EMPAT BUKU MENYITA PERHATIANKU


Sebenarnya sudah menjadi komitmen (resolusi) pribadi, untuk latihan menulis di blog setiap hari. Setidaknya lima paragraf. Tapi hasrat menulis itu hari ini terpaksa saya tahan. Karena ada beberapa buku yang hari ini kembali menyita perhatianku. Dan jika hari ini jemariku bekerja (menulis), maka akan menunda lepas rinduku pada buku-buku itu. (Tulisan ini semacam cerita bahwa hari ini tidak menulis)

Satu buku kesayangan beberapa bulan yang lalu dipinjam teman. Karena sudah cukup lama, saya lupa peminjamnya. Melalui pesan WA, dengan bahasa yang halus bernuansa nuwunsewu. aku "menuduh" seorang teman telah meminjam buku itu. Dan benar juga, dugaan pertamaku keliru. Dengan bahasa yang halus pula, si-teman menjawab bahwa tuduhanku itu tidak benar dan tidak berdasar. Saya pun tidak heran atas jawaban tersebut, karena memang dugaan itu hanya bersifat spekulasi. Berarti  perlu memutar otak lagi. 

Satu hal yang tersisa dalam ingatan ku, bahwa buku itu dipinjam teman untuk anaknya yang sedang diberi tugas oleh gurunya. Semacam tugas menceritakan isi buku yang telah di baca semalam. 

Akhir-akhir ini kita semua tahu bahwa budaya literasi (baca & tulis) bangsa kita sedang mengalami paceklik. Dan tiada upaya lain yang bisa dilakukan kecuali memulainya dengan menggiatkan budaya baca melalui kurikulum sekolah. Lima belas menit sebelum pelajaran wajib digunakan untuk membaca buku non pelajaran. (Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015).

Tugas membaca buku di atas, masih pula disikapi dengan meminjam. Belum ada greget untuk membeli buku.  Artinya sekedar menggugurkan kewajiban saja. Belum sampai pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi membangun budaya literasi. Tak mungkin rasanya upaya membangun suatu budaya baru yang lebih baik, tanpa adanya pengorbanan. Kalo rata-rata siswa seperti ini, rasanya target dari Permendikbud di atas masih jauh panggang dari api. 

(Kembali ke masalah pinjam buku). Singkat cerita spekulasi kedua saya sukses. Seorang teman meng-iyakan buku saya tidur panjang di rumahnya. Dan siap memulangkan. Bahagia rasanya, karena tembakan spekulasi kedua tepat sasaran. Dan buku lusuh itu berhasil ke tangan. Lusuh sekali, karena buku ini mungkin sudah lebih dari lima kali ku katamkan. 

Urusan pinjam meminjam buku di kalangan kita memang seperti itulah adanya. Karena budaya baca yang rendah, menyebabkan nilai sebuah buku juga rendah. Hingga terkadang peminjam dan yang meminjami sama-sama tak begitu memikirkannya. Pada akhirnya dua-duanya amnesia, alias lupa.

Mungkin sama seperti keseharian kita tentang bolpoin, karena nilainya  hanya dua ribu lima ratus perak maka hari ini beli, besok sudah lupa di mana posisinya. Sebaliknya ia pasti akan selalu di dalam pikiran jika bolpoin itu misalnya nilainya satu juta karena ada aksesoris emas di dalamnya. 
------------

Buku kedua dan ketiga yang hari ini menyita perhatian adalah kiriman dari Maha Guru Literasiku, Dr. Ngainun Naim. Sehabis sholat dhuhur security perumahan mengetuk pintu. Kulihat dari dalam rumah, tampak membawa sebuah bungkusan berwarna coklat. Tak perlu berfikir lama, pasti ini yang saya nanti-nanti. Setelah ku buka, dua buku tersebut langsung kuberi kode dan tanggal kehadiran. Selamat datang kawan, dua buku baru berkode C-19. Untuk mengingatkan bahwa proses hadirnya buku ini karena lakon goro-goro si-Covid-19. 

------------

Buku keempat yang ku pergauli hari ini adalah buku yang ku pinang tahun 1999, berarti telah 21 tahun menjadi pasangan hidupku. Kode dan tanggal nya di belakang "baju"  (sampul) nya masih sangat jelas. 

Sejarah buku ini ku pinang, karena tergoda dengan kembarannya di miliki oleh seorang teman yang sangat ku kagumi, sampai sekarang. Yaitu Kang Tauhid Wijaya, beliau pernah dipercaya sebagai Pemred Radar Kediri Jawa Pos Group. Pada waktu itu (1999), dengan seijinnya saya ikut membaca dan menikmati bukunya. Karena jatuh cinta dengan isinya, kemudian saya berburu kembarannya di toko mana buku itu dulu di jual. Benar saja, saudara kandung buku itu menjadi jodohku, dan berhasil ku boyong pulang. 

Penulisnya Komaruddin Hidayat, dan Mohammad Wahyuni Nafis, "Agama Masa Depan, Persfektif Filsafat Perenial". 

Beberapa halaman saja se-sore ini yang sempat saya baca karena harus berbagi waktu dengan ngezoom literasi yang diadakan oleh Komunitas Kampus Desa, menghadirkan Dr. Ngainun Naim sang penebar virus literasi. 

Karena kabaikan saya, kepada para pengunjung setia blog literasi saya, berikut sedikit kutipan dari buku keempat tersebut : 

Dalam Kata Pengantar nya Budhy Munawar Rahman, mengutip perkataan E.F. Schumacher dalam epilog bukunya A Guide for the Perplexed, dikatakan bahwa: 

"Manusia modern telah mengalami kecemasan materialistik yang ditimbulkan oleh krisis lingkungan, krisis bahan bakar, krisis bahan makanan, dan krisis kesehatan".

"Menghadapi semua ancaman ini, kebanyakan orang (modern) masih mencoba percaya kepada kepastian teknologi". Dan seterusnya...

"Serempak dengan itu, kepercayaan kepada kemahakuasaan manusia, kini telah menipis". Dst... Semakin banyak orang mulai  menyadari bahwa "percobaan modern telah gagal". Percobaan itu mendapatkan rangsangannya mula-mula dari apa yang saya sebut revolusi ala Descartes, yang dengan logika yang degil, memisahkan manusia dari Tingkat-tingkat yang Lebih Tinggi, yang dapat mempertahankan keinsaniannya".

"Manusia menutup gerbong-gerbong Surga terhadap dirinya sendiri dan mencoba dengan daya kerja dan kecerdikannya yang besar sekali, mengurung diri mereka di bumi". Kini ia mulai mengetahui bahwa bumi hanyalah tempat persinggahan sementara. Sehingga suatu penolakan untuk mencapai Surga berarti tak sengaja turun ke Neraka". 

Beberapa kutipan di atas, menggambarkan bahwa filsafat modern yang saat itu di kembangkan oleh dunia barat, telah berupaya memisahkan manusia dengan Tuhan (Agama). Kemudian kini dalam perjalanannya mulai di sadari bahwa "percobaan modern untuk hidup tanpa agama itu telah gagal", dan kita pun lalu menjadi semakin tahu apa sesungguhnya tugas "pasca-modern" ini. 

Maka pada akhirmya kita sebagai umat yang gemulai akan Keyakinan pada ke Maha Kuasaan  Tuhan mesti berbangga dan bersyukur, karena kita hidup dengan tidak hanya mengunci diri di dunia, tetapi juga membuka pintu-pintu kebahagiaan abadi di alam Surga. fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah [...]

KangNoer, 03 Juni 2020
 

Comments

  1. Isinya yang luas menunjukan keluasan literasi, meminang bahkan sampai lebih. Betul-betul sistematis

    ReplyDelete
  2. Semakin membahana ustadz dan kyai postmodern ini. semua jempol yang saya punya tak berikan semua....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhhh matursuwun bunda jempolnya...tak simpen.

      Delete
  3. Modal menulisnya sudah banyak, mantab....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia