Sekolah, Ngopi dan Warung Kopi
Belum apa-apa sudah bangga dan bahagia. Itulah yang sering terjadi akhir-akhir ini saat musim penerimaan siswa/mahasiswa baru. Tatkala anak diterima di suatu SD, SMP, SMA atau Madrasah favorit, senangnya hati orangtua tak terperi, laksana ketiban rezeki melimpah. Fenomena ini dapat dilihat saat musim PPDB. Terjadi trend gerakan menyerbu untuk mendaftarkan anak di sekolah/madrasah idaman.
Analisa sederhana saya terhadap tren tersebut di antaranya adalah;
Pertama, semakin meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap pendidikan. Para orangtua siswa hari ini adalah orang-orang terdidik yang telah mampu menilai kualitas sebuah lembaga pendidikan. Ia mempunyai standar tertentu untuk pendidikan terbaik anak-anaknya. Kelompok ini akan melakukan berbagai upaya, supaya anaknya bisa diterima di sekolah pilihannya. Begitu diterima, sudah pasti senang dan bangga luar biasa.
Kedua, calon siswa adalah anak-anak yang punya motivasi tinggi untuk sekolah. Mereka telah memahami bahwa sekolah favorit identik dengan kegiatan pembelajaran yang serius, padat kegiatan dan berisi anak-anak hebat. Ia dengan penuh kesadaran siap bersaing dan berkompetisi dengan teman sebayanya. Begitu diterima di sekolah impiannya, bahagia dan bangga menghiasi hari-harinya.
Ketiga, adakalanya orang tua yang ingin prestise, bahwa anaknya diterima di sekolah A. Sekolah yang sering dibicarakan orang, sekolah yang banyak menolak siswa karena saking banyaknya pendaftar. Begitu diterima, bangga tak terkira. Saat ditanya teman atau tetangga putranya sekolah di mana, dijawabnya dengan penuh percaya diri. Saat silaturrahim hari raya, selalu diceritakan panjang lebar keberhasilannya masuk sekolah impiannya tersebut.
Keempat, mudahnya akses transportasi turut mempengaruhi pergerakan orangtua dan siswa memilih sekolah. Dulu, saat transportasi masih terbatas, anak-anak sekolah dekat-dekat saja dengan rumah. Dari pada kelelahan mengayuh sepeda jauh-jauh, lebih enak sekolah dekat rumah. Saat ini, tiada jarak yang dirasa jauh, karena alat dan media transportasi tak jadi masalah. Semua orang punya sepeda motor, jalan-jalan telah terbangun mulus dan nyaman. Jarak lima belas kilometer kini hanya memakan waktu lima belas menit saja. Kemudahan akses transportasi mempengaruhi pergerakan anak-anak desa menyerbu mendaftar sekolah favorit di kota-kota.
Kelima, kesejahteraan masyarakat semakin membaik. Semakin banyaknya masyarakat ekonomi kelas menengah, standar hidup pun turut meningkat, termasuk stantar pendidikannya. Kelompok ini, tak mengkhawatirkan biaya pendidikan, dan bahkan telah menyediakan anggaran khusus untuk pendidikan terbaik anak-anaknya.
Tak jauh beda dengan calon mahasiswa. Perjuangan bisa masuk perguruan tinggi ternama tak ubahnya seperti melamar kerja di BUMN. Begitu dinyatakan diterima, perasaan akan cerahnya masa depan seakan telah ada dekat di depan mata.
Hari-hari menjalani proses pembelajaran pun dimulai. Euforia sebagai siswa sebuah sekolah favoritpun mulai meluntur. Sifat bawaan kebanyakan siswapun mulai menampakkan keasliannya. Bahwa sekolah adalah proses yang tidak selalu mengenakkan. Prosentase siswa yang benar-benar dan yang kurang benar-benar berniat belajarpun makin tampak. Pada akhirnya niat belajar sungguh-sungguhpun banyak yang merosot, bergeser menjadi "yang penting tercatat sebagai alumni sekolah ini." Yang penting lulus.
Demikian juga mahasiswa kampus ternama. Pesta pora berbalut jaket almamater kebanggaan pun rawan termakan luntur. Perkuliahan berjalan beberapa bulan, mulai kurang kerasan duduk di kelas kuliah, tak senang pergi ke perpustakaan, mengeluhkan tugas-tugas kuliah, menghibah dosen dan menitipkan mengerjakan tugas pada teman.
Sebagian mereka mulai menyenangi duduk-duduk di warung kopi dan angkringan. Betah sekali berlama-lama di tempat penuh asap tembakau itu, berdiskusi tentang cara-cara menghindari tugas kuliah. Makin lama, makin tumbuh inspirasi, "Alangkah indahnya, lulus kuliah nanti pulang mendirikan angkringan seperti ini". Dengan para profesor dan doktor, dosen mereka tak sedekat dan seakrab dengan pelayan angkringan langganannya. Mimpi-mimpi dan semangat empat lima saat mula berangkat kuliah waktu itu telah lenyap ditelan pragmatisme dan hedonisme kaum muda perkotaan.
Beruntung, mereka pulang menyandang gelar sarjana. Orangtua bangga luar biasa untuk yang kedua kalinya. Hari-hari sang intelektual muda itu di rumah. Berhati-hati orang tua mengajaknya bicara, karena berhadapan dengan sarjana kampus ternama. Orangtua yakin anaknya akan segera dilamar (bukan melamar) sebuah kantor atau perusahaan.
Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Sang sarjana tak kunjung bekerja. Melihat orangtuanya mulai gelisah ia berkata, "tak ada yang lebih enak kecuali bekerja diperusahaannya sendiri. Mantap sekali, anakku akan mendirikan sebuah perusahaan, begitu batin sang orangtua yang semakin menua.
Tak kunjung tampak perusaah apa yang akan dirikan oleh anaknya. Orangtua pun memberanikan diri bertanya, "Bagaimana rencana mendirikan perusahaannya kemarin?" Sang sarjana menjawab, "Bolehkan jika depan rumah itu saya jadikan angkringan untuk menjual kopi, gorengan sosis, mie instan, dan nasi kucing?" Sang sarjana menjelaskan dengan penuh semangat, bahwa dulu di dekat kampusnya ada angkringan yang tak pernah sepi sepanjang siang dan malam, para mahasiswa minum kopi, kerasan sekali. Karyawannya banyak berganti-ganti, pemiliknya sukses.
Mendengar rencana matang anaknya akan mendirikan perusahaan berupa angkringan di teras depan rumah, sang orangtua terpana, tiba-tiba tubuhnya lemas tak berdaya. Pikirannya melayang, membayangkan tetangga sebelah yang juga membuka warung kopi tanpa terlebih dulu bersusah payah kuliah.
Tulisan ini didasari sebuah fakta yang penulis lihat. Memang tak sepenuhnya mewakili kondisi pada umumnya, tapi fakta ini nyata adanya. Bahwa sekolah, ngopi dan mendirikan warung kopi tak mustahil mempunyai korelasi. [...]
Semakin bagus sekolah semakin banyak peminat. Intinya harus berlomba-lomba membangun mutu sekolah/madrasah
ReplyDeleteSemakin bagus sekolah semakin banyak peminat. Intinya harus berlomba-lomba membangun mutu sekolah/madrasah
ReplyDelete