SI DIA BIMBANG MAU BERCERITA APA TENTANG MASA KECILNYA
Pengalaman Pahit di Masa Lalu, Menjadi Senyum Manis di Masa Kini
Tanah kelahiran kami berbeda-beda. Dan takdir mempetemukan kami hidup bersama di sebuah perumahan kecil yang sederhana. Kebiasaan mengisi waktu sebelum jam tidur malam adalah menikmati kopi sambil ngobrol kesana kemari. Kebetulan sore harinya kami sama-sama baru saja membaca sebuah tulisan sederhana. Tulisan dalam blog ini yang menceritakan penggalan kisah masa kecil saat masih bersama keluarga di tanah kelahiran. Masing-masing mencoba mengulang ingat memory masa kecil yang mengerikan, konyol, nekat, memprihatinkan dan bahkan mengenaskan.
Belum begitu lama rasanya masa anak-anak (SD-SMP) itu berlalu, sekitar tiga puluh lima tahun yang lalu. Nyatanya rata-rata kami masih sangat lancar menceritakan pengalaman lucu, pahit dan getir di masa itu. Kawan... ternyata mereka yang paling banyak mengalami kesulitan hidup di masa kecilnya dialah yang paling ingat terhadap sejarah masa lalu nya, dialah yang paling banyak memiliki judul cerita hidup yang menarik.
Mereka yang dilahirkan di desa dan jauh dari perkotaan, biasanya mempunyai banyak cerita. Misalnya saat menjadi penggembala (angon), saat berangkat sekolah menyeberangi sungai tanpa jembatan, sarapan pagi lauk minyak jelantah dan garam, mandi di sungai, berburu jangkrik, membuat mainan, serta cerita-cerita horor akibat belum adanya penerangan listrik.
Bayangkan saat penerangan masih menggunakan lampu minyak (ublik), jam sembilan malam sudah gulita. Jarang ada orang keluar rumah terlebih saat baru saja ada kematian yang tak wajar. Sungguh mencekam. Anak-anak desa pada jaman itu sungguh hafal tempat-tempat angker yang mesti di hindari jika perjalan di malam hari. Stigma itu dibangun secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Mereka berbangga jika mampu mengarang cerita pernah mengalami peristiwa ghoib yang menakutkan di suatu tempat yang dikenal angker tersebut. Padahal saya yakin, sebenarnya lebih banyak gombalnya (fiksi) nya dari pada faktanya. Begitulah... sudah menjadi budaya, bahwa jika pendengar terkagung-kagum dengan gombalannya, pencerita akan merasa puas.
Bukan berarti anak yang dilahirkan dan dibesarkan di kota tidak punya cerita menarik. Masa kecil anak-anak kota biasanya mengandung unsur-unsur kreatifitas dan terkadang menjurus ke kriminalitas. Meraka biasanya mempunyai komunitas pertemanan. Dalam komunitas pertemanan inilah muncul jiwa euforia. Sesuatu yang dilarang terkadang justru di coba-coba. Misalnya minuman keras, narkoba, tawuran antar kelompok, keberanian mbolos sekolah dan lain-lain.
Semua peristiwa di masa anak-anak itu walaupun pada saat itu terasa pilu, pahit dan terkadang mengandung unsur pelanggaran, tapi saat mereka sudah dewasa menjadi cerita menarik. Menceritakan kejadian masa anak-anak selalu di barengi dengan senyum, tawa serta rasa keheranan. Kita dulu memang gila.... begitulah ungkapan tiap mengakiri sebuah cerita. Yang membuat lebih seru adalah saat beradu cerita masa lalu, lakukanlah bersama teman yang se-usia.
Kawan.... di akhir adu cerita ini, ada satu diantara teman kami yang bimbang, karena tak punya bahan untuk diceritakan tentang masa kecilnya. Usut punya usut teman yang satu ini, ternyata masa kecilnya sungguh bahagia tak kurang suatu apa. Walaupun berasal dari desa, dia hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Rumah dan keluarganya mampu mencegah dari mencari kesenangan masa kecilnya di luar rumah.
Mandi di sungai dilarang, bermain jauh dari rumah tak dapat ijin orang tua. Jemarinya halus tak pernah bergelut dengan rerumputan. Mencium bau kotoran hewan (kambing) dia tersiksa, padahal bagi anak tukang angon (peggembala), aroma kandang kambing tak beda seperti aroma bawang goreng, heemm...seger dan gurih.
Saat sekolah lanjutan, sekolah yang dipilihpun di tengah perkotaan. pekerjaan yang diminati dan menjadi cita-cita nya pun di bidang yang tampak bersih, bidang kesehatan. Jadilah ia tenaga medis di sebuah rumah sakit ternama. Sebuah perjalanan hidup yang lurus, lancar dan sukses, tak kurang suatu apa.
Kekurangan dari temanku yang terakhir di atas adalah, ia tak punya banyak kisah masa kecil yang miris dan dramatis, yang jika di ceritakan membuat senyum dan tawa. Tentu ini bukan kekurangan apalagi kesalahan. Semua peristiwa kehidupan masa lalu ternyata jika kita renungi,... pada saatnya kita menjadi tahu dan berkata "bahwa semua itu memang mesti terjadi pada ku". Semua sudah menjadi Kehendak Nya.
Berbangga dan berbahagialah bagi yang pernah menjalani ujian (kekurangan, kesulitan) di masa lalu dan diberi sukses dalam melampauinya. Hingga menjadi personal experience yang mahal harganya di kemudian hari.
Semoga kita dimampukan untuk bersabar dalam kesulitan dan kekurangan, dan dimampukan bersyukur dalam setiap keadaan. Aamiin Yaa Robbal 'aalamiin.
KangNoer, Perum. Puri Jepun, 13/05/2020

Masyaallah. Sungguh indah ceritamu, Kang.
ReplyDeleteAlhamdulillah.. Terimakasih suntikannya prof..hhh
DeleteSaya tak aminkan yang bawah njih, aamiin....
ReplyDeleteLuar biasa boskuu
ReplyDeleteikut mengamini...siapa tahu bisa mengikuti jejak panjenengan
DeleteMenggaris lurus "semoga badai segera berlalu kang Noer"
ReplyDeleteLebaran tahun ini ngikut PSBB ya
Aamiin... siap bos q
DeleteSebagaimana yang lain...ku menunggu tulisan ceritamu
amin yra...keren
ReplyDeleteBlajar..nderek2 pak dok haji..
DeleteMengenang masa lalu itu salah satu wujud syukur kita yg kita alami saat ini
ReplyDeleteTrimakasih,...
Deletecerita masa keciku di desa yg sgt terpencil juga sgt mmenarik dan menggelikan boskuh....dan pasti akan selalu teringat dlm angan meskipun sdh puluhan tahun yg lalu...
ReplyDeleteSiip bunda Endah... Supaya tak hilang tertelan waktu..monggo d oret oret..
DeleteAlloh tlh menentukan takdirnya njh pak... astaghfirullah
ReplyDeleteH h h... Nggih... Dawuh leres..
Delete