Belajar Literasi dan Hukum Melihat Masa Lalu


Mohon ijin,.. menyambung catatan harianku yang kemarin. Hari ini (07/06/2020) saya bersama warga satu lingkungan melakukan kerja bakti. Lebih tepatnya mendampingi para ahli rancang bangun membuat gerbang disinfectant sprayer. Karena bagi saya pribadi, ikhwal  perkara ini tak ubahnya seperti balita, bila ditanya mungkin ya,.. bisa menjawab, tapi jawaban itu hanya asal bunyi, tidak bisa dipertanggungjawabkan. 

Jadi,.. serahkan pada ahlinya, bagi yang tidak ahli, sudah ada tempat tersendiri ; mengamati, menemani, menyemangati, melayani dan yang paling penting tahan diri untuk mengomentari. 

Karena ini bukan soal bermain dan menonton bola. Penonton punya kuasa, berkomentar apapun bebas dan justru menambah bumbu saat nobar si kulit bundar. Jadi lebih baik diam saat tukang bangunan melakukan aksi profesionalnya. Dan segera berlarilah jika ia meminta di ambilkan paku, gergaji, atau saat tangganya minta di pegangi. 

Demikian diantara tips, sikap bijaksana hidup di tengah-tengah masyarakat yang menyimpan berbagai ahli dan ahlinya ahli. Bila tips ini di taati, kemungkinan roda kehidupan berjalan lancar bertabur senyum dan sorak bersama. 

---------------

Di sela mendampingi kegiatan di atas, sambil minum kopi, sebagian kami berdiskusi kecil dengan guru kami yang biasanya setiap malam sabtu (dulu sebelum ada corona) di teras musholla dengan telaten membimbing kami. Me-reparasi pikiran dan hati kami yang bengkok-bengkok untuk sedikit demi sedikit dilurus-luruskan. Sedikitnya ilmu dan tipisnya iman membuat kami sering lupa tujuan utama, untuk apa kami dicipta oleh Tuhan. 

Salah seorang teman yang saya kagumi, karena imannya tumbuh pesat, dan rendah hatinya keliwat, menyampaikan uneg-unegnya. Dengan penuh ta'dzim ia mengungkapkan, betapa dia sedih dan menyesal masih sering lupa berdzikir kepada Alloh SWT, dan merasa belum baik ibadahnya. Percaya kan,.. Ia meng-istighfari sedikitnya amal ibadah. Bagus sekali.  

Pertanyaan yang sungguh "masiuuk pak eko", mewakili kami-kami. Saya sendiri sangat menunggu jawaban dari pertanyaan itu. Dengan santai beliau pun menjawab "dalam hal belajar menuju lebih baik, tidak harus kita melihat orang lain yang kita nilai lebih, tapi lihatlah dirimu sendiri di masa yang lalu, bandingkan dengan saat ini adakah peningkatannya". Jika sudah meningkat sykurilah, dan terus bersyukur supaya Alloh SWT, terus menambahnya.

Beliau menambahkan "selama ini kita diajari supaya pandai bersyukur, caranya dengan melihat orang yang ada di bawah kita (ilmunya, rizkinya, dll). Tapi masalahnya dalam keseharian, kita melihat macam-macam orang. Ada yang di bawah kita dan ada yang di atas kita. Jadi, konsep ini baik, tapi tidak selalu harus seperti teori ini. Tapi bisa dengan cara melihat diri kita sendiri di masa lalu. 

Begitulah kami. Tidak pernah sungkan bertanya tentang apupun pada guru kami. Guru yang dalam sesrawungan sehari-hari kami menyebutnya Gus-e. Hal inilah juga, yang sangat saya syukuri berada di lingkungan ini. Dipertemukan dengan seorang guru yang bijak, serta teman-teman (tetangga) yang siap menjadi pembelajar, sepanjang usia. Insyaa Alloh. 

--------------

Jawaban guru kami di atas, membuat saya mengutuki dan menasehati diri sendiri. Diri yang sering dihinggapi rendah diri, dan rasa cemburu yang membabi buta, tidak sehat. Misalnya saat melihat orang lain karyanya hebat, nyali tiba-tiba menciut. Akhirnya tidak berkarya.

Berikut contoh konkritnya di dunia literasi. Niat dan semangat menulis sudah melimpah ruah. Satu dua tulisan telah berhasil di lekat-lekatkan di dinding blog pribadi. Tiap waktu di kunjungi, dilihat-lihat dan dibaca-baca.

Semangat membaca pun membara. Membeli buku, membaca buku, membaca artikel, saling kunjung dan baca tulisan-tulisan teman di blognya. Baik sekali. 

Tak ada mendung, tak ada hujan, tiba-tiba mengambil payung. Ada yang aneh. Ada rasa minder, gara-gara membaca karya orang lain yang dirasa begitu mempesona. Cemburu buta. Akhirnya melindungi diri dari pikiran ketakutan tanpa sebab. Jarinya diistirahatkan. Spiritnya meleleh.

Kasus seperti di atas, bagi penulis pemula seperti saya  bisa menjadi pelajaran tambahan. Bahwa "untuk belajar berproses menjadi lebih sholih, lebih baik, lebih produktif, dan seterusnya cukuplah melihat diri kita sendiri, dulu dan saat ini sudahkah ada kemajuannya?". 

Jika sudah ada kemajuannya, syukuri dan lanjutkan ! 
Jika masih belum, tidak ada dalil terlambat untuk memulai sebuah kebaikan. [...]

KangNoer, 07 Juni 2020

Comments

  1. Aku banget di tulisan itu...
    Cemburu kadang habis semangat.

    ReplyDelete
  2. Banyak kesamaan ternyata kang nur.... tetapi lebih baik tetap berbuat baik (menulis) meski manfaatnya dirasa msh kecil. Tetap semangat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggih yii... Monggo lanjut terus...kulo kancani.

      Delete
  3. Sungguh mencerahakan... Alhmdulillah...

    ReplyDelete
  4. Alur tulisan sangat ku suka, buat kamu sate unta mas

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia