Guru Inovatif, Menulis Reflektif


Terjadi tren yang tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Selama masa pandami covid-19 sejak Maret sampai Juni 2020 ini, yaitu geliat literasi di kalangan praktisi pendidikan. Mulai guru, dosen, kepala sekolah, kepala madrasah yang "konon" sebelum ini  selalu habis waktunya dari pagi sampai sore bergelut aktifitas rutin di sekolah dan kampus. Selama masa WFH, tiba-tiba waktu menyendiri di rumah begitu melimpah ruah. 

Semua mungkin sepakat bahwa penguatan kapasitas dalam bidang literasi lah yang paling tepat untuk mengisi waktu WFH. Karena ketrampilan literasi, khususnya menulis selama ini terabaikan dengan berbagai alasan. 

Padahal hampir tidak ada praktisi pendidikan yang tidak "ingin" menulis. Keinginan tersebut terhenti  karena alasan  "merasa" sibuk dan tak punya waktu. Karenanya kini mereka dan kita semua tak bisa lagi mengelak, dengan alibi beralibi lagi.

Selama kurun waktu tiga bulan banyak kelompok-kelompok profesi menyelenggarakan pelatihan dan seminar online  (webinar). Membuat classmeeting menggunakan berbagai aplikasi seperti; whatsapp group, google classmeeting, edmudo, jitsi, zoom, youtube live streaming, dan lain-lain. 

Di antara sekian webinar yang pernah saya ikuti, dalam kesempatan ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman mengikuti webinar bertema literasi sekala nasional beberapa hari yang lalu.

Tepatnya hari sabtu, 20 Juni 2020 saya diundang untuk bergabung di channel youtube live streaming, oleh seorang teman yang saat hari itu beliaulah nara sumbernya, Bagus Mustaqim, S.Ag. M.Si. 

Sedikit cerita tentang perkenalan dengan beliau, saya pernah beberapa kali satu kelas selama berminggu-minggu di Balai Diklat Keagamaan Surabaya. Beberapa tahun yang lalu. 

Saat ini beliau sedang sibuk menyelesaikan Desertasi  (S-3) di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, study beasiswa dari Kementerian Agama RI. Selain sebagai instruktur nasional K-13, beliau juga aktif menulis artikel yang dimuat di beberapa media massa nasional. 

Kegiatan webinar bertajuk OPEN FEST (obrolan pendidikan), dengan tema besar "Menjadi Pendidik Penggerak Menyambut New Normal". Diselenggarakan oleh Komunitas Belajar di bawah naungan Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD). 

Kegiatan ini diselenggarakan secara marothon dari tanggal 18 - 21 Juni 2020 mulai pukul 08.00 - 16.30 dibagi beberapa sesi tiap harinya dengan tema yang beragam. Tema-tema terkait pendidikan, refleksi pembelajaran dan penguatan kapasitas/kompetensi guru menyambut new normal. Menghadirkan praktisi-praktisi pendidikan yang telah mengukir prestasi tingkat nasional dalam bidang tertentu di lingkup pendidikan. 

-----------------

Ning Shifa selaku host wibinar sesi ke dua di hari ke tiga saat itu,  membuka nya dengan salam, sapa dan senyum manisnya. Mengabarkan tema yang akan di bahas dengan melontarkan sebuah pernyataan appersepsi yang di ambil dari pepatah "menulislah maka kau akan hidup selamanya" kemudian di ditegaskan lagi dengan mengatakan "benarkah dengan hanya menulis kita bisa hidup selamanya?".  Sesaat kemudian kesempatan di berikan kepada narasumber Bapak Bagus Mustaqim. 

-----------------

Dalam kesempatan itu Pak Bagus yang selama ini aktif menulis di beberapa media massa nasional memberikan suntikan motivasi dan kiat menjadi penulis khususnya bagi guru. 

Slide Pertama beliau memberikan semacam brainstorming pendahuluan dengan menguatkan wacana Menteri Pendidikan bahwa "Saat ini sedang di galakkan lahirnya Guru Penggerak > Untuk Menggerakkan Merdeka Belajar > Untuk Mendorong Inovasi Lahirnya Pembelajaran > inovasi pembelajaran ditulis secara reflektif oleh guru > Yang tujuan dari tulisan reflektif itu menginspirasi guru lainnya, untuk melakukan hal yang sama, atau bahkan mengembangkannya". 

Slide Kedua, dipaparkan tentang membangun mindset menulis sebagai berikut :
  • Menulis itu bukan ketrampilan instan; juga bukan ketrampilan bawaan yang warisi dari keturunan. Jadi kemampuan menulis itu tidak ujug-ujug (tiba-tiba) dimiliki oleh seseorang. 
  • Menulis itu ketrampilan yang bisa di latih; sama seperti ketrampilan menyopir, menggunakan IT, dannlain-lain. Semakin seseorang sering berlatih dengan menulis maka kualitas tulisannya akan semakin baik. Jadi kemampuan menulis itu tergantung jam terbang. 
  • Menulis bukan pekerjaan yang sulit di lakukan. Yang penting menulis saja dan tidak perlu di hantui perasaan akan penilaian orang lain terhadap hasil tulisan kita. 
  • Membaca adalah modal utama. Jadi modal menulis itu mudah dan menguntungkan secara keilmuan. Yaitu membaca. Semakin banyak yang di baca, semakin kaya ide dan luas wawasannya. 
  • Menulislah dengan menulis reflektif. Poin ini di khususkan kepada guru yang ingin memulai belajar menulis (penulis pemula). Langkahnya adalah membuat desain pembelajaran inovatif, kemudian tulislah proses dan hasilnya. Dengan tujuan menginspirasi orang lain. 
Slide Ketiga, diuraikan tentang tips mengembangkan tulisan reflektif menjadi artikel premium :
  • Pilih tema yang aktual dan sedang trending. 
  • Gagasan harus original dan bukan duplikasi. 
  • Analisis tajam dan tidak normatif (mengandung penilaian tertentu sebagai; baik, buruk, benar, salah)
  • Ada solusi yang di tawarkan
  • Alur tulisan setidaknya memuat; masalah/paradoks, analisis, solusi. 
  • Menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar sesuai KBBI, dan PUEBI. 
Dalam menjelaskan poin-poin di atas, pak Bagus menambahkannya dengan contoh-contoh tulisannya yang telah di muat di detik.com. 

Slide Keempat, diberikan ilmu hasil pengalaman pribadinya  tentang bagaimana menembus media masssa supaya memuat tulisan kita :
  • Jangan berhenti mengirim tulisan meskipun belum dimuat. Mengirim tulisan dan tidak di muat, tetap tidak rugi karena karya tulis tetaplah karya yang akan abadi
  • Ketika sudah dimuat, jangan berhenti menulis dan justru harus makin istiqomah menulis. 
  • Buat prioritas pengiriman. 
  • Jangan kurim satu artikel ke lebih dari satu media massa. Karena jika sampai dua media massa memuatnya, kita akan di blacklist. 
Sebenarnya masih ada beberapa slide lagi. Tapi setidaknya empat slide di atas sudah cukup bagi saya dan teman-teman penulis pemula makin meyakinkan diri untuk terus belajar menulis. 

Saya sudah menduga teman-teman pasti berfikir "kok sama ya" dengan materi/tips yang pernah si sampaikan oleh narasumber-narasumber literasi termasuk guru kita Dr.Ngainun Naim ? 

Jawaban saya adalah memang namanya menulis di manapun dan mungkin sampai kapanpun adalah, menggerakkan jari pada papan tulis (laptop, smartphone) dengan membuat satu kata, dua  kata, tiga kata, merangkai menjadi satu kalimat, dua kalimat, menjadi satu paragraf, memberi judul/tema. Selesai. Karena itulah ilmunya tak jauh berbeda. 

--------------

Bagi saya motivasi dan pencerahan dari materi di atas sangat positif. Karena itu saya ingin merekomendasikan dan mengajak diri saya sendiri dan teman-teman guru, marilah kita munculkan inovasi pembelajaran kita selama ini dengan (belajar) menulis proses pembelajaran tersebut menjadi tulisan reflektif. Tempelkan di blog dan bagikan ke group WA teman-teman kita atau ke media massa lain yang lebih luas. 

Sehingga dari membaca tulisan kita itu, pengalaman kita dapat di-Amati, di-Tiru dan di-Modifikasi (ATM) oleh teman-teman guru yang lain. Inilah diantara rute perjalanan menjadi guru inspiratif itu. Jika tidak, maka kita (guru) akan selalu di tuduh sebagai guru yang kurang inovatif sepanjang waktu. 

Bila kita mampu istiqomah, dalam program menulis reflektif ini, saya yakin sekian waktu buku-buku hebat pasti akan terbit. Aamiin. [...]

KangNoer, 22 Juni 2020

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia