Tidurpun Jangan Terlalu


Di ruang sempit berhimpit dinding. Pengap, anyep dan dingin menusuk-nusuk tulang, terlebih di musim bediding. Tempat seperti ini konon sangat disukai oleh bangsa jin. Tempat itu kemudian disulap menjadi peraduan mewah tiga perjaka yang sedang boro untuk belajar di perguruan tinggi Negeri “universitas plosokandang”  (unplos), IAIN Tulungagung  tahun 1995 - 1999. Ditengah jalan kemudian berubah menjadi STAIN.

Gotaan yang tidak di sengaja adanya tersebut, berada diantara musholla dan gedung madrasah. Memiliki luas 1 x 5 meter, ber atap talang (jalan air).  Sepanjang empat tahun kami mengukir kisah, memburu berkah. Kami bertiga, sebut saja Ng, Zr, dan Nc yang di akhir tulisan ini saya jelaskan. 

Ketiganya dipertemukan oleh peristiwa dramatis yaitu "bingung" mencari tempat berlindung yang membawa “untung". Mereka adalah tiga anak desa dari kampung yang berjauhan, tidak saling kenal sebelumnya. Berangkat kuliah karena faktor yang berbeda-beda. Satu kesamaannya, yaitu sama-sama dari keluarga buruh tani yang peruntungannya tidak pasti.

Menelusuri alasan "berani" berangkat kuliah

Pertama diriku (Nc), begitu lulus MAN (1995) tak terbersit sedikitpun untuk melanjutkan kuliah. Karena selain tak tega dengan jeritan orang tua tiap bulan, pada tahun itu belum banyak teman seusiaku di desaku mengobrolkan perihal kuliah di perguruan tinggi. 

Obrolan yang sering muncul di pos kampling atau serambi musholla biasanya perihal kehamilan kambing dan sapi nya masing-masing. Sesekali mendengarkan cerita alumni TKI tentang liku-liku mengais ringgit di Malaysia. Perihal yang terakhir ini, jiwaku menciut karena fisikku yang tak se subur usiaku, kecil dan ringkih. 

Di tengah kekosongan rencana pasca lulus MAN itu, ada tetangga yang memberi kabar, bahwa tetangganya yang juga sama statusnya denganku akan mendaftar kuliah. Akirnya ku coba menggali informasi tentang kuliah itu sekolah yang bagaimana ? 

Singkat cerita aku ikut ndompleng dia mendaftar. Sayang nya malah yang nunut (aku) yang lulus RIPERMARU dan diterima. Teman penunjuk jalanku tak jadi ikut ukur jaz almamater warna biru. Ia harus menunggu setahun kemudian jika masih ingin menjadi mahasiswa. 

Kedua Kang (Ng), ia brangkat kuliah dengan aura yang cukup optimis, sudah tampak siap mental. Karena selepas MAN, ia sempat pemanasan terlebih dahulu dengan kursus  bahasa asing di kampung inggris Pare Kediri. Kelihatannya gairah kuliahnya menguat setelah bersinggungan dengan komunitas belajar "alam bebas" di kampung Inggris tersebut. 

Tahun pertama kuliah, gayanya lumayan kece. Model  baju nya seperti pemuda kota. Kemeja lengan panjang dipadu (matching ) dengan celana model baggy ala penyanyi dangdut tahun 80 an. Dua tangannya sering dimasukkan di saku celana, malang kerik (berkacak pinggangg). Mungkin sering menonton wayang kulit dan mengidolakan tokoh pewayangan sakti mandraguna Raden Gathut Kaca.

Ketiga Kang Zr,  Entah "pulung" apa yang membawa dia berangkat kuliah. Yang jelas Allah menakdirkan si bungsu ini betul-betul bernyali untuk kuliah. Setahun seduluran (berteman) saya sempat silaturrahim ke rumahnya, ternyata kedua ortunya sudah sepuh. Dan kira-kira kata inilah yang keluar jika anaknya minta ijin kuliah, "la bapak-e wes tuwo ngene gek mengko opo to le ngge mbayari SPP ne". Ternyata bermodal semangat dan tekad kuat yang ia punya, dan mungkin ditambah dorongan kakak-kakaknya yang mulai beranjak mapan. Kang Zr nekad berangkat.

Begitulah sekilas profil tiga anak "melas" tersebut. Sinyal yang sama dari ketiganya laksana mahgnet yang lambat tapi pasti.  Seperti kelereng, ; berjalan, menggelinding, menabrak kanan dan kiri, memembelok, kemudian berhenti di suatu lubang. Saling memperkenalkan diri, beradu kisah susah masa kecilnya masing-masing. Menunjukkan goresan bekas luka-luka kecil saat angon dulu. Dipertemukan dalam satu mimpi. Mencari ngengeran yang gratis dan bergizi baik jasmani dan ruhani.

Sepertinya mimpi mereka di dengar oleh Tuhan. Dalam waktu singkat satu persatu menyatu menjadi trio melas yang kompak. Mulai dari Ng merayu Nc, kemudian Nc kampanye pada Zr. Dan deal, serambi musholla itu mnjadi saksi, negosiasi untuk bersama-sama meyakini bahwa inilah tempat terbaik yang kamicari. "Tempat berlindung yang membawa untung".

Ngenger di ndalemnya Mbah Kaji

"Gotaan" musholla yang indah sekali bila dipandang dengan hati. Karena pintu surga menjadi begitu dekat. Menjadi marbot musholla ; muadzin, menyapu dan mengisi kolah dan kamar mandi, serta memberi makan ayam petelur di kandang belakang rumah. 

TPQ Annur namanya. Seratus lima puluhan santri yang mengaji di madrasah sebelah kiri dan depan musholla ini, menjadi arena belajar menjadi guru.

Tapi sejatinya kamilah yang sedang diajari. Oleh lingkungan yang telah ter kondisi. Diasuh oleh Mbah Kaji Ruba'i Ali. Beliau sedikit bicara tapi penuh kharisma. Keluarga beliau masih terus terukir indah dalam ingatan dan hati kami bertiga. Hingga doa kami terus mengalir "semoga Taufiq, Hidayah dan Inayah Nya senantiasa tercuruh pada beliau sekeluarga". Aamiin.

Kami tak mungkin lupa dengan kalimat ini yang selalu keluar dari bu Kaji di pagi, siang dan sore hari "Nal.. Nur.. sarapan, !!! mangan, !!! ndang mangan, dan seterusnya. Ya Allah sungguh mereka telah membuktikan cintanya kepada-Mu. Melalui mencintai tiga hambamu yang lemah ini. Semoga Alloh membalas, dengan kebaikan yang berlipat.  Aamiin.

Kawan, terlampau banyak bila kisah ini diurai. Tapi ada satu kisah yang Kawan perlu tau. Suatu subuh diriku (Nc) bangun lebih awal, molompati dua bangkai hidup Ng dan Zr, membersihkan diri lalu adzan subuh. Memang tidak sekeras adzan maghrib atau isya'. Tapi spiker TOA cukup membuat adzanku terdengar sampai kiloan meter di sekitarnya. Ada yang ter lupa sehabis adzan lampu belum sempat ku nyalakan karena ada urusan penting dan genting di belakang.

Sungguh "horor" sesaat diriku di kamar mandi belakang (maaf wc) terdengar si Kang Ng adzan subuh dengan pede nya, seakan dirinya yang bangun paling pertama. Sempat terpikir olehku sambil jongkok di kamar mandi, ada yang salah, ataukah tidak berkenanan dengan longlongan adzan subuhku. Heemm, ---sakitnya tu di sini--- aku jalan pelan di kegelapan tritisan, mengendap sambil menunggui informasi. ada gerangan apa adzan subuhku kok di ulangi lagi, padahal orang sekampung pasti mendengar dengan baik, bahwa kedua adzan barusan itu dari satu musholla, mushollanya mbah Kaji.

Tiba-tiba dari pintu ndalem terdengar suwara Gus Anwar (sekarang alm), berseloroh " ayo gek Zr ndang Adzan pisan ! Lomba po pie... Si Kang Ng masih belum paham maksud Gus Anwar. Sesaat kemudian jama'ah berdatangan dan tawa pun pecah. Ramai sumringah menggantikan kebiasaan pujian. Si Ng tersipu malu.

Keputusan sidang jama'ah dan pengakuan muadzin Ng, ternyata si Ng "terlalu tidur", hingga satu meter gema speaker TOA pun tak mendengarnya jadi "tidur pun jangan terlalu". 

Cerita ini saya tulis supaya kami bertiga selalu ingat akan sepotong kisah sejarah masa itu. Tulisan ini saya persembahkan untuk diriku sendiri (Noerhadi cilik/Nc) Trenggalek, Kang Noerhadi gedhe (Ng) Tulungagung, dan Kang Zaenal Rofi'i (Zr) Nganjuk. 

Alhamdulillah berkat barokah do'a dari mbah Kaji, bu kaji serta keluarga beliau, lima tahun dari kami berpamitan, kami diterima oleh pemerintah menjadi guru SMP, MAN, SD. [...]

Tulisan ini, awalnya penulis tempel di dinding facebook, pada 3 Pebruari 2015. Setelah sedikit edit, penulis repost di blog ini. 

KangNoer, 12 Juni 2020

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia