PENGALAMAN RAMADHAN DUA ANAK GEMBALA
| Gambar ; ilustrasi google.com |
Kehilangan dunia bermain
Sekitar tahun 1989 yang lalu kisah ini terjadi, tentang kami (Noer dan Lu’). Dua bersaudara yang beda usia 3 tahunan. Saat itu kami berusia sekitar 13 dan 10 tahun. Usia dimana seorang anak sedang tumbuh, kembang jasmani dan mentalnya. Sehingga idealnya membutuhkan asupan makanan yang cukup dan bergizi, menikmati dunia bermain, serta bersosialisasi dengan teman sepermainannya.
Tetapi kehidupan sebagian anak pedesaan mempunyai pola yang berbeda. Bisa dikatakan sedikit keluar dari teori dan rekomendasi pakar psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan. Hal ini bisa dilihat dari potret kehidupan masa kecil kami sebagaimana dalam kisah ini.
Suatu hari kami disuruh oleh Bapak untuk menjaga sawah di samping rumah yang mulia menguning bulir padinya, hampir panen. Menjaga dari serangan gerombolan burung pipit (emprit), dan ayam liar milik sendiri dan milik para tetangga.
Kami berdua menyatakan kesediaan dengan mengajukan permohonan, minta dibelikan dua ekor kambing jika sawahnya selesai dipanen. Tentu saja hal ini menjadi surga telinga bagi seorang bapak, yang tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang hal ikhwal pendidikan. Yang sering beliau baca adalah seputar macam dan khasiat obat-obatan pestisida serta aturan pemakaiannya. Petani tulen. Mungkin yang terbayangkan ketika anaknya meminta dibelikan kambing adalah, anaknya tidak menghabiskan waktu untuk bermain (dolan), kambingnya beranak pinak, menghasilkan.
Padahal anak pada usia itu (pra-remaja) kalaupun dia ingin mempunyai binatang ternak misalnya kambing, tak lain hanya untuk kesenangan, dan untuk teman bermain. Kami sama sekali tidak membayangkan di mana dan bagaimana mencarikan makanannya. Di sinilah awal mula “penderitaan” dua anak kecil ini terjadi.
Pisik yang kecil dan lemah harus bertanggungjawab menjamin ketersediaan makanan dua kambing yang dicintainya. Kegiatan mencarikan makanan kambing (ngramban), selalu dilakukan sepulang sekolah (setelah dhuhur), dan tempatnya cukup jauh dari rumah, yaitu di kebun dan hutan tepian pantai selatan.
Berangkat siang dan pulang sudah sore hari. Panas dan hujan adalah medan perjalanannya. Letih, perih dan dahaga selalu dialaminya. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dua indukan kambingpun beranak pinak. Kebahagiaan dua anak ini bertambah demikian juga penderitaannya.
Kulitnya makin menghitam, tangannya makin kasar (kapalan), badannya makin kurus, wajahnya penuh goresan duri dan ranting semak belukar, pundaknya makin hari makin berat memikul. Kehilangan waktu bermain, jauh dengan teman sepermainan, mengantuk saat jam belajar malam.
Pertumbuhan jasmani terhambat, dan prestasi sekolah menurun. Mungkin inilah yang disebut tak terjaminnya masa tumbuh kembang seorang anak dengan baik karena lingkungan yang kurang mendukung.
Semua itu terjadi, berawal dari menyenangi sesuatu. Menyenangi mempunyai binatang ternak, dan karenanya harus rela menjadi “budaknya.” Kelihatannya majikan (pemilik), tapi melayani. Di sinilah “sang majikan” justru dibebani kewajiban mencari dan memberi makan setiap hari tak perduli apapun keadaannya.
Melihat kami yang tiap hari berjibaku dengan pekerjaan yang seharusnya belum dilakukan oleh seorang anak itu, beberapa orang yang sedikit mengerti tumbuh kembang anak merasa iba dan berkata, “Ndang didol-ae weduse, bocah iku penggawehane ngaji karo dolan,” (segera dijual saja kambingnya, anak itu kerjanya ngaji, belajar dan bermain).
Terhadap bisikan provokatif ini, kami sebenarnya sangat setuju, tapi sedikitpun tak punya keberanian menyampaikan pada pemangku kebijakan (Bapak). Durhaka! Justru dua tahun kemudian kesepuluh ekor kambing hasil keringat kami ini dijual dan ditukar dengan se-ekor bibit sapi. Dari sepuluh menjadi satu, pengurangan jumlah ini sama sekali tak merubah rutinitas keseharian kami. Yang berubah hanyalah dari berburu dedaunan menjadi berburu rerumputan. Walhasil tetap ndamarwulan.
Kegembiraan Yang Dilematis
Menjelang datangnya Bulan Ramadhan, para khotib dan pemangku masjid, musholla biasanya memberikan nasehat (tausiyah) berkaitan dengan bagaimana sikap seorang muslim menyambut datangnya bulan Suci Ramadhan. Demikian juga ceramah-ceramah di televisi sering membacakan hadits-hadits tentang kemuliaan Bulan Ramadhan.
Tentu saja umat Islam bergembira, karena pada Bulan Ramadhan Alloh SWT memberikan banyak Kemuliaan, Rahmad dan Ampunan. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup. Ibadah dan kebaikan pahalanya dilipatgandakan, menuju surga dimudahkan. Bagi muslim yang tebal ilmu dan imannya pasti menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan hati yang gembira, seraya menyusun program ibadah untuk meraih pahala dan kemuliaan sebanyak-banyaknya.
Berbeda dengan si-dua anak tukang ngarit (pencari rumput) ini. Berbekal sedikitnya ilmu agama dan tipisnya iman. Menyambut Ramadhan dengan perasaan yang dilematis. Kami membayangkan di hari biasa saja penderitaannya begitu berat. Letih dan dahaga selalu dirasakan saat mencari ramban dan rerumputan. Apalagi jika berpuasa, seharian tidak makan dan tidak minum, tentu saja makin berat, dan makin kering di tenggorokan.
Bagi anak-anak yang tak punya kewajiban ngarit, begitu mudah menyikapi haus dan lapar saat puasa, yaitu dengan bermain dan tidur. Tapi kami (Noer dan Lu’) tak pernah dalam sejarah, siang hari bermain apalagi tidur. Sepulang sekolah, makan siang, ganti baju, mengasah celurit, berdiskusi lokasi perburuan ramban dan rumput, berjalan menembus panasnya matahari pukul 13.00 siang.
Bila bernasib baik (ketemu dengan lokasi yang subur) jam 16.00 kami sudah pulang memikul keranjang penuh rumput. Tetapi jika nasib sedang kurang baik (tak banyak rumput karena salah memilih lokasi), matahari hampir tenggelam kami baru beranjak pulang.
Yang paling memilukan adalah ketika saat berangkat, merumput dan pulang, sepanjang waktu itu hujan tak pernah reda. Jalan licin, semua rumput basah, memikul rumput yang basah di jalan sawah yang licin adalah puncak penderitaan yang sempurna. Kami sebenarnya menangis tapi air mata dan air hujan berpadu menjadi satu hingga tak tampaklah derasnya air mata kami. Begitulah, Ramadhan membawa dilema, antara senang dan beratnya beban yang harus diselesaikan di tengah menjalani puasa.
Menangis di Pematang Sawah
Bulan Suci Ramadhan selalu membawa suasana spiritual bagi masyarakat muslim, terlebih masyarakat pedesaan. Siang hari, petani pulang lebih awal dari biasanya. Pekerjaan yang dilakukan di sawah dan ladang biasanya pekerjaan yang ringan-ringan saja. Semua itu untuk menjaga stamina supaya puasa lulus sampai adzan maghrib tiba. Masjid dan musholla membuat jadwal kegiatan mengaji dan ibadah.
Kemuliaan Ramadhan hanya dapat diperoleh dengan perjuangan. Perjuangan untuk lebih mengutamakan kegiatan ibadah kepada Alloh dari pada kegiatan yang lainnya.
Suatu sore sekitar pukul 16.00 sehabis sholat asar. Dua bocah tukang ngarit (Noer dan Lu’) masih melaksanakan kewajibannya mengais rumput memenuhi empat keranjang yang selalu dibawanya. Kami memilih lokasi di tengah pematang sawah dekat dengan bukit Kepuh. Dahaga dan letih yang luar biasa, serasa tak mampu menggerakkan celurit kecil senjata utama membabat rerumputan.
Makin sore jasmani kami rapuh, dan lemah, sisa-sisa air liur untuk sekedar membasahi tenggorokan pun telah mengering. Apapun yang terjadi puasa harus tetap dijaga. Kami termasuk anak yang sangat lembut hati, hal ini bisa dilihat dari ketaatan kami pada orang tua dan kekuatan mempertahankan kewajiban puasa di tengah serangan lapar dan dahaga yang luar biasa.
Sore itu selain bertahan melawan dahaga, kami mendapatkan serangan mental yang menggetarkan jiwa. Dari speaker TOA masjid Al-Huda dan beberapa musholla lain di kampung itu terdengar riuh suara anak-anak sedang mengaji tilawah Al-Qur’an. Mereka bersama-sama menirukan bacaan lagu (qiro’ah) ustadznya.
Kontan kami (Noer dan Lu’) saling bertatap mata, saling pandang dengan mata berkaca-kaca, hati menjerit pilu dan berkata, “Seharusnya, saat ini kita ada di sana, tidak di sini.” Mata kami menangis hati kami menjerit, membayangkan betapa bahagianya anak-anak seusia kami yang sedang mengaji itu. Pasti mereka sedang berbaju bersih, dan berada di tempat yang bersih. Sementara kami memakai baju kotor dan berada di tempat yang kotor. Mereka pasti mendapatkan ilmu tilawah Alqur’an yang sangat kami idamkan. Muamar ZA dan Nanang Qosim sang juara MTQ Nasional tahun 70an adalah dua nama yang sangat kami kagumi.
Ramainya suara anak-anak seusia kami mengaji ilmunya sang Idola (ilmu Al-Qur’an), adalah serangan mental dan spiritual tak terperi. Di tengah pekerjaan yang saat itu sudah tidak kami kehendaki. Saat itu minat mengaji dan sekolah telah mulai tumbuh di hati. Mulai tumbuh rasa mengagumi orang-orang alim yang pandai mengaji.
Selain itu, di sekolah lanjutan beban pelajaran sekolah makin hari makin sulit, dan tentu saja membutuhkan waktu dan vitalitas belajar di rumah. Pekerjaan penuh waktu di siang hari bagi anak pra-remaja (SD-SMP) akan menyebabkan anak kelelahan di malam hari dan tidak mampu berlama-lama membaca buku pelajaran karena mengantuk.
Sekelumit Bahagia Anak-anak Desa
Hari raya idul fitri segera tiba, kurang lima hari lagi. Pasar Legi Munjungan tinggal satu kesempatan. Pasar Legi Munjungan pada tahun itu hanya buka lima hari sekali yaitu di hari pasaran Legi saja.
Sudah menjadi tradisi tahunan, semua orang tumplek-blek (serentak) menjelang Idul Fitri menyerbu pasar membawa serta anak-anaknya. Baju, celana dan sandal baru adalah sasaran utumanya. Itulah hadiah tahunan anak-anak desa dari orang tuanya. Demikian juga dengan kami. Malam itu sudah terbayangkan, besok akan diajak emak (ibu) ke pasar, membeli baju baru. Senang sekali.
Dengan penuh perjuangan menembus sesaknya manusia di dalam pasar celana hitam dan sandal lily berhasil dibeli. Tiba-tiba Emak menggelandang kami keluar dari pasar. Hati mulai berfikir negatif, "Apakah uang Emak sudah habis? Lalu Bodo (hari raya) bajuku yang bagaimana?" bisikku dalam hati. Tangan kami terus digelandang Emak menuju sebuah toko di luar pasar. Toko tersebut lebih tepatnya adalah tempat penjahit yang biasa menjahit seragam sekolah. Rupanya emak menggunakan pikiran cerdasnya. Beli baju bodo (hari raya) sekaligus baju untuk sekolah. Beli satu dapat dua, satu baju dua acara.
Benar sekali, emak meminta diambilkan dua kemeja polos putih yang se-ukuran. Karena saya dan adik saya besarnya sama walaupun usianya selisih 3 tahun. Dua kemeja putih kain linen berhasil di bungkus. Hari raya nanti, sudah pasti kami seperti anak kembar. Celana hitam sedikit bordir, kemeja putih, bersandal lily. Amboy ..., santuuyy sekali.
Demikianlah kebahagiaan Ramadhan yang menyelimuti kami di usia anak-anak (pra-remaja). Tampak seperti banyak penderitaannya, memang demikianlah adanya. Dan itu semua mesti terjadi pada kami. Karena yang sedang kami alami saat ini, semuanya tak lepas dari garis sejarah kehidupan yang dulu pernah kami jalani.
Semua tangga itu tersambung hingga tak perlu ada penyesalan sejarah masa lalu. Sama sekali tak perlu, dan tak ada faedahnya. Semua yang terjadi adalah takdir Nya. Setiap lembaran kehidupan berisi tangis dan tawa, suka dan duka melengkapi cerita perjalanan kehidupan. Hingga sampailah pada sempurnanya keyakinan bahwa Dialah Pencipta, Pemelihara dan Penentu Segalanya. Yaa Alloh Tunjukkanlah kami ke jalan Mu yang lurus!
KangNoer, Puri Jepun Permai 2 Tulungagung, 14 Mei 2020
Cerita yang menghentakkan batin...
ReplyDeleteMrebes mili..
DeleteTrenyuuuuhhh
DeleteIngatan dan kenangan adalah hal terindah dalam hidup--Milan Kundera
ReplyDeleteBetul prof...dan akan musnah jika tak di brankas kan dlm tulisan
DeleteUapik, gambar sampulnya kok?.....
ReplyDeleteHehehe... Foto jadulnya blm ketemu p haji..
Deletegak bisa koment kulo...
ReplyDeleteRuarrr...biasyaahhh....
Nopo sampun d pun waos to yii...
ReplyDeletetahun 2020 tulisan pak nur sudah mantabb begini, pripun tahun 2023 lebih gurih dan renyah sepertinya_
ReplyDeleteNderek dawuh panjenengan p.kaji yus.
Delete