Menyongsong New Normal (1)




Perang Yang Tak Berkesudahan

Tak dapat dipungkuri bahwa, bicara perihal apapun saat ini,  tak bisa lepas dari faktor covid-19. Bukan hanya di suatu wilayah, dan negara tertentu tapi dimanapun seantero bumi ini. Demikian hal nya di Indonesia. 

Covid-19 telah memaksa warga dunia untuk membicarakan perihal dirinya. Tidak pernah seharipun, media massa berhenti bicar dan menulis berita tentang covid-19.

Pejabat negara, pakar, ahli, bahkan masyarakat umum terus membicarakannya. Baik langsung maupun lewat tulisan. Covid-19 selalu jadi pembahasan. Tak lain karena menyangkut tantangan baru keberlangsungan hidup manusia kini dan selanjutnya. 

Akhir-akhir ini istilah  "perang melawan covid-19" mulai terlihat kurang relevan. Hal ini bisa di fahami karena fakta di lapangan menunjukkan belum ada negara manapun yang menyatakan telah 100% mengalahkan (bebas) dari covid-19.

Demikian juga para ahli, kebanyakan mereka berpendapat bahwa covid-19 ini tidak bisa ditiadakan sama sekali  dari muka bumi ini. Ia akan tetap ada, sebagaimana para pendahulu-pendahulu nya. 

Mengapa istilah perang melawan covid saat ini kurang relevan? Perang adalah dua kubu yang saling berebut kemenangan. Yang menang, maka dia berhak eksis dan menguasai tatanan kehidupan berikutnya. Yang kalah harus tunduk pada kekuasaan pihak yang menang. Jika sang pemenang menghendaki musuhnya di lenyapkan maka berakhirlah kisah hidupnya. 

Kenyataannya, sebagaimana di jelaskan di atas. Dimana manusia dan covid-19 saat ini dan seterusnya sama-sama akan eksis di atas bumi yang satu ini. Maka jika manusia dan covid relasi nya adalah perang, niscaya akan menjadi  perang yang tidak berkesudahan. 


Menyongsong New Normal 

Karena itulah maka diskursus kita sekarang adalah menyongsong new normal

Beberapa hari yang lalu Presiden RI (Bapak Joko Widodo) telah memulai diskursus ini. Beliau mengatakan bahwa "Kita bersiap memasuki tatanan kehidupan baru (new normal)". 

Beliau menjelaskan bahwa masyarakat harus berdamai dengan covid-19". Ini bukan berarti menyerah, tapi kita harus menyesuaikan diri (dengan bahaya covid-19). Kita lawan covid dengan senjata protokol kesehatan yang ketat. (Kompas.com 25/05/2020). 

Menurut psikolog Yuli Budirahayu (Tribunnews.com, 26/05/2020), New Normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktifitas normal, namun dengan penerapan protokol kesehatan dengan bertujuan untuk mencegah terjadinya penularan covid-19. 

Jadi new normal adalah, perilaku hidup berbeda. Berbeda antara sebelum dan setelah hadirnya covid di sisi kita.

Disinilah, kini kita mempunyai ruang baru untuk berdiskusi. Mencoba menggali pemikiran, untuk menemukan cara-cara baru bisa hidup aman di zaman baru. 

Dimulai dari membuang jauh-jauh pemikiran bahwa covid-19 akan terkalahkan, dan hilang rimbanya dari muka bumi ini. Sehingga mau tidak mau manusia harus hidup berdampingan dan berdamai dengannya. 

Tentu saja semua sektor urusan hidup manusia akan menerapkan protokol-protokol baru. Yang kesemuanya bertujuan untuk  mengamankan manusia dari kemungkinan terpapar covid-19. 

Karena virus ini dari manusia ke manusia, maka yang paling diatur adalah persoalan bertemunya manusia satu dengan yang lainnya. Bukankah ini benar-benar new normal ?. Sedangkan semua aspek kehidupan manusia saat ini,  dijalankan di atas kodrat bahwa manusia adalah makhluk sosial ?

Karena itu pemerintah (di berbagai kementerian) sering mengatakan bahwa mereka sedang menyusun pedoman pelaksanaan kerja di tiap-tiap urusan (kementerian).  

Dan kita saat ini sedang menunggu protokol atau pedoman itu. Pastinya akan banyak protokol berjudul new normal. Sebanyak urusan yang biasa kita jalani sehari-hari. 

Tak lama lagi akan ada misalnya ; Protokol New Normal Pelaksanaan Pendidikan Indonesia di bawah Kementerian Pendidikan. Protokol New Normal Pelaksanaan Ibadah Umat beragama, dibawah Kementerian Agama. Dan seterusnya,..

Kementerian Kesehatan sudah memulai hal ini. Kemenkes misalnya telah mengeluarkan Keputusan Menteri Nomor : HK.01.07/ MENKES/328/2020 Tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19  di tempat kerja perkantoran dan industri. 

Itulah contoh perilaku hidup berbeda, new normal. Yang sebentar lagi protokol-protokol nya akan diterbitkan oleh pemerintah sesuai dengan urusan dan bidang-bidangnya. Kita tunggu saja !!

Bagaimana dengan nasib sekolah di Indonesia ? Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan pasti akan sangat hati-hati menelurkan kebijakan. Kapan sekolah benar-benar akan dibuka kembali. Kapan tahun ajaran baru di mulai ? Dan seterusnya,..

Kehati-hatian ini wajar karena menyangkut penumpangnya adalah anak-anak bangsa yang begitu banyak. Menteri Pendidikan pun sampai saat ini (26/05/2020) belum memberikan kepastian perihal di atas. 

Beliau (MENDIKNAS) menjelaskan bahwa  saat ini belum ada data ilmiah (yang valid) tentang tren grafik covid-19, kapan mumuncak dan kapan melandai. Sehingga diperlukan adanya  Plan A dan dan Plan B, untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan itu. 

Kita semua mestinya sepakat bahwa New Normal, bidang pendidikan policy (kebijakannya) harus lebih detail. Karena menyangkut keselamatan, kekuatan dan nasib bangsa ini di masa depan. [...]


KangNoer, Puri Jepun, 26 Mei 2020

Comments

  1. Aku milih prediksi nomor 1 jaman purba kira² bangsa ini mendesain perang melawan covid-19 seperti apa ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kira kira ya boleh apa saja master... Namanya kira2..

      Delete
  2. bersiap-siap beradaptasi dengan new normal ..

    ReplyDelete
  3. Kira-kira new normal itu akan lebih baik atau....?hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kira2, akan lebih rumit yii... demi keamanan. Contoh kecilnya dulu keluar dg helm cukup. Tapi nnti harus juga bermasker. Pada aspek2 tertentu mungkin ada yg menjadi lebih mudah, misal urusan yg biasanya hurus diselesaikan face to face menjadi cukup scr virtual. Kita tunggu saja formulasinya ke depan spt apa.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia