MEMBENTUK GENG
Sering kita mendengar dan melihat di media massa sebuah contoh perilaku remaja yang kurang elok. Mereka bersama teman sebayanya bersepakat membentuk suatu perkumpulan yang mereka namai suatu geng. Mendengar istilah ini biasanya pikiran langsung mengeluarkan sinyal negatif.
Hal ini wajar karena istilah geng sering di asosiasi-kan dengan se-kelompok orang atau remaja yang sering berbuat keonaran, pelanggaran dan bahkan kriminalitas. Tuduhan ini di Indonesia sering di alamatkan kepada geng motor.
Padahal sejatinya geng motor tidaklah selalu seperti yang di tuduhkan itu. Karena sebenarnya mereka adalah, sekumpulan remaja yang memiliki hobby bersepeda motor dan membuat kegiatan berkendara sepeda motor secara bersama baik dengan tujuan konvoi maupun touring. (scolar.unand.ac.id).
Memang perkembangan berikutnya, diantara geng itu ada yang ber-metamorfosis dari euforia hobby menjadi menjadi euforia koloni remaja pemberani. Jadi salah satu kontributor dari munculnya tindakan anarkhis adalah adanya keyakinan, anggapan dan perasaan bersama, (collectife believe). (Kompasiana.com)
Dari situlah para psikolog dan pegiat parenting, memperingatkan akan pentingnya memilih kelompok pertemanan bagi remaja. Sepertinya sejak dahulu perkara pentingnya memilih teman satu geng ini telah di nasehatkan. Bahkan Kanjeng Sunan Bonang dalam sya'ir dahwahnya juga menempatkan nya sebagai obat hati urutan ke tiga dari lima yang dianjurkan. .... kaping tigo wong kang sholih kumpulono.
--------------
Kelompok pertemanan yang kemudian di sebut sebagai geng, dan berikutnya di asosiasi-kan dengan perilaku negatif, adalah sebuah stigma yang di-konstruksi oleh masyarakat menggunakan cara berfikir gebyah uyah (generalisasi). Dengan demikian sebenarnya masyarakat juga mempunyai hutang / kewajiban untuk me-rekonstruksi istilah geng tersebut hingga terbangun citra / stigma yang positif. Hal ini menurut saya baik untuk dilakukan supaya nuansa euforia bagi kalangan remaja nya tetap ada.
Pengalaman saya beberapa tahun yang lalu saat mendorong siswa SMP menyenangi sholat dhuha di masjid sekolah. Berbagai cara di tempuh mulai menyiapkan absensi, berjamaah dengan gurunya, menggilirnya dengan jadwal, dan seterusnya.
Tentu upaya ini sukses. Karena bersifat instruktif dari guru atau sekolah. Tetapi biasanya hal seperti ini mudah ambyar jika perangkat pendukungnya tidak melekat lagi. Hanya mereka-meraka yang mendapat Rahmad dan Hidayah Nya saja yang mampu istiqomah, bahkan telah menjadi gaya hidupnya.
Bisanya dari sekian ratus siswa, ada beberapa anak yang selalu, menyisihkan waktu istirahatnya untuk sholat dhuha. Jika menemukan remaja model seperti ini saran saya guru harus segera mendekati.
Pendekatan komunikasi yang di gunakan sebisa mungkin menggunakan bahasa yang disukai dunia remaja. Misalnya, "bro" / "cah bagus", dan sejenisnya. Kemudian mainkan sedikit pengandaian, misalnya "andaikan temannya diajak, akan tambah joosh lagi,.. besok temannya di ajak ya ?!! Pasti ia akan meng-iyakan "insyaa Alloh pak, "
Terjadilah sebuah transaksi multilevel. "Siapa yang menunjuki jalan kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya". (HR. Muslim : 1839)
Hari berikutnya sang remaja sholih/sholihah tersebut telah mengajak dua temannya. Tentu guru harus segera memberikan apresiasi walau sekedar kalimah motivasi. Mantab bro... Lanjutkan perbanyak anggota geng sholat dhuhanya. Mereka tersengat, ter-sugesti telah mempunyai sebuah kelompok pertemanan, bernama geng sholat dhuha.
Sekali waktu ketika bertemu di luar masjid dan musholla, lakukan sengatan-sengatan kecil. Dengan menanyakan kabar geng nya. Pasti remaja ini tersenyum. Karena geng nya eksis di mata gurunya. Dia bahagia.
Sedikit cerita ini, bagian dari upaya membangun citra positif, menandingi perkumpulan dan gerombolan remaja yang sering berkonotasi negatif. Karena sesungguhnya agamapun sangat menghendaki umatnya untuk berbuat kebaikan dengan berjama'ah.
Karena sejatinya jama'ah atau kelompok, banyak sekali nilai positifnya. Dalam konteks pembelajan misalnya, belajar kelompok setidaknya mempunyai empat manfaat ; 1) meningkatkan semangat, 2) terjadi tanya jawab dan diskusi, 3) melatih tanggung jawab, 4) belajar saling mendengar dan memahami.
Saking dahsyat nya dampak positif dari sebuah jama'ah, kelompok atau geng, ajaran agama Islam sampai menegaskan mengandung 27 kebaikan (sab'i wa'isrina darojatan).
---------------
Para aktifis sosial yang menggerakkan perubahan dan kemajuan sumberdaya manusia (human resources) biasanya menggunakan dua pendekatan ini, yaitu CD dan CO.
Community Development (CD) ; pada tahap ini sekelompok orang di latih supaya pinter, faham dan punya keyakinan bahwa ia mampu melakukan perubahan kearah yang lebih baik, sesuai cita-cita mereka. CO (Community Organizer) pada tahap kedua ini, mereka di organisasikan, di jama'ahkan atau dibantu membentuk geng sehingga bergandeng tangan mewujudkan perubahan yang dimpikannya itu.
Kawan,.. namanya perubahan ke arah yang lebih baik dan lebih maju pastilah berat. Karena itu jangan melakukannya sendiri. Karena kuasa kita terbatas, dan akan mampu melampaui batas jika kita membentuk geng tadi.
Contoh yang terakhir adalah cita-cita ber-literasi. Cita-cita istimewa ini adalah maqom-nya para akademisi. Pelajar, Mahasiswa, Guru, dosen dan praktisi pendidikan lainnya. Tapi mengapa kelompok profesional ini masih tak kunjung bergerak? Padahal mereka sudah di ajari, sudah di latih bahkan sudah memburu pelatihan berkali-kali ?
Jawabannya mungkin perlu satu langkah lagi yang harus ditempuh dari Community Development (komunitas yang telah dipinterkan) menuju Community Organizer (komunitas yang di organkan).
Geng Belajar Literasi (GBL) atau Kelompok Belajar Literasi (KBL) perlu di kembang-biakkan. Sehingga menjadi sebuah gerakan perubahan menuju kemajuan bersama.
Akhirnya fakta di lapanganlah yang akan membuktikan. Kecuali kita seorang wali, yang terbiasa dengan laku "ramai dalam kesendirian". [...]
KangNoer, 04 Juni 2020
Semakin menggigit. ..
ReplyDeleteBukan geng lagi tetapi gang buntu mendapatkan pujaan hati
ReplyDeleteJudul yg bagus..buntu..tapi malah mendapat pujhat.
DeleteSudut pandang lain dari kata "geng,"...
ReplyDeleteDipaksa di gatuk gatuk kan pak Ans...
DeleteGeng kita, geng literasi...
ReplyDeleteHhh enggal d deklarasikan pak pri
DeleteLuar biasa ternyata geng yg positif juga ada... Semoga geng menulis ini terus kreatif dalam berkarya.... Aamiin
ReplyDeleteHhhh hidup Geng Menulis
DeleteAamiin.
Alhamdulillah terima kasih dapat ilmu inspiratif sekaligus motivasi bauat saya P. Yai Kang Nor. ..
ReplyDeleteSami2 bu Nya Robi'
Delete