Pendidikan Itu Untuk Siapa?

Bahan Renungan Para Desainer Pendidikan Indonesia


Beberapa hari terakhir ini muncul dua diskursus besar di tengah masyarakat Indonesia. Keduanya menyangkut perkara yang sangat penting bagi perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itulah kalangan tertentu menyikapinya dengan penuh keseriusan pemikiran. Dua diskursus itu adalah; Rancangan Undang-Undang Haluan Idiologi Pancasila (RUU HIP) dan Penyederhanaan Kurikulum Sekolah.  

Saya katakan hanya "sebagian kalangan", saja yang mencermati dan menyikapi dua isu ini. Karena dua isu penting ini muncul di saat rakyat Indonesia sedang fokus menghadapi masalah genting yang belum terselesaikan yaitu, "perang" melawan "pandemi" covid-19. 

Untuk bahasan tentang wacana RUU HIP, saya serahkah kepada para ahli yang kompeten terhadap sejarah dan cita-cita bangsa ini berdiri. Karena hal ini bukan perkara yang biasa-biasa atau remeh-temeh. Tapi menyangkut pondasi dan soko guru bangunan Negara Indonesia didirikan. 

------------------

Di tengah berjibaku dengan wabah covid-19 yang belum beranjak turun grafiknya, dimana semua orang menyimpan pertanyaan kapan sekolah dibuka? Pagi tadi (17/06/2020) muncul sebuah bocoran wacana dari pemerintah yang akan menyederhanakan kurikulum 2013. 

Krusialnya, di antara sasaran dari program di atas adalah penggabungan beberapa mata pelajaran (mapel) dalam kurikulum sekolah dasar. Wacana ini beberapa tahun yang lalu sempat muncul berulang kali, dan selalu menghangatkan suhu di otak dan hati masyarakat pendidikan Indonesia. 

Mapel yang cukup sensitif yang akan di merger dengan mapel yang lain adalah Pendidikan Agama. Beberapa orang sempat menghubung-hubungkan isu ini dengan RUU HIP. Karena memiliki kesamaan dalam hal mempersempit ruang untuk bicara dan belajar agama. Wallohu 'alamu.

Jika isu pendegradasian posisi mapel agama ini benar dan dilanjutkan, maka ada baiknya kita membuka-buka kembali landasan berfikir tentang pentingnya pendidikan agama bagi peserta didik, terlebih di negara yang "ber-Ketuhanan" ini. 

Saat tulisan ini sedang saya buat,  ada notice dari media online yang muncul di layar handphone. Setelah saya buka ternyata berita tentang polemik yang saat ini sedang saya tulis benar adanya. 

JPNN.com memberitakan bahwa telah ramai dibicarakan di masyarakat pagi ini (17/06/ 2020), adanya bocoran materi FGD KEMENDIKBUD tentang rencana penyederhanaan Kurikulum 2013. Di antara slide materi FGD tersebut, memaparkan penggabungan mapel pendidikan agama dengan mapel lain. 

Menyikapi polemik yang ramai pagi itu, pengamat dan praktisi pendidikan Indra Charismiadji mengatakan "kalau PKn dan pendidikan agama dilebur, ini bisa jadi masalah, bisa juga tidak. 

Yang jadi pertanyaan apakah Pancasila, Kewarganegaraan dan Agama itu satu kesatuan?" Indra berharap berharap "mapel agama tetep berdiri sendiri, jangan dilebur".  (JPNN.com, Rabu 17/06/2028)

Saat dihubungi ppnv.com Kepala Penelitian dan Pengembangan KEMENDIKBUD, Totok Supriyatno membenarkan ada FGD penyederhanaan Kurikulum (K-13). Namun ia menyatakan hal ini masih tahap pembahasan / belum final. 

--------------

Tulisan ini bukan bermaksud untuk bersikap setuju atau monolak, terhadap rencana peleburan mapel agama dan mapel lain. Tetapi lebih pada keinginan memasuki ruang diskusi (akademik) karena masalah ini cukup seksi untuk didiskusikan. 

Lebih-lebih di tengah semerbaknya bumbu-bumbu hangat di dapur penggodokan RUU-HIP. Yang aromanya bersemangat meringkas lima sila Pancasila yang sakral itu menjadi trisila dan/atau eka sila. Di mana sila Ketuhanan yang dulu pernah di ajarkan di sekolah sebagai menjiwai empat sila yang lainnya, desas-desusnya akan di hilangkan. 

---------------

Masalah pendidikan, memang selalu menarik untuk di bicarakan. Sejak dahulu bahkan ratusan tahun sebelum masehi manusia sudah membicarakan pendidikan. 

Berbicara tentang seberapa penting pendidikan agama bagi anak didik?, barang kali perlu dimulai dari pertanyaan berikut ini; untuk siapa pendidikan itu? Jika sepakat bahwa pendidikan itu untuk manusia, maka pertanyaan berikutnya adalah siapa hakekatnya manusia itu? 

Menjawab pertanyaan di atas, Ahmad Tafsir (2006:7-31) menjelaskannya dalam tiga topik; 1) Manusia menurut Manusia, 2) Manusia menurut Tuhan, 3) Inti Manusia. 

Manusia menurut Manusia

Socrates mengatakan bahwa belajar yang sebenarnya ialah belajar tentang manusia. Kalimat ini sangat mendasar. Manusia mengatur dirinya, ia membuat peraturan untuk itu, manusia mengatur alam dan membuat aturan untuk itu. Manusia mengurus dirinya dan alam berdasarkan manusia itu sendiri. Manusia adalah sentral segalanya. 

Menurut Socrates, salah satu hakekat (essense) manusia ialah rasa ingin tahu dan untuk itu harus ada orang yang membantunya yang bertindak laksana bidan yang membantu bayi yang keluar dari rahimnya. Atas pikiran kritisnya Socrates di hukum mati tahun 399 SM oleh pengadilan Athena karena dituduh mempengaruhi anak muda dengan pemikiran yang buruk.

Plato salah seorang murid Socrates berpendapat bahwa, jiwa manusia adalah entitas non material yang bisa terpisah dari tubuh. Jiwa itu sudah ada sejak sebelum kelahiran, jiwa tidak bisa hancur alias abadi. Lebih lanjut Plato mengatakan bahwa hakekat manusia itu ada dua, yaitu  rasio dan kesenangan (nafsu). Pada bagian lain plato juga berteori bahwa jiwa manusia terdiri dari tiga elemen, yaitu roh, nafsu dan rasio. 

Plato mengandaikan roh sebagai kuda putih, nafsu sebagai kuda hitam; keduanya menarik kereta yang dikendalikan oleh kusir yaitu rasio yang bersusah payah mengendalikan laju kereta. Plato berpendapat bahwa program pendidikan haruslah membantu rasio dalam mengendalikan kereta tersebut. Plato meninggal tahun 347 SM. 

Rene Descartes (1596-1650). Ia sangat menekankan rasio pada manusia. Descartes berpendapat ada dua macam tingkah laku, yaitu tingkahlaku mekanis yang ada pada binatang dan tingkah laku rasional yang ada pada manusia. Descartes juga berpendapat bahwa berfikir itu sangat sentral bagi manusia. Manusia menyadari keberadaannya karena ia berfikir (cogito ergo sum). 

John Locke  (1623-1704). Filosof Ingris ini sangat terkenal dengan teorinya tabula rasa yang mengatakan bahwa jiwa manusia itu saat dilahirkan laksana kertas putih bersih. Kemudian diisi dengan pengalaman-pengalaman yang diperoleh dalam hidupnya. Pengalamanlah yang paling menentukan keadaan seseorang. Dan karena itu pendidikan sangat berpengaruh pada diri seseorang. 

Manusia menurut Tuhan

Ahmad Tafsir (2006:14) mengatakan bahwa penjelasan terbaik tentang hakekat manusia adalah penjelasan menurut Pencipta manusia. Penjelasan oleh rasio manusia mempunyai kelemahan karena akal itu terbatas kemampuannya. Buktinya akal sendiri tidak mengetahui apa akal itu sebenarnya. 

Berikut di jelaskan hakekat manusia menurut al-Qur'an. Al-Qur'an adalah kitab yang secara ilmiah terbukti memuat firman Tuhan dan masih asli. 

Menurut al-Qur'an manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Jadi manusia itu berasal dan datang dari Tuhan. Berikut ini beberapa penjelasan hakekat manusia menurut Tuhan dalam kitab al-Qur'an. 

Al-Qur' an  surat al-'Arof 31 menjelaskan bahwa makan dan minum bagi manusia itu sebuah keharusan. Hal ini sebagai indikasi bahwa manusia itu memiliki unsur jasmani. Pentingnya fungsi jasmani dalam Islam terlihat juga dalam al-Qur'an surat al-Baqoroh ayat 57, 60, 168, juga dalam surat al-'Arof ayat 31-32. 

Akal adalah salah satu aspek penting dalam hakekat manusia. Ini dijelaskan dalam banyak ayat di dalam al-Qur'an. Abdul Fatah Jalal (1988:58) mengatakan ada 49 tempat yang menyebutkan kata 'aqola. Sehingga akal atau berfikir adalah salah satu unsur manusia yang hakiki. 

Aspek lain ialah ruh atau ruhani. Penjelasan tentang aspek ruhani ini terdapat dalam al-Qur'an antara lain surat al-Hijr ayat 29 "tatkala Aku telah menyempurnakan kejadiannya, Aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka...". Ayat yang sama terdapat dalam surah Shaad ayat 72. Dengan demikian ruh adalah juga unsur hakiki pada manusia. 

Al-Syaibani (1979:130) menyatakan bahwa manusia memiliki tiga potensi yang sama pentingnya yaitu jasmani, akal dan ruh. Dikuatkan oleh Muhammad Quthb (1988:31) menyatakan bahwa eksistensi manusia ialah jasmani, akal dan ruh. Ketiganya menyusun manusia menjadi satu kesatuan. 

Inti Manusia 

Untuk memahami ajaran al-Qur'an tentang pendidikan mula-mula --dan yang paling utama-- yang harus dipahami ialah hakekat manusia menurul al-Qur'an. Ini sangat penting sebab pendidikan itu adalah untuk manusia. Adalah berbahaya bila kita mendesain suatu pendidikan sementara kita tidak paham betul tentang siapa yang akan dididik dengan desain itu. 

Kesalahan yang sering muncul adalah bahwa mendesain pendidikan secara parsial, belum terintegrasi. Sering kali yang dididik adalah tangan manusia, mata manusia, atau otak manusia. Manusianya sendiri tak tersentuh. 

Yang terjadi kemudian adalah si-lulusan yang ahli tangannya. Misalnya ahli membuat mesin, ahli melukis, ahli memainkan alat musik tetapi ia belum tentu manusia. Padahal pendidikan itu untuk memanusiakan manusia. 

Tafsir (2006:25) mengilustrasikan sebuah bawang  merah. Anda kupas bagian paling luar, anda mengupas kulit bawang. Anda kupas lagi, anda mengupas kulit bawang; anda kupas dan kupas lagi anda menemukan kulit bawang. 

Lalu bawang nya yang mana? Nah anda kupas terus maka anda akan menemukan bawang yang  amat kecil. Ini adalah "lembaga" (kotiledon) bawang. Lembaga inilah yang akan tumbuh bila ditanam. 

Karena itu kita harus mencari kotiledon manusia yaitu inti manusia. Bila itu ditemukan maka bagian inilah yang dijadikan sasaran utama pendidikan. Selanjutnya kita dapat mengatakan bahwa kita telah mendidik manusia. Dan bila alumni pendidikan itu dilepas dalam kehidupan masyarakat ia akan tumbuh. Tidak membusuk seperti menanam kulit bawang merah. 

Sekali lagi kita (pendidikan) harus mampu menemukan hakekat manusia atau inti manusia atau core manusia. Apa itu inti manusia? Teori Syahbani tadi belum mampu menjawabnya. 

Perhatikan kisah berikut ini; suatu ketika serombongan orang Arab padang pasir datang menemui Nabi Muhammad SAW sambil berkata "Ya Rasul Alloh kami telah beriman" Nabi yang mulia mengatakan "Janganlah kalian mengatakan kami telah beriman, katakan saja kami telah tunduk, sebab iman itu belum masuk ke dalam kalbu kalian."

Iman yang begitu tinggi kedudukannya dalam kehidupan manusia. Menurut dalil itu terletak di dalam kalbu, bukan di kepala atau jasmani. Keterangan ini amat penting untuk dipahami desainer pendidikan. 

Manusia dikendalikan oleh word view-nya; karena iman adalah sesuatu word view, maka manusia sejatinya dikendalikan oleh imannya. Jadi inti manusia adalah imannya, karena iman itu di kalbu, maka dapat juga dikatakan bahwa inti manusia itu di kalbunya. Dengan demikian kalbu itulah yang menjadi sasaran pendidikan untuk diisi dengan iman. 
-----------------

Sejauh ini ternyata peneliti Barat ada juga yang telah sampai pada temuan tertentu tentang hal di atas. Mereka mengatakan kesejatian manusia adalah emosi karena itu EQ nya harus tinggi. Yang lebih maju lagi dengan mengatakan inti manusia adalah spirit, maka SQ nya haruslah tinggi. Pada titik ini peneliti Barat dan konsep Islam menemukan lokasi yang sama tentang inti manusia yaitu spirit/kalbu. 

----------------

Memahami beberapa teori dan argumentasi di atas, maka saya sepakat dan berpendapat bahwa : 
1) Pendidikan adalah untuk manusia, karena itu desainer pendidikan wajib paham siapa hakekat/inti/sejatinya manusia. 

2) Untuk memahami hakekat manusia, yang paling valid adalah bertanya atau mencari jawaban dari Sang Pencipta manusia yaitu Tuhan (Alloh SWT). Yang telah menurunkan Petunjuk melalui Wahyu-Nya dalam Kitab Suci (al-Qur'an). 

3) Mendesain sistem pendidikan berdasarkan rasio dan kepentingan desainer (manusia), dengan  mengabaikan penjelasan Tuhan tentang manusia berpotensi mengalami kesalahan tujuan. Yang berujung pada hasil tidak memuliakan manusia tapi merendahkan keistimewaan manusia itu sendiri. 

4) Pendidikan Agama (Islam) yang nyata-nyata mengajarkan ilmu-Nya Tuhan, seharusnya menempati ruang yang istimewa dalam desain pendidikan. Mengabaikan atau menghilangkannya akan berpotensi mendegradasi kualitas pendidikan itu sendiri. 

Karena itulah, jika Negara Indonesia ini benar-benar didirikan di atas Ketuhanan Yang Maha Esa, seharusnya terus berupaya memperkuat posisi Pendidikan Agama dalam struktur (desain) kurikulum Pendidikan Nasional. Tidak tergoda hanya mendidik tangan dan otak manusia nya saja.  Tetapi mendidik manusia sejati/seutuhnya meliputi; jasmani, akal dan kalbunya. [...] 

#save-Pendidikan-Agama-Islam-di-Sekolah


KangNoer, 18 Juni 2020

Comments

  1. Akan dibawa kemana pendidikan Indoneasia

    ReplyDelete
  2. Mereka yang tidak senang agama, menganggap sgama adalah candu, mereka sekuat tenaga bagaimana agama dipinggirkan dengan cara yang masif , tahu kan yang saya maksud , sangat kental aromanya ke arah situ

    ReplyDelete
  3. Pendidikan itu untuk siapa? Untuk peserta didik, peserta didik itu manusia. Melalui proses pendidikan diharapkan mampu mengenal siapa dirinya, Tuhannya dan lingkungannya.

    ReplyDelete
  4. Menarik dan menggelitik...
    Salut sama penulis nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sinten nggih bund penulisnya... Swun bund sudah berkenan mmbaca.

      Delete
  5. Replies
    1. Ter inspirasi panjenengan yai... Pangestunipun..

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia