Tersentuh dan Trenyuh
Bagian dari upaya memutus mata rantai penularan covid-19 adalah penerapan social distanching yang kemudian dipertegas menjadi physical distancing. Yaitu membatasi adanya pertemuan sosial (kelompok orang) dan menjaga jarak pisik antar individu. Hal ini ramai dikampanyekan oleh pemerintah dan masyarakat mulai bulan Maret 2020, sebagaimana anjuran WHO bagi negara yang telah terkonfirmasi positif civid-19.
Salah
satu kegiatan sosial dalam bentuk kerumunan orang paling banyak dan paling lama
berlangsung setiap hari adalah lembaga pendidikan (sekolah, pondok pesantren
dan kampus). Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan sebuah
keputusan ekstrim (belum terjadi
sebelumnya) yaitu menutup (sementara) sekolah dan menggantinya dengan belajar di
rumah (BDR).
Tentu
saja kebijakan ini disambut dengan suka cita oleh anak-anak. Karena bagi mereka
belajar di rumah sama artinya dengan libur sekolah. Bebas dari tugas belajar di
kelas, merdeka dari menuruti perintah guru, bebas bermain dan seterusnya. Itulah
keindahan yang ada dalam pikiran
anak-anak.
Setelah
BDR berjalan sekitar satu bulan karena pemerintah memperpanjang masa social distanching dan physical distancing mulai muncul tayangan dan unggahan di meda sosial. Ungkapan-ungkapan
seperti, “ saya (siswa) yang kangen bu
guru”, dan kemudian di balas dengan “bu
guru juga kangen juga anak-anak” dan
sejenisnya. Curhatan yang semacam ini rasanya cukup menghibur para guru dan
tenaga pendidikan. Karena pada dasarnya siapapun pasti senang jika dirindukan.
Akhir-akhir
ini (bulan Mei) beberapa orang tua yang sempat berbincang dengan penulis mulai
curhat tentang anak-anak nya selama di rumah (tidak sekolah). Kebetulan orang
tua (wali murid) ini anaknya sekolah di bangku SMP. Setidaknya perbincangan
(curhatan) ini menggambarkan perasaan orang tua dalam mendampingi anak mereka
belajar dan berkegiatan di rumah.
Ada
dua hal yang penulis ingin ungkapkan dalam kesempatan ini.
Pertama
; bahwa orang tua merasa kesulitan (gagal) memisahkan anak dari smartphone dan gadget. Kedua benda elektronik pintar ini, telah menjadi teman
paling dekat bagi anak-anak jaman “now”. Berjam-jam, bahkan pagi, siang, sore
dan malam seakan tak lepas dari sebut saja HP nya. Tentu saja orang tua
menghawatirkan dampak pisik (mata) dan psikis mereka karena benda pintar ini bagai
pisau bermata dua.
Tak
perlu penulis panjang dan lebarkan pembahasan ini tentang per-HP-an di atas.
Yang pada intinya, ternyata aktifitas belajar di sekolah dan pondok pesantren, punya peranan penting dalam memisahkan candu anak pada HP.
Kedua ; orang
tua yang anaknya usia (remaja (SMP), banyak mengeluhkan sulitnya mendisiplinkan
anak mereka melaksanakan kewajiban sholat. Terlebih anak-anak jaman now yang tergolong gandrung dengan permainan di aplikasi HP mereka. Keluhan orang tua yang kurang berhasil
mendisiplikan kewajiban sembahyang anaknya
ini mengingatkan sebuah peristiwa yang sempat saya tulis di file diare saya. Berjudul “tersentuh dan Trenyuh”.
Singkat
ceritanya sebagai berikut ; sekitar akhir
tahun 2017 saat itu saya menjadi wali kelas, kelas 7 sebuah SMP di pinggiran
kota Tulungagung. Di suatu kelas bersama wali murid pada saat kegiatan
pembagian raport semester ganjil.
Seperti
biasa, sebelum acara inti pembagian raport di mulai, beberapa pengumuman dari
sekolah saya bacakan. Kesempatan baik ini juga saya manfaatkan untuk melakukan sambung rasa dengan orang tua siswa. Ini
bukan perkara yang mudah, karena sama seperti anak-anak mereka, rasanya tidak
betah berlama-lama di dalam kelas. Inginnya raport cepat di bagikan dan segera
pulang. Untuk melanjutkan aktifitas wajib mereka berburu nafkah.
Saya
merasa perlu sedikit menjelaskan tentang fenomena
anak jaman now, untuk di waspadai oleh kita semua (guru dan orang tua). Beberapa
contoh kasus saya sampaikan kepada wali murid. Suasana mendadak hening ketika saya mengatakan sebuah kalimat berikut ini dari lubuk hati yang
paling dalam. “Bapak - ibu karena
itu,... mari kita bantu anak-anak kita supaya mampu melaksanakan sholat. Saya
ulangi sekali lagi “mari kita bantu anak-anak kita,.. supaya mampu melaksanakan sholat.
Kalimat
di atas bukan saja saya ucapkan dengan mulut, tapi seluruh jiwa raga saya
menegaskan permohonan tersebut. Orang tua siswa kala itu mendengar dengan jelas
bahwa suara saya berbeda dengan sebelumnya, lirih dan bergetar, mata saya pun berkaca-kaca.
Menggambarkan apa yang baru saja beliau dengar adalah perkara yang penting. Sekaligus
mengingatkan kewajiban yang barangkali sempat terabaikan.
Sedikit
sentuhan di atas membuat beberapa wali murit trenyuh. Menyadari bahwa selama ini waktu mereka
habis untuk berpayah-payah mencari nafkah saja. Hingga urusan kewajiban batin
kepada anak-anaknya sering terabaikan. Pada momen seperti itu saya merasa perlu
mengingatkan diri saya sendiri dan wali murid. Dengan mengajukan pertanyaan "bukankah anak adalah investasi terbesar" dalam hidup kita ? Dan nyatanya
semua meng-iyakan.
Ada
dua hal yang saya garis bawahi dari maksud kalimat di atas ;
Pertama :
“mari kita bantu anak-anak kita”. Disini
menunjukkan bahwa guru dan orang tua (wali)
dalam konteks mendidik anak, posisinya adalah
memberikan bantuan. Karena secara
kodrati sebenarnya mereka telah mempunyai potensi butuh kepada
Tuhannya (Alloh SWT). Tugas guru dan
orang tua adalah menyirami benih kodrati tersebut secara terus menerus hingga tumbuh
subur dan berbuah.
Kedua : “supaya mampu melaksanakan
sholat”. Kalimat ini menggambarkan bahwa melaksanakan
sholat bukan pekerjaan yang ringan. Terlebih bagi anak-anak remaja. Karena itu
mereka harus kita bantu hingga mampu
melaksanakannya.
Mengapa
bukan “supaya bisa melaksanakan
sholat” ?. Karena rata-rata anak SMP
telah bisa mengerjakan sholat. Bahkan
sejak SD ia sudah bisa sholat. Jika diuji
gerakan dan bacaannya pasti nilainya 100, hafal di luar kepala. Tapi yang bermasalah adalah mau
dan mampu untuk melaksanakannya.
Sekali
lagi mereka sudah bisa, tetapi masih
butuh bantuan untuk mampu melaksanakannya. Pertanyaannya, apa bentuk dari bantuan itu ? Sarung,
baju, sajadah dan mukena ? saya pastikan semua orang tua sudah tak
kurang-kurang menyediakan ini semua. Ataukan kata-kata perintah, peringatan atau ancaman
? Nak,... waktunya sholat, ! Nak,.. sudah sholat kah ?, Awas kalau tidak sholat !
Ungkapan-ungkapan
perintah bahkan ancaman seperti di atas, sering digunakan orang tua untuk
mendisiplinkan kewajiban sholat anaknya. Hal itu memang cukup, untuk
menunjukkan kepedulian orang tua terhadap anaknya. Akan tetapi belum bernilai
membantu mereka untuk mampu melaksanakan.
Menurut
saya akan lebih baik dan bijaksana bila
orang tua mengganti kalimat perintah dengan kalimat ajakan. “Nak,.. ayo sholat bersama”. Nak,..
ayo sholat bareng ayah, Nak,... ayo sholat bareng ibu”. Bila ini yang
kita (guru dan orang tua) lakukan. Maka sebenarnya guru dan orang tua telah
menjadikan dirinya sebagai model (uswah) bagi anak-anaknya. Dengan demikian dapat diyakini ikhtiyar pendidikan karakter akan
semakin cepat berhasil.
Selamat menjalankan BDR bagi anak-anak dan selamat menjadi model bagi orang tua.[...]
KangNoer, Puri Jepun, 29 Mei 2020
Nak, ayo menulis
ReplyDeleteAyo..
DeleteIlmu yg bermanfaat, terima kasih.. .
ReplyDeleteSami2 bu nyai...
DeleteSholat..
ReplyDeleteSholat...
Sholat..
Begitu juga yg sering kutitipkan pesan kepada wali murid...
Mantab abah...7 paragraf..
Delete