Posts

Showing posts from June, 2020

Saatnya Mengisi Teacher Tool Box

Image
Ilustrasi:google.com Saat ini, akhir Juni 2020 adalah masa libur sekolah. Libur akhir tahun pelajaran 2019/2020. Lembaga pendidikan (sekolah) sedang sibuk persiapan menyongsong tahun ajaran baru 2020/2021.  Secara resmi anak sekolah belum ada tugas belajar dari gurunya, sampai tahun ajaran baru dimulai.  Komunikasi (virtual) guru dan murid hampir tak terlihat lagi. Karena tahun ajaran baru yang akan datang guru dan materi pelajarannya sudah berbeda. Total anak-anak istirahat dari tugas belajar sekolah. Masa libur sekolah tahun ini sungguh berbeda. Kedaruratan akibat pandemi juga masih bercokol, hingga roda aktifitas belum sepenuhnya normal. Walaupun tempat wisata telah dibuka, tapi semangat berlibur masih dihantui dengan situasi covid-19. Anak-anak pun menyikapinya dengan maklum.  ----------------- Bagi guru dan sekolah, justru saat inilah masa-masa penting mengisi amunisi dan mengasah gergaji. Sekolah kemarin beda dengan sekolah yang akan datang. Sekolah yang sarat denga...

Pura-Pura Bahagia itu Lebih Baik

Image
Harapan yang belum tercapai, sakit yang di rasakan. Sesuatu yang kita "aku" sebagai milik kita hilang, perih mendera hati. Kenyataan yang belum susuai dengan keinginan, rasa kecewa melanda. Sakit, perih dan kecewa akan selalu menyertai siapa saja yang sedang membangun ikatan cinta, cinta benda. Manusia dengan naluri nafsunya akan selalu berupaya mewujudkan selera, keinginan, hasrat dan impiannya. Karena itulah di antara syarat dan rukun untuk mendulang kebahagiaan. Di era medsos saat ini, setiap saat kita dapat menyaksikan etalase kehidupan orang lain. Sebagian besarnya adalah tampilan tentang kebahagiaan. Keping-keping cerita dan suasana yang sangat indah. Secara tersirat mengatakan, inilah aku, aku sedang disini, aku sedang makan / menikmati sesuatu, aku sedang bahagia-bahagianya. Dan seterusnya.  Kegalauan hidup tak begitu masuk di etalase medsos. Jika pun masuk, hanya beberapa saja, dan sudah tuntas disikapi, yang di pajang terkadang tinggal dramatisasinya saja supaya ena...

Guru Inovatif, Menulis Reflektif

Image
Terjadi tren yang tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Selama masa pandami covid-19 sejak Maret sampai Juni 2020 ini, yaitu geliat literasi di kalangan praktisi pendidikan. Mulai guru, dosen, kepala sekolah, kepala madrasah yang "konon" sebelum ini  selalu habis waktunya dari pagi sampai sore bergelut aktifitas rutin di sekolah dan kampus. Selama masa WFH, tiba-tiba waktu menyendiri di rumah begitu melimpah ruah.  Semua mungkin sepakat bahwa penguatan kapasitas dalam bidang literasi lah yang paling tepat untuk mengisi waktu WFH. Karena ketrampilan literasi, khususnya menulis selama ini terabaikan dengan berbagai alasan.  Padahal hampir tidak ada praktisi pendidikan yang tidak "ingin" menulis. Keinginan tersebut terhenti  karena alasan  "merasa" sibuk dan tak punya waktu. Karenanya kini mereka dan kita semua tak bisa lagi mengelak, dengan alibi beralibi lagi. Selama kurun waktu tiga bulan banyak kelompok-kelompok profesi menyelenggarakan pelatihan dan...

Resume Hasil Rakorwas POKJAWAS PAI Prov Jatim

Image
Rakorwas POKJAWAS PAI Kemenag Prov. Jatim Kegiatan ini dilaksanakan via zoom pada hari Senin, 22 Juni 2020 mulai pukul 08.30 - 10.00 wib. Dipandu oleh tokoh PPAI dari Kab Jombang, Dr. Mamik Rosita, M.Pd.I. dan Dr. Huda Kurniawan, M.Si selaku Ketua Pokjawas PAI Jatim sebagai key note speaker.  Mengawali acara KH. Abu Sairi dari Kemenag Kab Blitar membacakan lantunan  kalam Ilahi. Dilanjutkan sambutan sekaligus paparan informasi dari Ketua Pokjawas PAI Jatim Bp. Huda Kurniawan. Sesi terakhir di isi dengan sharing informasi dari pokjawas pai Kab/Ko Se Jatim. Huda Kurniawan :  Sesuai edaran dan situs resmi Kemendikbud, bahwa saat ini sekolah yg boleh buka, pun dengan protokol yang ketat adalah yang berada di daerah zona hijau saja. Sementara saat ini Jawa Timur secara keseluruhan masih zona merah merona. Karena itu Jawa Timur kemungkinan sekolah dibuka ke depan masih dengan sistem daring.  Jika sekolah masih diselenggarakan dengan sistem daring maka, kegiatan kepengaw...

Hati-hati, Jangan Tergoda Desain Tetangga

Image
Suatu Negara termasuk Indonesia pasti mempunyai nilai-nilai luhur atau nilai-nilai utama yang disepakati oleh warga negaranya. Nilai itu kemudian menjadi sumber peraturan dalam menyelenggarakan suatu negera. Nilai-nilai utama inilah yang disebut sebagai Filsafat Negara. Dan sampai detik ini tidak ada yang menolak bahwa Filsafat Negara Indonesia adalah Pancasila.  Nilai-nilai dalam filsafat negara tentu bulum operasional, karena namanya juga masih filsafat. Agar nilai dalam filsafat negara menjadi operasional, maka perlu dioperasionalkan dalam bentuk Undang Undang Dasar (UUD).  Undang-Undang Dasar (UUD) ternyata masih belum operasional, maka perlu dioperasionalkan melalui undang-undang (UU). Ternyata undang-undang pun masih kurang operasional, maka kemudian butuh lebih operasional lagi hingga diperlukan peraturan pemerintah (PP). Kenyataannya banyak PP yang juga belum operasional, hingga perlu dioperasionalkan dengan peraturan menteri (PERMEN). Faktanya sering kita lihat bahwa ...

Menyederhanakan Tujuan Pendidikan

Image
Ternyata benar. Bila ada apa-apa dan ingin apa-apa suatu bangsa, maka pendidikan-lah yang mesti melakukan apa-apa. Karena itulah "ingin apa-apa" nya suatu bangsa (visi) harus benar. Supaya apa-apa (misi) yang akan dilakukan oleh sistem pendidikan juga dalam koridor yang benar.  Andai ada pertanyaan ingin-nya suatu rumah itu didirikan berbentuk seperti apa? Maka gambaran jawabannya bisa dilihat dari struktur pondasinya.  Dari pondasi itu tergambar rumah itu akan menghadap ke mana, punya berapa kamar, di mana dapur dan dimana tempat tidur.  Saya kira demikian juga dengan cita-cita Negara Indonesia ini didirikan. Dapat dilihat dari keputusan sejarah tentang dasar negara ini berdiri. UUD 1945 sebagai sumber hukum tertinggi bangsa ini menyebutkan bahwa bangsa Indonesia berdasarkan pada  lima dasar yang kemudian disebut Pancasila.  Para pendiri bangsa telah sepakat bahwa dasar negara adalah Pancasila karena pandangan hidup bangsa harus sesuai dengan ciri khas bangsa i...

Pendidikan, Urusan Yang Tak Pernah Selesai

Image
Saya membayangkan, dari dulu dan sampai kapanpun, manusia akan selalu ber-urusan dengan pendidikan. Selama manusia terus ber-reproduksi, melahirkan manusia-manusia baru. Pendidikan akan selalu menjadi urusan pertama dan utama. Kecuali semenjak di lahirkan si- jabang bayi tiba-tiba  sudah mampu membaca, menulis, terampil dan berakhlak. Sepertinya hal ini tidak mungkin terjadi, alias hal yang mustahil.  Belum pernah ada suatu masa yang di situ pendidikan tidak dibicarakan. Di semua negara dan di semua waktu. Pendidikan merupakan masalah yang tak pernah selesai ( unfinished agenda ). Pendidikan selalu terasa tidak pernah memuaskan. (A.Tafsir, 2006:40) Apakah negara-negara yang disebut maju tidak pernah lagi membicarakan urusan pendidikan di negaranya? Apakah mereka sudah betul-betul puas terhadap hasil pendidikan mereka, hingga tak lagi mengkritik pendidikan di negaranya? Saya yakin merekapun tetap merasa kurang puas dan tetap mengkritisi pendidikan di negara majunya tersebut....

Pendidikan Itu Untuk Siapa?

Image
Bahan Renungan Para Desainer Pendidikan Indonesia Beberapa hari terakhir ini muncul dua diskursus besar di tengah masyarakat Indonesia. Keduanya menyangkut perkara yang sangat penting bagi perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itulah kalangan tertentu menyikapinya dengan penuh keseriusan pemikiran. Dua diskursus itu adalah; Rancangan Undang-Undang Haluan Idiologi Pancasila (RUU HIP) dan Penyederhanaan Kurikulum Sekolah.   Saya katakan hanya "sebagian kalangan", saja yang mencermati dan menyikapi dua isu ini. Karena dua isu penting ini muncul di saat rakyat Indonesia sedang fokus menghadapi masalah genting yang belum terselesaikan yaitu, "perang" melawan "pandemi" covid-19.  Untuk bahasan tentang wacana RUU HIP, saya serahkah kepada para ahli yang kompeten terhadap sejarah dan cita-cita bangsa ini berdiri. Karena hal ini bukan perkara yang biasa-biasa atau remeh-temeh. Tapi menyangkut pondasi dan soko guru bangunan Negara Indonesia didirikan....

Mereka Semua Adalah Sang Juara

Image
"Dihadapan gurunya manusia, setiap anak adalah juara". Demikian ditulis oleh Munif Chatib dalam bukunya; 2012 : 66. Hal ini antara lain didasari oleh kebiasaan labelisasi guru terhadap siswanya.  Ada siswa yang pandai karena ulangan selalu mendapat nilai sempurna. Ada yang rajin dan ada pula siswa yang nakal, bodoh, malas dan gelar negatif lainnya. Labelisasi ini merupakan ekspresi dan reaksi batin dari proses interaksi seorang guru dengan siswanya. Sepertinya fenom ena ini sudah mafhum dan bahkan demikian juga orang tua memberi penilaian terhadap anak anaknya di rumah. Munib juga mengingatkan perlunya memperbaiki pola pikir yang masih sering memandang anak dengan kacamata hitam; nakal, ndablek, kurang ajar, dan seterusnya.  Karena pola pikir merupakan kunci utama, yang menentukan dimana posisi yang tepat bagi guru dan orang tua dalam menyikapi perbedaan (keunikan) anak-anaknya. Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin bisa menjadi pengingat. Siapakah anak manusia itu? Untuk...

Mencari Alasan Menceraikan mu

Image
Menasehati diri tiada henti Manusia mana yang tak jatuh cinta kepadamu.  Kau sungguh memiliki segalanya. Kecantikan, k etampanan  dirimulah gudangnya. Emas dan permata kau menyimpannya di mana-mana. Keindahan ; semua bagian tubuhmu mu indah dari atas sampai bawah menyimpan misteri yang tak pernah habis dieksplorasi.  Warna warni busanamu menyita perhatian setiap mata. Semerbak wangimu, alami melengkapi semua selera pecinta aroma.   Kau mampu menciptakan seribu rasa pemuas semua selera. Kurang apalagi hebatmu.. Keahlianmu melayaniku menikmati kelezatan makanan sungguh sempurna. Saat ku jenuh makan karbohidrat kau sediakan protein. Saat ku jenuh makan daging kau sediakan lauk daun (sayur). Saat ku jenuh makan sayur kau sediakan buah.  Saat ku jenuh makan buah mangga, kau sediakan pepaya. Saat jenuh makan papaya kau sediakan aku pisang, saat jenuh makan pisang kau sediakan aku buah apel, saat ku jenuh makan apel kau sediakan buah durian,  dan seterusnya. K...

Jika Merasa Terlalu Sibuk, Menulislah

Image
Tak Henti Menasehati Diri Saat berjumpa dengan teman yang lama tidak kita tahu kabarnya; selain bertanya kabar diri dan keluarga, biasanya kita ingin tahu juga kesibukannya kini. Dengan melontarkan pertanyan "sibuk apa sekarang?". Atau "lama tidak muncul, memangnya lagi sibuk apa ?".  Adakalanya saat kita perlu menjelaskan mengapa suatu hal tidak tuntas atau tertunda,  alibi yang paling gampang biasanya dengan mengatakan sedang "sibuk". Terkadang disertai dengan pengucapan yang di berat-beratkan "ruuuepot, suuuuibuk" dan semisalnya.  Ku coba berdiskusi dengan diri sendiri, dengan bertanya, sebenarnya siapakah orang yang sibuk itu ? Adakah orang yang tidak sibuk ? Bagaimana menyikapi kesibukan ? Jika tiga pertanyaan di atas di tanyakan kepada kita (khalayak) pasti jawabannya akan beragam. Karena menyangkut subyektifitas persepsi diri tentang makna sebuah kesibukan. Juga perbedaan pilihan dalam menyikapi suatu kesibukan. Bisa dikatakan perkara kesi...

Jika Gelisah Menulislah

Image
Suatu saat terjadi suasana hati yang tidak menentu. Yang terjadi terkadang bukan yang diinginkan. Tapi justru itulah seni dalam hidup ini. Yang memicu hadirnya dinamika dan gerakan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dari kegelisahan. Produk kegelisahan Thomas Alva Edison begitu dahsyat, hingga mampu merubah wajah semesta yang gulita. Demikian juga   para pemikir lainnya, yang karyanya menjadi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. Bisa jadi itu semua berangkat dari kegelisahan hati dan pikiran. Biasanya kegelisahan berangkat dari sebuah pertanyaan yang belum terjawab. Bukankah surganya pertanyaan adalah hadirnya sebuah jawaban ? Maka dari itu, otak tidak akan berhenti berfikir sampai kebutuhannya terjawab. Bila engkau gelisah maka menulislah. Karena munculnya sebuah impian dan upaya meraihnya, laksana   gelapnya malam menjemput mentari senja. Sebuah perjanjian yang telah tersurat. Laksana timur dan barat.  Saat kita tak melihat mentari di ujung p...