Mencari Alasan Menceraikan mu

Menasehati diri tiada henti


Manusia mana yang tak jatuh cinta kepadamu.  Kau sungguh memiliki segalanya. Kecantikan, ketampanan dirimulah gudangnya. Emas dan permata kau menyimpannya di mana-mana. Keindahan ; semua bagian tubuhmu mu indah dari atas sampai bawah menyimpan misteri yang tak pernah habis dieksplorasi. 

Warna warni busanamu menyita perhatian setiap mata. Semerbak wangimu, alami melengkapi semua selera pecinta aroma.  Kau mampu menciptakan seribu rasa pemuas semua selera. Kurang apalagi hebatmu..

Keahlianmu melayaniku menikmati kelezatan makanan sungguh sempurna. Saat ku jenuh makan karbohidrat kau sediakan protein. Saat ku jenuh makan daging kau sediakan lauk daun (sayur). Saat ku jenuh makan sayur kau sediakan buah. 

Saat ku jenuh makan buah mangga, kau sediakan pepaya. Saat jenuh makan papaya kau sediakan aku pisang, saat jenuh makan pisang kau sediakan aku buah apel, saat ku jenuh makan apel kau sediakan buah durian, dan seterusnya. Kurang sempurna apa kesetiaanmu melayani dan menghidangi ku ? 

Kau sungguh paling pengertian. Saat aku mencuci kau yang mengeringkan. Saat kelelahan kau peluk dan selimuti aku  dalam temaram dinginnya malam yang mengistirahatkan. Saat tenggorokan mengering, kulit lekat dengan keringat  kau sediakan di dekatku bermacam minuman.

Kini ku makin mengerti. Ternyata sisi romantismu; memperhatikan, melayani, menghidangiku telah membuatku terpedaya. Ku terlalu mencintai mu. Segala apa yang kumiliki kuhabiskan untuk dirimu; pikiran, tenaga, perhatian bahkan waktuku dua pulum empat jam yang Dia pinjamkan hampir semua tersita untuk mengejar mu. Untuk bermesra denganmu.

Wahai DUNIA maafkan aku,  bila ku memilih MENCERAIKANMU. Guruku yang telah berguru kepada Utusan-Nya, menasehatiku.  Beliau mengingatkanku bahwa hidup itu tidaklah lama. Guruku mendidikku untuk menjadikan AKHERAT sebagai modal dan DUNIA sebagai labanya. 

Guruku meyakinkanku untuk memperkuat modal AKHERAT  dan menjamin kepastian laba DUNIA. Beliau memerintahkan untuk menggunakan waktu pertama-tama untuk mendapatkan keuntungan akherat, selebihnya baru digunakan  untuk kepentingan dunia. 

Tidak sebaliknya, menjadikan dunia sebagai modal sedangkan akherat sebagai labanya. Hingga menggunakan sisa waktu mencari dunia, untuk urusan akherat. Sebahyang lima waktu dengan tergesa-gesa sehingga menelantarkan rukun-rukunnya serta tidak thuma’ninah melakukannya.

Semua itu memang tidaklah mudah, karena itu harus terus dilatih dan diperjuangkan. Mula-mula belajarlah melurus-luruskan NIAT dalam aktifitas sehari-hari mu.

Sebagaimana nasehat maha guru Imam Hadad "Wajtahid anlaa tadkhula fii syaiin minal'aadzati illaa binniyatin shoolihatin". (dan bersungguh-sungguhlah kamu dalam setiap memulai melakukan sesuatu kebiasaan sehari-hari, kecuali meniatinya dengan niat yang sholih/baik).  Lillaahi ta'ala. [...]


KangNoer, 15 Juni 2020

Comments

  1. Sungguh mendalam maknanya...mening Kang Noer...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhhh Yai Ans... Aamiin... Niki taksih siap2 bade menikmati tulisan pnjngan... Perlu waktu khusus maosipun...supata lebih nikmat. Eman2..mesti siip tulisan pnjngan.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia