Ambyar ; Belajar Bahagia dalam Perih
Didik Prasetio yang kemudian pupuler dipanggil Didi Kempot memang telah tiada. Seniman kelahiran Surakarta 31 Desember 1966 ini, telah memenuhi taqdir-Nya pada tanggal 05 Mei 2020 meninggalkan dunia. Tapi karya literasinya berupa ratusan lirik dan lagu telah melegenda. Dan lagu-lagunya akan terus hadir mewarnai jagat hiburan Indonesia. Memanjakan mata dan ruang dengar para penggemarnya. Lagu yang mampu merasuki sanubari jiwa-jiwa patah hati, korban pengkhianatan cinta.
Semua meng-iyakan saat para penggemarnya yang tergabung dalam komunitas sobat ambyar menyematkan julukan "The Godfather of Broken Heart" atau "Sang Dewa Patah Hati". Almarhum berhasil memotret dengan tepat melimpah ruahnya kasus pengkhiatanan asmara di negeri ini. Hingga ia rela mensenyawakan dirinya dengan swasana hati para penyandang kegalauan tak terperi itu.
"The godfather of broken heart" telah sukses menyelami jiwa-jiwa yang tersakiti. Seakan ia merasakan sendiri betapa : sakitnya dikhianati, sakitnya dilanda rindu setengah mati, sakitnya di tinggal pergi saat sedang cinta-cintanya, sakitnya di tikung selingkuh, serta kekejaman cinta lainnya. Rasa remuk nan hancur berserakan itu, dikumpulkannya dalam satu kata, "ambyaar".
Ambyar dalam bahasa jawa artinya bercerai-berai, berpisah-pisah, tidak terkonsentrsi. Kemudian orang jawa menggunakan kata ambyar untuk menunjukkan sesuatu yang remuk dan hancur berserakan. Saking dijiwainya istilah ini oleh para penyandangnya, kemudian diekspresikan begitu matang di panggung-panggung dan konser nan megah, maka yang terjadi kemudian adalah sebuah tontonan karya seni yang indah. Menjadi obat pelipur lara dan gundah. Hingga menjadi maghnet yang mengundang daya tarik tersendiri, terkhusus alumni universitas broken heart di manapun berada.
Saat sang dewa patah hati berdiri di atas panggung mengenakan Beskap (busana khas jawa tengah) kemudian memanggil-manggil kata itu (ambyar), para penggemar langsung mengangkat kedua tangannya sambil berteriak sebunyi-bunyinya. Menegaskan bahwa yang sedang dipanggil oleh sang idola tersebut adalah aku. Akulah orang yang kisah asmaranya paling ambyar itu.
Cinta dan ambyar adalah dua kutub berbeda yang tak terpisahkan. Laksana siang dan malam, gelap dan terang. Juga ibarat hidup dan mati. Pasangan yang hampir selalu menyertai. Mereka terkadang menghibur diri dengan berkata "jangan berani hidup jika takut mati". Pun juga "jangan berani mencintai jika takut sakit hati".
Sang Legenda. Karya literasi dan lagunya telah mengekalkan kegalauan. Menikmati sakitnya kecewa dengan menyanyi dalam bahagia yang perih. Dan ini menjadi bukti, bahwa bahagia itu bukan monopoli mereka yang sedang gemulai kasih sayang semata. Tetapi seperih apapun sakit dirasa, sebenarnya pintu bahagia itu tak pernah terkunci.
Ambyar_nya suatu harapan di dunia ini, bukanlah kiamat, yang seakan-akan semua harapan telah berakhir. Disinilah kita tersadar, bahwa Tuhan memberikan karunia "lupa" menemukan ruang dan waktunya. Cukup angkat kedua tangan, pejamkan mata, goyang sedikit dan segera lupakan kegalauan. Karena hidup ini tersusun, terdiri dari banyak halaman, berjilid-jilid dan berjudul-judul. Segera lupakan dan buka lembaran takdir kehidupan yang lain. Karena Dia Tak Pernah Berubah, Dia Yang Maha Baik.
Lebih-lebih bila mampu memegangi spirit dari Firman Suci berikut ini "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal sejatinya ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu ; Alloh Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui" . (Al-Baqoroh : 216)
---------------
Entah kebetulan ataukah sudah suratan. Tapi mestinya sesuatu yang terjadi, tak ada yang kebetulan. Karena tak sehelai daun pun yang jatuh kecuali Dia (Alloh SWT) Mengetahuinya, (QS. Al-An'aam:59). Ditegaskan juga bahwa. ... Alloh mengatur urusan (mahkluk-Nya). (Ar-Ro'd:2).
Di saat popularitas ambyar sedang ambya-ambyarnya. Sang kreator di panggil oleh Yang Maha Kuasa, pada 05 Mei 2020. Pada saat yang sama Indonesia bahkan dunia pun juga sedang ambyar di landa "pandemi" corona.
Sekolah ambyar; gedungnya ditutup, belajar dirumahkan, pembelajaran didaringkan, ujian kelulusan tak diharuskan, adat istiadat pesta purnawiyata dan wisuda tak diijini, tiba-tiba sudah jadi alumni.
Aktifitas ekonomi ambyar; transpirtasi dibatasi, distribusi barang terhenti, usaha lesu dan sepi karena para pelaku dan pembeli bersembunyi; mengurung diri di rumah, mengisolasi diri.
Ibadah pun turut ambyar; keluar fatwa dari majelis ulama' lebih baik ibadah di rumah, hindari kegiatan kerumunan dan jama'ah-jama'ah, shof sholat diubah dari rapat menjadi berjarak, hari raya tak dirayakan, halal bihalal tak di ceremonialkan.
Yang terakhir dan membikin super galau para perindu Ka'bah dan padang Arafah adalah keputusan absen nya pemberangkatan ibadah haji tahun 1441 H / 2020 M. Ambyar, dan sungguh ambyar penantian 20 tahun lebih para kekasih Alloh ini. Mereka tentunya terus berdo'a semoga ada keputusan ajaib, serta memohon diberi panjang umur hingga bisa berangkat musim haji tahun depan.
---------------
Saatnya kita menyisihkan sedikit waktu untuk belajar dari fenomena ambyarisme, yang menyikapi kegalauan dengan menyanyi dalam bahagia yang perih. Dan saatnya kita menghentikan diri dari gerakan untukku menjadi gerakan untuk Mu. Dengan terus merenungi bahwa Dialah Penguasa Seluruh Rahasia di alam semesta.
Yang memperingati manusia melaui Rasul-Nya "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal sejatinya ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu ; Alloh Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui" . (Al-Baqoroh : 216).
Menghadapi situasi yang sedang tidak dikehendaki, ada baiknya kita juga mengingat kembali nasehat Umar bin Khotthob ra; "Aku tidak peduli dalam keadaan apa aku menjalani hariku, dalam keadaan yang aku sukai atau tidak aku sukai, karena aku tidak tahu mana yang lebih baik bagiku di antara keduanya". (Adab-adab perjalanan spiritual 2008 : 224).
KangNoer, 10 Juni 2020 (post)
Kulo salah satu penyuka lagu-lagunya kang... seniman yang konsisten dengan lagu jawanya disaat penyanyi lain tidak ada tertarik dengan lagu-lagu bernuansa daerah
ReplyDeleteSelera musik yg bagus pak pri... Siip n trimkasih
DeletePasti ada hikmah di setiap ambyar....
DeleteInsyaa Alloh mekaten
DeleteSubhanalloh...kadang kita sering terbuai dg lahir yg kita rasakan, sprt kesulitan yg kita hadapi, namun sebenarnya Alloh mempersispkan batin kita untuk menyongsong kemudahan2 berikutnya
ReplyDeleteAamiin... Smbahnuwun tausiyah ipun Yai...
Delete