PELAJARAN DARI SI ANAK VISUAL



Pandemi Covid-19 telah menghadirkan banyak pengalaman dan istiadat baru. Diantaranya adalah BDR (Belajar Di Rumah). Hampir empat bulan sejak bulan Maret sampai (perkiraan) Juni 2020, sekolah ditutup dan pelajar dirumahkan. 

Selama BDR tersebut, para guru berusaha memastikan siswanya tetap belajar di rumah. Setiap hari efektif, guru meluncurkan tugas melalui media komunikasi daring (dalam jaringan). Kemudian si-anak didampingi orang tuanya mengerjakan tugas tersebut. 

Saya menyebut hal ini sebagai kebiasaan (istiadat) baru, atau mungkin lebih kerennya new normal. Karena selama ini, rumah jarang  berfungsi laksana sekolah seperti itu. Paling-paling mengerjakan PR malam hari sebelum tidur. 

Istiadat baru siswa belajar di rumah, menuntut orang tua khususnya ibu, menjadi guru baru. Sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang berlebihan. Karena semua orang tua sejatinya adalah guru pertama. Dan dewasa ini mereka juga para lulusan sekolahan. Tentu saja masih sangat lekat dalam ingatan mereka, bagaimana tingkah polah gurunya dahulu mamahamkan sebuah materi pada murid-murid nya. 

-------------

Pengalaman pribadi saya saat melihat gaya seorang ibu (istri), selama mendampingi anaknya belajar, terkadang membuat tersenyum. 

Kawan,... Senyumku di atas, bukan karena menemukan suatu kesalahan atau kejanggalan. Sama sekali bukan. Percayalah, semua berjalan lancar dan baik-baik saja. Kalaupun ada anak yang sesenggukan dan menangis, itu karena mengantuk, atau bermanja-manja minta dibelikan jajan. Bukan karena bersitegang dengan guru baru tersebut (ibunya). Percaya kan ?

Senyum saya tadi karena teringat materi-materi (ilmu) kependidikan yang dahulu kala pernah saya pelajari. Ilmu-ilmu yang berjudul ; psikologi pendidikan, metodologi pembelajaran, model-model pembelajaran, teknik pembelajaran, quantum teaching and learning, dan sebagainya. 

Tiba-tiba saja terbersit dalam pikiran saya bahwa ilmu yang dulu pernah membuat pusing saat membuat makalah dan membuat berdebar saat presentasi maakalah tersebut ternyata sungguh penting. 

------------

Suatu contoh saat guru baru ini menuntut si anak (kelas IV SD), memahami dan membedakan tiga istilah terkait kegiatan ekonomi. Produksi, Distribusi dan Konsumsi. Bagi orang dewasa hal ini ibarat makan cendol dawet. Muuudiaaah,... tinggal menelan langsung sampai usus. Tak perlu susah payah mengunyah. Ibaratnya !

Tapi ternyata tiga istilah tersebut bukan perkara yang mudah bagi anak untuk membedakannya dan meng-herarki-nya. Istilah yang cukup asing di telinga, serta bukan urusan kesehariannya. Karena itu untuk memahami nya perlu dihadirkan melalui segenap panca inderanya. Tidak cukup dengan diperdengarkan lewat indra pendengarnya saja (auditory). 

Dari tempat yang agak jauh, saya diam-diam mencoba mengikuti drama pembelajaran antara murid dan guru baru tersebut. Beberapa kali sang guru baru mengulang tiga istilah itu beserta definisinya. Nada nya semakin keras, karena si murid beberapa kali kurang tepat menjelaskan dan mengurutkannya. Kemudian sang guru mengulangi nya lagi menjelaskan. 

Episode berikutnya,.. dengan segala hormat tidak perlu saya ceritakan. Karena si murid mulai "manja", suaranya tak se riang sebelumnya. Seperti sedang melihat hantu sedang iseng lewat. 

Apa yg dilakukan oleh guru baru di atas dengan membaca (memperdengarkan) kemudian menanya (test) muridnya adalah salah satu dari banyak cara yang bisa di gunakan untuk mencapai kepahaman (ketuntasan belajar). 

Mungkin guru lain akan menempuh jalan yang berbeda. Misalnya dengan membuat tiga gambar : 1) gambar orang sedang membuat roti, 2) gambar orang mengantar roti, 3) gambar orang memakan roti. Setelah tiga gambar selesai di buat, diberilah label ; produksi, distribusi dan konsumsi. Tiga ilustrasi ini akan direkam oleh indahnya indra penglihatan si anak, berpadu dengan untaian kata definisi yang ia dengar, maka akan membawa imajinasi si anak seakan-akan seedang berada di tengah-tengah proses, membuat roti - mengantar roti -  dan menyaksikan orang sedang asyik makan roti. 

Ikhtiar sederhana di atas bagi proses pembelajaran punya makna yang luar biasa. Terlebih jika mereka tidak hanya diajak melihat ilustrasi melalui gambar, tapi jiwa dan raganya benar-benar hadir (terlibat) di dalam tiga kegiatan  tersebut. Luar biasa. Anak (murid) akan mendapatkan apa yang disebut sebagai pengalaman belajar, yang terhubung antara materi ajar dengan lingkungan  (conteks) yang sesungguhnya. 

Pembelajaran model ini, dipastikan mengasyikkan dan sangat bermakna. Inilah sebagian dari contoh implementasi pendekatan contextual teaching and learning, (Elaine B Johnson), yang saat ini sedang direkomendasikan penggunaannya pada kurikulum kita. 

-----------

Melihat adanya kecenderungan bahwa belajar di rumah akan menjadi new normal atau istiadat baru di era baru ini, era berdamai dengan covid 19. Maka saya membayangkan perlunya upaya revitalisasi rumah sebagai sekolah. Karena saat ini mulai terdengar gagasan bahwa jika pada akhirnya si Covid-19 akan tetap ada dan berdampingan dengan manusia, maka kedepan waktu belajar di sekolah akan dikurangi jam nya. Dan tentunya sebagian waktu belajar dilakukan di rumah masing-masing. 

Bila imajinasi saya tersebut diterima, maka langkah-langkah revilatisasi rumah sebagai tempat belajar "penyambung jam sekolah" perlu segera di siapkan. Program revitalisasi yang saya maksud adalah menata ; 1) perangkat belajar di rumah dan, 2) menyiapkan orang tua sebagai gurunya. 

------------

Kedepan, rumah harus memiliki standar minimal yang mendukung kegiatan kegiatan belajar mengajar (KBM). Misalnya yang awalnya belum tersedia white board, spidol dan buku-buku bacaan anak (perpustakasn mini) mulai disediakan. Rumah yang awalnya belum tersedia tempat khusus untuk belajar mulai di tata sedemikian rupa. Dan seterusnya. 

Orang tua khususnya ibu, yang paling banyak waktunya mendampingi belajar, didorong untuk membekali diri dengan membaca buku-buku terkait dengan pembelajaran ; psikoligi pendidikan, metode pembelajaran dan semacamnya. 

Dan bila perlu pemerintah secara massif  memberdayakan kampus-kampus kependidikan, dan tarbiyah untuk menyelenggarakan semacam kursus singkat tentang parenting berbasis kependidikan dan  pembelajaran (parenting education).  Hal ini untuk membekali orang tua ilmu pembelajaran di rumah. Dan seterusnya. 

--------------

Apa yang tergambar dari contoh kasus di atas, adalah belum di pahaminya pengetahuan tentang modalitas belajar anak. Sehingga metode pembelajaran terkesan kurang efektif. 

Pemahaman akan modalitas belajar anak ini penting, untuk menentukan pilihan metode pembelajaran yang digunakan. Ilmu ini cukup sederhana dan mudah di implementasikan dalam pembelajaran oleh guru baru (orang tua) di rumah. Karena diantara tiga anak di rumah misalnya, sangat mungkin mempunyai modalitas belajar yang berbeda. 

-------------

Apa sih modalitas belajar itu ? Bobbi dePotter, penemu konsep Quantum Learning (Mansur : 2014 : 4) menjelaskan tentang gaya belajar (modalitas belajar) diantaranya sebagai berikut. 

Modalitas belajar adalah cara menyerap informasi melalui indra yang kita miliki. Masing-masing orang mempunyai kecenderungan yang berbeda-beda dalam menyerap informasi. DePotter membagi kecenderungan modalitas belajar menjadi tiga kelompok. 

Pertama visual. Modalitas ini cenderung menyerap citra terkait dengan visual ; warna, gambar, peta dan diagram. Model pembelajaran visual menyerap informasi dan belajar dari apa yang dilihat oleh mata.

Anak yang masuk dalam kelompok ini memiliki ciri-ciri diantaranya sebagai berikut : 
√ Lebih mengingat apa yang ia lihat, dari pada apa yang ia dengar,
√ Suka mencorat-coret sesuatu walaupun tanpa makna,
√ Pembaca yang cepat dan tekun,
√  Lebih suka membaca dari pada dibacakan,
√  Lebih memahami gambar dari pada instruksi. 

Kedua auditory : Anak yang termasuk kelompok ini memiliki kecenderungan dengan ciri-ciri sebagai berikut : 
√ Lebih menyerap informasi melalui apa yang ia dengar,
√  Lebih cepat paham dari mendengar dari pada membaca,
√ Saat membaca biasanya bibirnya dibunyikan dan senang membaca dengan keras,
√  Dapat mengulangi dan menirukan nada, birama dan warna suara,
√ Bagus dalam berbicara dan bercerita. 
√ Belajar dengan mendengarkan dan gampang ingat hal yang didiskusikan dengan ramai,
√ Suka bicara dan suka diskusi,
√ Lebih suka dibacakan dari pada membaca sendiri. 

Ketiga kinestetik. Anak yang masuk kelompok ini memiliki kecenderungan, dengan ciri-ciri diantaranya sebagai berikut: 
√ Selalu berorientasi fisik dan banyak bergerak,
√  Berbicara dengan perlahan,
√ Suka nenanggapi perhatian fisik, 
√ Menyentuh orang (njawil) untuk mendapatkan perhatiannya,
√ Suka belajar melalui praktik langsung,
√ Saat menghafal, suka sambil berjalan dan melihat, 
√ Banyak menggunakan isyarat tubuh. 
√ Tidak dapat duduk atau diam dalam waktu lama,
√ Menyenangi permainan dan olah raga.

--------------

Bagi guru, pengetahuan tentang modalitas belajar di atas, bisa dikatakan telah di luar kepala. Karena telah menjadi menu sehari-hari yang berpuluh-puluh tahun di terapkannya di kelas. Akan tetapi bagi guru baru (orang tua) bisa jadi menjadi informasi baru yang penting. Sehingga dapat dengan mudah mengenali gaya belajar/modalitas belajar buah hatinya. Yang pada akhirnya dapat digunakan untuk menselaraskan pilihan metode dengan gaya belajar anaknya. Menyenangkan bukan, jika alat dan tujuan pas dan selaras ? 

Jika orang tua selaku guru di rumah, mampu meng-implementasikan pengetahuannya tentang macam-macam modalitas belajar anak di atas, maka sangat dimungkinkan "ketegangan" orang tua dengan anak saat belajar bersama dapat dicegah. Proses belajar akan berjalan lancar, dan menyenangkan. Yang pada akhirnya tujuan pembelajaran pun akan berhasil dengan efektif. 

--------------

Untuk lebih meyakinkan pentingnya mengenali modalitas / gaya belajar anak, rasanya perlu saya hadirkan satu cerita lagi.  Kisah ini terjadi sekitar enam tahun yang lalu saat si-sulung kelas tiga SD. Dia adalah kakak dari anak yang belajar bersama guru baru (ibunya) yang telah saya ceritakan di atas. 

Suatu pagi saat akan berangkat sekolah, ia tiba-tiba turun dari motor yang baru saja saya nyalakan. Seraya berlari masuk ke dalam rumah, mengambil tas kresek. Penasaran dengan yang ia lakukan, saya pun bertanya ? Mengambil tas kresek untuk apa ? Dia jawab, kemarin bu guru mengumumkan hari ini ada tugas membawa bunga. Setelah naik di atas motor dengan memegang tas kresek ia meminta, yah,.. nanti berhenti di taman depan perumahan memetik bunga. Saya jawab, ok siap. 

Sesampai di taman di depan perumahan, motor saya hentikan dan kami berdua memetik beberapa bunga krantil berwarna merah, untuk mengisi tas kresek tersebut. Setelah dirasa cukup, kami pun melanjutkan perjalanan ke sekolah (SDN Bago 5). Tujuh menit perjalanan kami pun sampai di depan sekolah, si anak turun dan berlari masuk ke kelas. Dengan bangga ia telah menunaikan tugas dari gurunya, membawa bunga. 

Seperti biasa pulang sekolah saya menjemputnya. Ternyata jam pulang sekolah masih kurang lima menit lagi. Sembari menunggu lima menit tersebut saya mengamati sekeliling halaman sekolah. Tiba-tiba saya melihat pemandangan di bawah pohon mangga terdapat barisan macam-macam bunga di dalam pot dan polibek. Sontak saya berfikir dan berburuk sangka. Jangan-jangan inilah yang dimaksud dalam tugas bu guru kemarin. Amboy,... Kelihatannya si-sulungku salah sangka. 

Sedikit informasi tentang anak ini. Kebisaannya menggambar, buku tulisnya kotor sekali, berisi corat-oretan cerita komik hasil karyanya sendiri. Kelihatannya saat gurunya berceramah tentang pelajaran ia tak terlalu menyukainya. Sehingga ia mengalihkan aktifitas dengan memanjakan matanya melalui gambar-gambar dan cerita komik di sela-sela buku tulisnya. Hampir tak tersisa ruang kosong di semua halaman bukunya, penuh gambar pertarungan perdekar bersenjatakan pedang. 

Kebiasaan lain dari anak ini, sepulang sekolah sehabis makan ia mengumpulkan beberapa buku komik Doraimon, dan lain-lain di bawa ke tempat tidur untuk di baca sampai sore. Kalau sudah begini, ia tak kan peduli dengan suara apapun yang terjadi di luar kamar. 

Pernah saat liburan semester (satu minggu) ia minta liburan di rumah si-mbahnya (nenek), di luar kota. Sebelum saya meninggalkannya untuk kembali, saya berburu buku-buku di lemari adik saya yang sekiranya bisa di baca. Dan hanya buku peta dunia (globe) yang saya dapatkan. Kemudian saya letakkan di meja kecil di kamar tempat  ia tidur. 

Saat saya menjemputnya seminggu kemudian, di tengah  perjalanan sambil menyusuri jalan gumung-gemunung  yang mengerikan ia bercerita, yah... Ternyata gunung berapi di jepang itu ini dan itu, yah,... ternyata jalur kereta api di sana itu sepanjang ini dan itu, dan seterusnya. Rupanya peta dunia itu telah ia baca sampai lunas, bahkan mungkin berkali-kali ia mengulangi membacanya. 

Jadi, bisa dikatakan bahwa apa yang telah saya lakukan terhadap anak ini, menggambarkan sebagian dari contoh memenuhi modalitas belajar dari anak ber-tipe visual

Kembali ke kisah membawa bunga di atas, menunjukkan bahwa ada instruksi guru yang kurang sempurna. Dikatakan kurang sempurna karena modalitas belajar anak di kelas tiga tersebut bisa jadi bermacam-macam,  tidak hanya auditori saja. Bagi anak auditori instruksi "membawa bunga" bisa langsung di pahami  sebagai membawa "bunga hidup" di dalam pot atau polibek. Tapi bagi anak visual, akan lebih mudah dipahami jika selain menyampaikan instruksi lesan juga disertai bentuk visual dengan menggambarnya di papan tulis, sebuah bunga hidup beserta pot nya. 

Akhirnya, belajar di rumah mungkin tidak kalah hasil dan kwalitasnya jika sarana belajar, baik hardware dan software nya di revitalisasi / disiapkan sedemikian rupa. Semoga. [...]

KangNoer, Puri Jepun, 02 Juni 2020. 


Comments

  1. Mantap dan sangat bermanfaat...

    ReplyDelete
  2. Ya Allah... Begitu rapinya mengejawantahkan sang visual dalam barisan cerita.
    Semakin kagum saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Daget mawon dawuh bunda Doktor Etik R...

      Suwun suwun... Mpun kerso maos n paring dawuh.

      Delete
  3. Terus semangat kang nur...tulisane tambah sae

    ReplyDelete
  4. Mantap...... Terus berkarya tadz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bismillah...

      Matursuwun ust syarif dari Tanjung Pinang, Riau.

      Delete
  5. Sangat bermanfaat....barokallooh

    ReplyDelete
  6. Sangat bermanfaat....barokallooh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Smbhnuwun sanget Yai Ubed... Sampun kerso silaturrahmi lan paring dawuh..

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia