Jika Merasa Terlalu Sibuk, Menulislah

Tak Henti Menasehati Diri

Saat berjumpa dengan teman yang lama tidak kita tahu kabarnya; selain bertanya kabar diri dan keluarga, biasanya kita ingin tahu juga kesibukannya kini. Dengan melontarkan pertanyan "sibuk apa sekarang?". Atau "lama tidak muncul, memangnya lagi sibuk apa ?". 

Adakalanya saat kita perlu menjelaskan mengapa suatu hal tidak tuntas atau tertunda,  alibi yang paling gampang biasanya dengan mengatakan sedang "sibuk". Terkadang disertai dengan pengucapan yang di berat-beratkan "ruuuepot, suuuuibuk" dan semisalnya. 

Ku coba berdiskusi dengan diri sendiri, dengan bertanya, sebenarnya siapakah orang yang sibuk itu ? Adakah orang yang tidak sibuk ? Bagaimana menyikapi kesibukan ?

Jika tiga pertanyaan di atas di tanyakan kepada kita (khalayak) pasti jawabannya akan beragam. Karena menyangkut subyektifitas persepsi diri tentang makna sebuah kesibukan. Juga perbedaan pilihan dalam menyikapi suatu kesibukan. Bisa dikatakan perkara kesibukan dan cara menyikapinya, merupakan personal style.

Menurut KBBI, sibuk sebagai kata sifat (adjektive)  mempunyai tiga arti; 1) Banyak yang dikerjakan, 2) giat dan rajin, 3) penuh kegiatan. 

Jika tiga indikator tersebut melekat pada diri seseorang, maka ia tergolong orang yang sibuk. Pengertian di atas, menunjukkan bahwa sibuk merupakan sifat atau situasi yang positif. 

Banyak pekerjaan, bukankah ini yang dicari kebanyakan orang? Semakin banyak yang dikerjakan, maka logikanya orang tersebut semakin produktif. Industri yang banyak pekerjaan, menggambarkan sedang ada orderan besar. Kantor yang sedang banyak pekerjaan, menunjukkan ada banyak orang yang membutuhkan jasa pelayanan. Guru yang banyak pekerjaan, mungkin ia punya multi kompetensi. 

Semua orang juga ingin dirinya disebut sebagai orang yang giat dan rajin. Bahkan tanda-tanda atau syarat orang sukses di antaranya adalah giat dan rajin. Giat dan rajin, adalah miliknya orang yang banyak kegiatan. Sepertinya tidak mungkin pengangguran disifati dengan giat dan rajin.  

Penuh kegiatan, jika ini melekat pada pedagang, berarti tokonya sedang laris manis. Jika guru penuh kegiatan berarti ia guru yang terpilih, karena dinilai kompeten untuk mengampu banyak tugas. 

Singkat kata, sibuk adalah anugerah. Orang yang sibuk adalah orang yang anfa'uhum linnas, bermanfaat bagi banyak orang. Lebih jauh orang susah payah mencari ilmu, sebenarnya sedang menyongsong kesibukan. Semakin banyak ilmu yang dimiliki, maka pada saatnya akan menjadi orang yang sibuk, karena banyak dibutuhkan oleh masyarakat. 

Kemudian siapa orang yang paling sibuk? Jawabannya adalah orang yang tidak saja mengerjakan urusannya sendiri, tapi juga menyediakan dirinya mengerjakan urusan orang lain. Merekalah energi penggerak kehidupan ini. Kesibukan yang melekat pada diri seseorang, segaris lurus dengan keilmuan, skil dan kompetensi yang ia dimiliki. 

Menyikapi padat dan banyaknya kegiatan sehari-hari diperlukan managemen waktu yang baik. Sehingga padatnya tugas dan kegiatan tidak mengorbankan imunitas dan kesehatan. 

Diantara managemen waktu itu adalah memiliki "me time". Yaitu menyediakan waktu khusus untuk sejenak melupakan kesibukan. 

Bagi umat muslim, "me time" biasanya tiba saat waktu sembahyang. Membasahi tubuh dengan air wudhu menghadap Sang Maha Baik, menggelorakan rasa syukur atas nikmat "sibuk" yang Alloh SWT berikan. Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirobbil'alamin. Melarutkan diri dan hati dalam genggaman Kuasa Ilahi. Yang ada adalah "Me and God is enought". Saya dan Tuhan, cukup. 

Selain itu, sangat disarankan mengisi "me time" dengan aktifitas yang sedang menjadi passion-nya saat ini. Misalnya bagi yang sedang konsen dalam dunia literasi, dengan  menulis refkektif  ikhwal peristiwa diri di hari ini.

Tulisan reflektif, dapat mewujudkan spirit mengabdi untuk mengabadi. Bukankah pekatnya kesibukan yang biasa kita lakukan adalah aktifitas pengabdian? Karenanya dengan menulis secara reflektif betapa sibuknya hari ini, maka hasil tulisan tersebut akan berbicara di kemudian hari. Mengulang ingatan bahwa pada masa itu, kita pernah sesibuk ini dan itu. Inilah yang disebut sebagai mengabadi

Wahai para pengabdi literasi, jika merasa terlalu sibuk, menulislah ! [...]

KangNoer, 24 Juni 2020

Comments

  1. Nggih .. tenyata dengan menulis lebih bisa membagi waktu
    Mungkin selama ini saya sok sibuk sehingga merasa tdk punya waktu untuk yang lain apalagi menulis.
    Padahal kurang sibuk para profesor, para pengawas SPT kang Noer. Tetap bisa meluangkan waktu untuk menulis

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia