Rafleksi Kepergian Ramadhan (Nasehat penulis untuk anaknya)




Buku Itu Berjudul Ramadhan 1441 H


Tiada waktu yang paling istimewa bagi umat Nabi Muhammad SAW selain Bulan Ramadhan. Keistimewaannya nyata-nyata dijelaskan oleh Penguasa Semesta ini Alloh SWT dalam wahyu Nya (Alqur'an). Dan juga di jelaskan oleh manusia ter-istimewa Nya, baginda Rosul, Muhammad SAW dalam banyak hadits-hadits nya. 

Dan pada akhirnya, berita istimewa itu  turun kepada kita umatnya yang sangat awam dan fakir ilmu. Ilmu yang super sedikit, tak cukup untuk membangun iman yang tebal dan kokoh.

Akhirnya kita masuk di Bulan Mulia ini tanpa spirit yang kuat untuk memborong kebaikan dan berjuta  pahala yang dijanjikan Alloh SWT. Situasi ini dapat di ilustrasikan seperti orang yang terpilih diberi kesempatan masuk dan bebas memilih barang-barang mewah di  super mall dengan harga super murah tapi  modal yang dibawa  hanya cukup untuk membayar jasa parkir saja. Dia keluar dengan penyesalan yang tiada terkira. 

Begitu istimewanya ibadah haji di sisi Alloh. Maka orang yang berkesempat berangkat haji (calon haji) mengundang tetangga dan teman-teman nya untuk tasyakuran. Bahagia.

Demikian juga saking mulianya bisa masuk bulan Ramadhan umat islam di masjid-masjid, musholla-musholla serta di rumah-rumah melakukan megengan. Yaitu bertasyakur kepada Alloh SWT atas nikmat yang agung berupa bulan Ramadhan. 

Bulan dimana Alloh SWT  mencurahkan Rahmad (kasih sayang), maghfiroh (ampunan) serta menjauhkan umat yg di kehendakinya dari api neraka. Tiada hal yang paling utama bagi orang beriman kecuali tiga perkara tersebut. 

Ketahuilah wahai anak-anakku, semakin benar iman seseorang, maka semakin takut ia kepada Alloh sehinggi ia semakin butuh Rahmat dan Maghfiroh Nya. Karena itulah Ramadhan adalah hadiah ter-istimewa. Khusus di berikan oleh Alloh SWT kepada umat Rosululloh Muhammad  SAW. 

Wahai anakku,..
Tidak kah engkau ingin di banggakan oleh Alloh di hadapan Malaikat-malaikat Nya ?

Wahai malaikat-malaikat Ku, lihatlah umat ku si Fulan begitu cintanya ia pada Ku (Alloh), malam ini seharusnya ia menikmati tidurnya di atas kasur yg empuk, selimut yg hangat, bantal guling yang lembut. 

Tapi ia tinggalkan itu semua untuk menjumpai Ku dalam sholat, dzikir dan membaca Alqur'an. Wahai para Malaikat,  Saksikanlah Aku (Alloh) akan membangunkan rumah istimewa untuknya di surga

Wahai para Malaikat,  Ku banggakan kepada mu. lihatlah umatku si Fulan, pagi ini seharusnya dia bersama HP nya yang bagus, di tempat ber wifi, main  game sesukanya karena sedang  tidak sekolah. 

Tapi karena cintanya pada Ku ia tunda semua itu, ia lebih memilih bermain-main dengan Aku dengan mandi, berwudhu, sholat dhuha dan membaca Alqur'an serta membantu orang tuanya bersih-bersih, cuci piring dan melipat baju. 

Wahai Malaikat, bukankah anak yang seperti ini pantas Ku kabulkan semua doa dan pintanya? Wahai Malaikat, Aku Ridho surga-surga yang indah dan istimewa itu menjadi tempat tinggalnya.

Wahai Malaikat Ku.. Aku tegaskan janji-Ku bahwa siapun yang ;
mencintai Ku,
mengistimewakan Ku,
mendahulukan Ku,
mengutamakan Ku,
mementingkan Ku,

Maka Aku pun akan ;
mencintainya, 
mengistemewakannya, 
mendahulukannya,
mengutamakannya, 
dan mementingkannya bahkan melebihi apa yang ia lakukan Kepada Ku. 

Anak-anak ku,..
Kelak suatu waktu nanti kita akan menerima sebuah buku. Diantara buku itu berjudul Ramadhan 1441 H. Buku itu berisi catatan yang sangat teliti. 

Malaikatlah penulisnya, dan kita lah tokoh yang di tulisnya. Ada sekitar 30 halaman. Masing masih halaman menjelaskan panjang lebar  perihal : detik, menit, jam, pagi, siang, sore dan malam ; tentang  untuk kegiatan apa waktu itu kita habiskan ?

Andai  kita mampu berkomunikasi dengan sang penulis (malaikat) ia pasti kan memberi tahu kita tentang sesuatu. Sesuatu yang membuat kita di Bulan Ramadhan ini tak akan menyia-nyiakan detik, menit, jam, siang dan malam kecuali untuk bersama Alloh SWT.  Dengan puasa, i'tikaf, dzikir, sholat tarowaih, sholat tahajjud, sholat witir, sholat dhuha, tadarus Alqur'an, bersedekah, serta  mendengarkan tausiyah.

Anak ku,
Di Bulan Ramadhan itu ada 30 pintu keberuntungan  di sediakan untuk kita, hari ini  pintu telah di tutup. Hari ini kita mengantar kepergian Ramadhan 1441 H dengan mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid semalam suntuk. Besok pagi kita berkumpul di tempat-tempat suci melepas kepergiannya. 

Anak ku,..
Coba kalian renungkan nasehatku ini, sejatinya kalian yang meninggalkan Ramadhan ataukah Ramadhan yang meninggalkan kita ? Jawabannya adalah seberapa perjuangan kita dalam memperbanyak amal ibadah selama bersama Ramadhan. 

Bisa jadi bukan Ramadhan yang meninggalkan kita, tapi kitalah yang mengabaikannya (meninggalkannya). 

Anak ku,..
Harusnya dirimu menjadi golongan mereka-mereka yg berbangga saat kelak nanti dibagikan buku catatan Ramadhanmu. Karena engkau telah berhasil berjuang  menghabiskan siang malammu untuk berdekat-dekat dalam ibadah kepada Nya.

Akhirnya kita hanya berharap kepada Alloh Yang Maha Pemurah,  semoga diberi kesehatan dan umur yang panjang. Sehingga dapat berjumpa dengan Ramadhan 1442 H tahun yang akan datang. Aamiin. 

Robbana taqobbal minna, innaka antassami'ul 'aliim, wa tub 'alaina innaka antattawwaburrohiim

KangNoer,  Jepun, 23/05/2020

Comments

  1. Kulo mbok di blajari nulis dengan alur halus ngeten niki pak..

    ReplyDelete
  2. Yaa Alloh... Panjengan tulisannya ugi sampun sae lo pak..

    ReplyDelete
  3. Sungguh Filosofi Ramadhan untuk anakku tercinta. Suuwun

    ReplyDelete
  4. Terkesan... Kulo purun dados anak yang selalu di nasehati begini (serius niki)...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia