Mereka Semua Adalah Sang Juara
"Dihadapan gurunya manusia, setiap anak adalah juara". Demikian ditulis oleh Munif Chatib dalam bukunya; 2012 : 66. Hal ini antara lain didasari oleh kebiasaan labelisasi guru terhadap siswanya.
Ada siswa yang pandai karena ulangan selalu mendapat nilai sempurna. Ada yang rajin dan ada pula siswa yang nakal, bodoh, malas dan gelar negatif lainnya.
Labelisasi ini merupakan ekspresi dan reaksi batin dari proses interaksi seorang guru dengan siswanya. Sepertinya fenomena ini sudah mafhum dan bahkan demikian juga orang tua memberi penilaian terhadap anak anaknya di rumah.
Munib juga mengingatkan perlunya memperbaiki pola pikir yang masih sering memandang anak dengan kacamata hitam; nakal, ndablek, kurang ajar, dan seterusnya.
Karena pola pikir merupakan kunci utama, yang menentukan dimana posisi yang tepat bagi guru dan orang tua dalam menyikapi perbedaan (keunikan) anak-anaknya.
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin bisa menjadi pengingat. Siapakah anak manusia itu? Untuk apa ia dihadirkan ke dunia ini? Apa yang ia punya untuk bekal eksis dalam kehidupan ini ?
Pertanyaan di atas juga dapat mengantarkan pemahaman akan pentingnya posisi dan sikap ideal seorang pendidik di tengah keragaman siswanya.
Guru biologi pernah mengingatkan, bukankah keberhasilan mengalahkan jutaan sel sperma dalam persaingan nya membuahi sel telur hingga ia ditakdirkan lahir ke dunia ini adalah "sang juara" ?
Karena itu tahapan selanjutnya adalah bagaimana sang juara tersebut diperlakukan selayaknya sang juara ? Tentu saja lingkunganlah (terkhusus keluarga dan sekolah) yang harus benar cara pandangnya kepada setiap anak.
Benar dalam memberitahukan siapa diri mereka. Benar dalam memberitahukan apa itu alam semesta. Benar dalam membuka keajaiban-keajaiban personal yang dititipkan oleh Sang Maha Sempurna kepada setiap manusia.
Paradigma berikutnya yang juga sangat penting adalah pemahaman terhadap "kemampuan dalam arti luas". Kebalikan dari hal ini adalah "kemampuan dalam arti sempit". Sayangnya yang kedua inilah yang masih dominan di dunia pendidikan kita.
Dimana keunggulan anak cenderung didasarkan pada angka-angka hasil ujian pengetahuan semata. Belum menempatkan kompetensi ketrampilan, sosial dan spiritual sebagai aspek yang minimal sama pentingnya dengan kompetensi pengetahuan.
Demikianlan diantara elemen perubahan yang diusung oleh kurikulum 2013 yang sampai sekarang terus disempurnakan.
Bila cara pandang tersebut di atas dimiliki dan diterapkan oleh pendidik, maka mungkin kompetensi paedagogis guru makin mendekati lulus. Karena di tengah-tengah siswanya guru tersebut akan ;
memfasilitasi
bukan menggurui,
meng-inspirasi
bukan menginstruksi,
membantu bukan
menuntut,
memberi contoh
bukan masa bodoh,
peduli bukan acuh,
menghargai bukan
tiada peduli.
Terkait dengan pertanyaan pembaca; apakah penulis ini sudah seperti itu...? Maka jawabannya adalah ; "sangat ingin seperti itu". Dan berkeyakinan bahwa semua pendidik punya kesempatan untuk menjadi idola bagi anak didiknya. Asalkan mempunyai keterbukaan diri dan tidak berhenti belajar. Tidak alergi untuk selalu "mengasah gergaji".
Mari terus memotivasi diri dengan meneguhkan resolusi "Jangan berani mengajar jika kita berhenti belajar". Hingga kita bisa menjadi gurunya manusia. Yang mampu melihat semua anak manusia adalah SANG JUARA.
KangNoer, 16 Juni 2020
Mantep....
ReplyDeleteAamiin..
DeleteTidak ada Mantan siswa
ReplyDeleteTidak ada Mantan guru,
Tidak ada Mantan kepala,
Tidak ada Mantan pengawas
Yang ada :
pengalaman terbaik ku kan ku jadikan kado terindah dalam kehidupan.
Selamat berbagi ilmu, suwun
Wuuuih...siiip mister .
Deletejudulnya dilihat lagi...contennya keren
ReplyDeleteTrimakasih pak doktor haji... Sampun kerso mmbaca
DeleteDan trimkasih tak terhingga koreksinya.