Pendidikan, Urusan Yang Tak Pernah Selesai


Saya membayangkan, dari dulu dan sampai kapanpun, manusia akan selalu ber-urusan dengan pendidikan. Selama manusia terus ber-reproduksi, melahirkan manusia-manusia baru. Pendidikan akan selalu menjadi urusan pertama dan utama. Kecuali semenjak di lahirkan si-jabang bayi tiba-tiba  sudah mampu membaca, menulis, terampil dan berakhlak. Sepertinya hal ini tidak mungkin terjadi, alias hal yang mustahil. 

Belum pernah ada suatu masa yang di situ pendidikan tidak dibicarakan. Di semua negara dan di semua waktu. Pendidikan merupakan masalah yang tak pernah selesai (unfinished agenda). Pendidikan selalu terasa tidak pernah memuaskan. (A.Tafsir, 2006:40)

Apakah negara-negara yang disebut maju tidak pernah lagi membicarakan urusan pendidikan di negaranya? Apakah mereka sudah betul-betul puas terhadap hasil pendidikan mereka, hingga tak lagi mengkritik pendidikan di negaranya? Saya yakin merekapun tetap merasa kurang puas dan tetap mengkritisi pendidikan di negara majunya tersebut. 

Orang yang mengerti tentang pendidikan sudah pasti akan banyak berpikir dan bicara pendidikan. Bahkan orang yang tak tahu apa-apa tentang pendidikan pun, juga akan ikut bicara pendidikan karena anak turunnya pasti telah dan akan mengeyam pendidikan. Jadi, pendidikan adalah masalah bersama, semua orang berkepentingan dengan pendidikan.

Seiring dengan kemajuan zaman, pendidikan akan semakin istimewa peranannya. Karena siapapun yang hidup pada suatu zaman tertentu, maka tiada pilihan lain kecuali menyesuaikan diri dengan situasi yang ada. Pendidikanlah yang membantu manusia untuk bisa survive menghadapi dinamika kehidupan. 

Maka tak berlebihan jika dikatakan bahwa pendidikan adalah poros segala urusan kehidupan. Sebagai pusat penggerak yang tak boleh berhenti bergerak. Sebagai pusat belajar yang tak boleh berhenti belajar. Sebagai pusat peradaban yang tak boleh berhenti berfikir menyiapkan modal sukses di masa depan. 

Oleh karena itu sangat wajar, jika mereka-mereka yang berkecimpung di dalam managemen pendidikan menjadi orang yang super sibuk. Penuh waktu tiada henti berfikir, mengurus dan menyelesaikan urusan rumah tangga lembaga pendidikan. 

Dalam ilustrasi yang sederhana, lembaga pendidikan adalah lembaga yang menyiapkan diri menampung masalah. Bukankah setiap anak yang mula-mula diterima (masuk) di sekolah itu, membawa segudang masalahnya masing masing? 

Masalah yang dimaksud adalah;
Belum bisa membaca,
Belum bisa menulis, 
Belum bisa memahami sesuatu, 
Belum bisa menghafalkan sesuatu,
Belum bisa menyebutkan sesuatu,
Belum mampu membedakan sesuatu, 
Belum mampu menganalisa sesuatu,
Belum mampu menerapkan sesuatu, 
Belum mampu membuat sesuatu, 
Belum mampu mengenali diri, 
Belum mampu mengenali alam,
Belum mampu mengenali yang nyata, 
Belum mampu mengenali yang ghaib, 
Belum mampu menjadi sesuatu, 
dan seterusnya...

Yang tersebut di atas adalah salah satu urusan dari sekian banyak urusan yang mesti di urus oleh Pendidikan. Gurunya, kurikulumnya, sarprasnya, pembiayaannya, prosesnya, evaluasinya. Dan seterusnya. 

Pendidikan adalah perjuangan yang unfinished agenda [...]

KangNoer, 18 Juni 2020

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia