New Normal, Belajar Dari Burung Elang



Belajar sama-sama 2x. 
Berkerja sama-sama 2x 
Semua orang itu guru. 
Alam raya sekolahku. 
Sejahteralah Bangsaku. 

Bait di atas adalah sebuah lagu, yang pernah saya dapatkan di suatu diklat mungkin 14 tahun yang lalu. Lagu tersebut mengajarkan pentingnya  ; belajar bersama, bekerjasama, belajar dari siapa saja, alam (lingkungan) adalah sekolah dan sumber ilmu. 

Bila empat pesan ini mampu ter-internalisasi dan ter-implementasi dalam kehidupan kita, maka kita dan lembaga kita akan makin mudah menggapai kesuksesan.

Kesuksesan pribadi dan organisasi (lembaga) adalah cikal bakal dan soko guru kejayaan Bangsa. Diantaranya mungkin demikian maksudnya. Sungguh inspiratif, dan boleh di coba. 

Pesan yang disampaikan oleh lagu sederhana tersebut menurut saya sungguh penting. Terlebih di masa transisi menuju new normal saat ini. 

Kita perlu belajar dari ke-arifan masa lalu. Pun juga belajar ber-adaptasi dengan masa kini dan masa depan.  

Kita butuh bekerjasama, saling menguatkan satu sama lain. Karena kita sadar, betapa kita bukan makhluk yang sempurna. 

Ada sesuatu yang kita tidak punya dan mampu. Demikian juga dengan orang lain. Maka sinergi, kerjasama, ta'awun, adalah keniscayaan bagi kesuksesan dan kebahagiaan hidup manusia.

New normal yang sekarang sedang kita songsong bersama, adalah halaman baru kehidupan kita. Terkadang memasuki suasana baru muncul perasaan ragu dan gamang. Padahal sudah jelas yang abadi adalah perubahan. 

Alam ini akan selalu menyajikan perubahan. Jikapun alam tidak berubah, bukankah kitanya yang berubah? Fisik kita makin menua, ingatan kita makin sering lupa, energi kita makin lemah. Kita sungguh tak bisa menghindari hukum alam satu ini. 

Menyongsong new normal, tak ada salahnya kita belajar dari proses keberlangsungan hidup se-ekor burung elang. Bukankah alam raya adalah sekolah kita. 

Burung elang nyangoni kita spirit, bahwa perubahan itu harus diperjuangkan. Jika ingin menang dan sukses menyongsong kehidupan di hari depan. 

Diusia 40 tahun, cakar elang yang panjang mulai kesulitan menangkap mangsa. Paruhnya yang tajam dan panjang mulai bengkok. Tak mudah lagi mengelola santapan sehari-harinya. Bulu sayapnya menua, menebal dan menjadi beban saat ia terbang. 

Dalam situasi seperti itu, si-elang di hadapkan pada dua pilihan. Menyerah dan meninggalkan dunia ini. Atau berjuang menyiapkan perbekalan diri menyongsong kehidupan baru (new normal) ?

Pada akhirnya elang memilih berjuang, ia bersusah payah terbang ke puncak gunung. Hinggap di sarangnya di dalam gua, duduk merenung. Sembari berfikir jauh kedepan, ia bangun dan bersiap dengan optimis memulai perubahan. 

Ikhtiyar baru pun dimulai. Paruh lamanya di pukul-pukulkan ke batu, hingga lepas dan tumbuh paruh baru. Cakar lamanya yang panjang dan telah usang dilepasnya. Bulu-bulu yang selama ini di banggakan pun di rontokkan untuk memudahkan tumbuhnya bulu-bulu baru. 

Jangan di tanya. Bersakit-sakit itu sudah pasti dirasakannya. Karena pahitnya obat tak dirasa jika ingin menikmati kesembuhan dengan segera. 

Proses menuju terlahir kembali si-elang tidaklah bimsalabim. Butuh menyisihkan waktu 150 hari untuk menyendiri. Berhenti sementara waktu dari rutinitas biasanya. Dan kesuksesan ber-inovasi memperbaharui diri menjadi modal untuk hidup 30 tahun lagi. 

Kita sering mendengar dan bahkan berkata. Bahwa seringkali untuk bisa bertahan hidup, kita harus melakukan perubahan. Menyesuaikan keadaan. 

Dan ada saatnya kita harus membuang kenangan, kebiasaan dan tradisi kerja lama kita. 

Yang ada dan menunggu di depan sana, adalah perubahan. Dan sekali lagi ku ingatkan, jikapun tidak berubah, diluar kuasa kita diri kita ini terus berjalan, berubah ; menua dan semakin lemah. 

Karena itu kita harus mencari seribu alasan. Untuk mau memulai berangkat belajar membekali dan meningkatkan kwalitas diri. 

Bukan sebaliknya menggali banyak alasan untuk menunda, mengabaikan dan meninggalkan kesempatan belajar yang sungguh mahal harganya. [...]

KangNoer, Puri Jepun, 30 Mei 2020

Comments

  1. aku ingin terbang tinggi
    seperti elang
    melewati siang malam
    teruse lali Pak Nur....lagune Dewa 19...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Leres paK Ans..kados nate ngehit nggih lagu meniko... Mugi2 kang gadah mengunggah di group.

      Swun yai rawuh lan dawuh ipun.

      Delete
  2. Nahhh, yang ini sungguh menyejukkan. Sayangnya

    Sayap sayap patah Yo Ono.
    Terimakasih ilmunya

    ReplyDelete
  3. Inspirasi. Refleksi tentang perubahan yang harus dihadapi dengan kearifan

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. Sami mawon yii.. Panjenengan ugi saget, monggo dipun lanjutaken blajar sareng2...

      Delete
  5. Subhanalloh. .. Kreatif n produktif bingiit. .
    Yi, berilah saya inspirasi untuk sy tulis,
    ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yas Alloh bu nyai... Mengalir mawon. Panjngan pengalamanipun langkung katah lo bu...

      Saget kulo namung nulis kang ringan2 ngaten meniko...

      Delete
  6. Entah apa yang 'kan kita hadapi
    Lock down yang diakhiri
    Aktifitas baru menanti
    New normal istilah kini
    Gelorakan niat tulus karna Illahi


    Belajar dari Elang. Thanks

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia