Pura-Pura Bahagia itu Lebih Baik


Harapan yang belum tercapai, sakit yang di rasakan. Sesuatu yang kita "aku" sebagai milik kita hilang, perih mendera hati. Kenyataan yang belum susuai dengan keinginan, rasa kecewa melanda. Sakit, perih dan kecewa akan selalu menyertai siapa saja yang sedang membangun ikatan cinta, cinta benda.

Manusia dengan naluri nafsunya akan selalu berupaya mewujudkan selera, keinginan, hasrat dan impiannya. Karena itulah di antara syarat dan rukun untuk mendulang kebahagiaan.

Di era medsos saat ini, setiap saat kita dapat menyaksikan etalase kehidupan orang lain. Sebagian besarnya adalah tampilan tentang kebahagiaan. Keping-keping cerita dan suasana yang sangat indah. Secara tersirat mengatakan, inilah aku, aku sedang disini, aku sedang makan / menikmati sesuatu, aku sedang bahagia-bahagianya. Dan seterusnya. 

Kegalauan hidup tak begitu masuk di etalase medsos. Jika pun masuk, hanya beberapa saja, dan sudah tuntas disikapi, yang di pajang terkadang tinggal dramatisasinya saja supaya enak di tonton. Ending-nya tetap bahagia. 

Melihat orang lain bahagia ternyata membutuhkan ilmu. Karena setiap informasi yang masuk melalui indra kita, akan menimbulkan reaksi yang beragam. Berkontradiksi dengan nilai diri, atau it's take easy sambil ikut dompleng kebahagiaannya. Atau mungkin juga ada rasa clekit di hati. 

Banyak kalanya mental kurang siap terpapar umbaran kebahagiaan orang lain di medsos. Meratapi diri, kenapa aku tidak bisa seperti itu?. 

Psikolog Analisa Widyaningrum memberikan advice bagi yang mentalnya "teriris" saat menonton  pajangan kebahagian orang lain di medsos.  Beliau mengatakan  "jangan baperan, karena dunia ini bukan hanya tentang kita, it's not all about you"

Menurunya, ketidak siapan / ketidak sehatan mental (unhealthy beliefe), dalam kasus di atas, saat ini marak terjadi.  Hal ini disebabkan karena adanya keyakinan yang salah (disbeliefe), yaitu adanya beliefe-beliefe yang kurang benar tentang dirinya sendiri, orang lain dan dunia luar. Unhealthy beliefe dapat ditelusuri dari munculnya perasaan "kayaknya orang lain lebih enak dan bahagia ya hidupnya dari kita".

Analisa menambahkan, "jika melihat orang lain berbahagia di medsos, ya udahlah itu hidup dia, so changing about your persfective, it's not obout you, dan tidak perlu kita menuntut orang lain selalu berempati dengan kita". 

Adalah sebuah kesehatan mental yang membahagiakan, jika kita bisa bahagia saat melihat kebahagiaan orang lain. Pun, juga tidak perlu mengulik, apakah tampilan kebahagiaan itu memang benar-benar adanya? 

Sang Penghulunya para wali memberikan nasehat kepada murid-muritnya dengan mengatakan, "kebohonganmu (dengan memperlihatkan) syukur tanpa adanya nikmat yang engkau dapatkan, itu lebih baik dibandingkan kejujuranmu dengan mengeluhkan keadaanmu sebagai orang yang tidak mendapatkan nikmat dari Alloh SWT". (SAQJ,2008:98)

Ternyata pura-pura bahagia (syukur) itu jauh lebih baik, dari pada meratapi diri dengan mengeluhkan (perasaan) kurangnya nikmat dari Sang Maha Pengasih. [...]

KangNoer, 26 Juni 2020

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia