Berandai-andai

 


Berbahagilah para pegiat literasi (menulis) yang detik ini sedang sehat jiwa dan raganya. Aktifitas menulis dapat terwujud dengan baik jika badan kita sehat. Sebaliknya, kurang sehatnya tubuh berdampak terhambatnya aktifitas menulis. 

Ketika tubuh kurang vit,  mata mudah lelah dan bahkan rasa pusing di kepala pun datang. Rasa ingin menulis berpotensi mengendur dan luntur. 

Saat-saat seperti itu, bermunculan imajinasi 'berandai-andai'. Andai tubuh ini segar bugar pasti hari ini sudah bisa berbagi tulisan. 

Itulah kebiasaan buruk saya, dan mungkin demikian juga sebagian dari kita. Baru sadar akan berharganya kesehatan, saat sakit telah tiba. 

Walaupun demikian, ternyata aktifitas menulis masih menempati urutan pertama yang paling memungkinkan dilaksanakan saat kurang sehat sekalipun. 

Mengapa? Karena menulis tak membutuhkan modal tenaga yang banyak. Tak perlu tempat khusus, pun tak perlu mengeluarkan biaya untuk melakukannya. Lebih jauh lagi, aktifitas menulis bisa dilakukan siapapun tak pandang usia. Bahkan mereka yang sudah sepuh dan ringkihpun sebenarnya masih mampu menggerakkan jemarinya untuk menulis. (Untuk yang terakhir ini, pernah terlintas dalam hati kecil saya, kira-kira aktifitas inilah yang nanti akan mengisi waktu di saat ku menua)

Belajar dari situasi di atas, alangkah sayangnya jika kesehatan, kebugaran dan kelonggaran waktu yang kita miliki, tidak kita manfaatkan untuk menulis. Yang pada hakekatnya menulis itu tak lain adalah proses belajar, mengikat ilmu, dan mengabadikan betapa indahnya karunia hidup dan kehidupan.[...]

Comments

  1. Semoga selalu diberi kesehatan pak....

    ReplyDelete
  2. Akhirnya ttp sempat menulis, sehat sll pak....

    ReplyDelete
  3. Masyaallah...
    Barakallah pak Noer, tulisannya benar-benar membangkitkan semangat. Ternyata dengan menulis kita sedang mengabadikan ilmu. Semoga tulisan ini menjadi sumber pahala jariah🤲🤲😇😇

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... Monggo bu Put... Terus belajar dan belajar terus.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia