkan, pentingnya setiap insan berguru pada usia/umur. Di mana usia memiliki sifat yang haqiqi, berdisiplin melaju meninggalkan yang kemarin, tak sudi untuk kembali.
"Kita pasti tua", seakan ingin mengatakan, "bergurulah pada usia," jika tidak, penyesalan dan kerugian sudah pasti menunggu di ujung waktu."
Beberapa pesan (pelajaran) yang bisa diambil dari lirik, "kita pasti tua" tersebut adalah;
Pertama, menua adalah hukum yang pasti. Mengingkarinya sama dengan melawan hukum. Diingkari dengan cara apapun, ia akan tetap datang. Mendatangi siapapun tanpa ampun.
Kedua, masa muda sungguh istimewa. Badan masih kuat, indah menggoda, pikiran masih cemerlang, hasrat menggebu penuh gairah. Bisa dibilang masa keemasan dan kejayaan. Di masa ini semua keinginan bisa diwujudkan. Saking euforianya di masa muda ini, banyak orang terpedaya. Lupa, bahwa masa ini sebentar lagi berganti. Tiba-tiba tersadar. Belum cukup tangan meraih dan kaki melangkah, ternyata matahari telah senja. Kita telah menua.
Ketiga, menua berarti membawa serta berbagai keadaan baru. Lemah tak bertenaga, rentan berkelana, rambut memutih, tubuh membungkuk, wajah yang dulu tampan berubah keriput, rabun bola mata dan jarang bersenggama. Pada masa ini, semakin hari semakin tak mampu lagi mengurus sesuatu. Dan justru membutuhkan orang lain untuk mengurus dirinya. Kegagahan yang pernah melekat padanya beberapa waktu yang lalu punahlah sudah. Jika tak terima dengan keadaan ini, akan semakin terpuruk dan lemah. Tak ada pilihan yang lain, hanya satu yang bisa dilakukan yaitu, belajar berserah.
Keempat, berulangkali lagu tersebut melantunkan dengan penuh harap agar kita cepat sadar bahwa ...., awas nanti tua, awas nanti tua, kita pasti tua, kita pasti tua. Sungguh berguru pada usia adalah perkara yang penting. Karena waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.
Saya juga merasa perlu mengulangi sekali lagi, bahwa setiap aspek dalam kehidupan dapat dijadikan sebagai pelajaran. Dan usia adalah aspek terdekat dari setiap manusia, ia membawa pelajaran yang sering kita abaikan. Entah berapa kali kita dinasehati guru-guru kita, "gunakan waktu mudamu, sebelum datang waktu tuamu."
Mari kita renungi nasihat Imam Al- Ghozali berikut ini, "Aku tidak menpunyai barang dagangan kecuali umur. Apabila ia habis, maka habislah modalku sehingga putuslah harapan untuk berniaga dan mencari keuntungan lagi. Alloh telah memberiku tempo pada hari yang baru ini, memperpanjang usia dan memberi nikmat.[...]
Karena semua pasti Menua, gunakan waktu sebaik mungkin. Nasihat buat diri sendiri
ReplyDeleteSemakin menua semakin mulia, seperti "ilmu" padi. Nasihat yang sangat bagus Pak Nur.. suwun
ReplyDeletetulisan dan nasehat yang indah, tua itu pasti datangnya kadang tanpa kita sadari, bravo p. Noor...👍
ReplyDeletetulisan dan nasehat yg indah, tua itu pasti datangnya, kadang tanpa kita sadari..bravo p. Noor..
ReplyDeleteSmbhnuwun bu hj...
DeleteSahe nasehatny,bg sy yg ga trasa sdh tua
ReplyDeleteSmbhnuwun bu Tri..
Delete