Bukan dimana anda duduk dan bukan dimana anda berdiri
Ijinkan aku mengagumimu
Beberapa hari ini media massa, baik elektronik maupun cetak sedang ramai membicarakan pro kontra suatu unggahan di channal youTube.
Sebuah wawancara singkat seorang host dengan seorang tokoh, di suatu tempat sederhana tapi sarat makna. Terlepas dari pro kontranya, bagi saya tayangan itu cukup mengobati, dan memberi inspirasi.
Mengobati ? Untuk yang satu ini, mungkin ini urusan rumah tangga saya pribadi.
Ketertarikan saya menonton sampai tuntas tayangan tersebut adalah karena sang tokoh adalah orang yang pernah saya kagumi. Bahkan sampai sekarang.
Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk ikut campur dalam pro kontra yang kini sedang menghangat. Tetapi semata-mata ingin mengungkapkan kerinduan saya pada sosok idola.
Rindu ingin melihat beliau bebas kembali berbicara tentang politik kesehatan. Iya politik kesehatan. Semacam relasi kekuasaan dengan kebijakan di bidang kesehatan. Terlebih di saat dunia sedang gamang mencari strategi menyikapi "pandemi" (dalam tanda petik).
Semenjak tahun 2004, saat beliau ditunjuk presiden (SBY) menjadi orang nomor satu di sebuah kementerian, saya mencoba mengulik profilnya. Demikianlah ciri khas saya jika mengagumi sesuatu. Selalu ada rasa ingin tahu, dan berusaha mengenali sesuatu tersebut lebih jauh.
Waktu itu saya hanya berfikir sederhana. Namanya indah, dan enak di telinga saya yang orang jawa. Seorang perempuan menjadi menteri, pasti bukan perempuan biasa. Itulah diantara pertanyaan yang menggelayuti pikiran saya saat itu.
Beliau adalah seorang perempuan cantik nan manis yang keibuan. Seorang dokter yang telah bergelar Doktor. Selain sebagai dokter beliau juga pengajar (dosen) kardiologi di sebuah universitas nomor wahid di negeri ini.
Saat ini usianya hampir 71 tahun. Walaupun sudah sepuh, memandang wajahnya di layar kaca dan mendengarkan beliau bicara saya betah berlama-lama. Cantik, cerdas, tegas dan bertanggungjawab terhadap gagasan yang diperjuangkannya.
Bagi saya, dan sekali lagi bagi saya, wanita sekelas beliau tidaklah banyak jumlahnya di muka bumi ini. Ilmunya sangat mumpuni. Bidang ilmu yang beliau kuasai sangat dibutuhkan oleh kehidupan manusia, yaitu kesehatan jantung.
Saya sudah menduga pembaca pasti berfikir, begitulah jika seseorang mendeskripsikan idolanya. Pasti sisi lebih nya saja yang dilihat. Tidak apa-apa, saya terima dengan lapang dada. Dan memang tidaklah salah justifikasi seperti itu.
Saya juga sangat memaklumi terjadinya pro dan kontra tentang beliau saat ini. Karena mungkin sekitar empat tahun belakangan ini beliau sedang menjalani suatu situasi yang paling tidak diinginkan oleh semua orang.
Walaupun beliau ikhlas menjalaninya, tetap saja situasi tersebut merupakan penggalan terburuk dari perjalanan hidupnya. Saya yang bukan siapa-siapanya saja ikut merasakan betapa pilunya hati seorang ibu hebat ini. Ujian kehidupan yang sungguh berat.
Saya sama sekali tidak menyesal mengagumi beliau. Dan tayangan yang saya nikmati kemarin malam (26/05/2020) benar-benar menjadi obat kangen. Kata demi kata, kalimat demi kalimat yang beliau ucapkan saat menjawab pertanyaan host (Mr DC) saya rekam dengan baik dalam ingatan.
Dengan husyu' saya mendengarkan perjelasan dan gagasan-gagasannya, sembari mengingat-ingat prestasi beliau.
Dantaranya dengan penuh keberanian beliau pernah melawan negara adidaya dan organisasi nomor satu dunia. Dengan tegas beliau menolak status pandemi virus flu burung dan flu babi.
Bagi sang ibu hebat ini, dua virus tersebut tidak perlu diselesaikan dengan vaksin. Dan perlawanan ini akhirnya beliau menangkan. Hingga dunia tak perlu lagi mengeluarkan dana trilyunan untuk belanja vaksin tersebut. Bisa dibayangkan, betapa sakit hati mereka yang sudah bersiap berdagang vaksin kala itu.
Heroisme perlawanan itu ditulis dalam buku beliau berjudul "Saatnya Dunia Berubah ! Tangan Tuhan dibalik Virus Flu Burung". Konon buku ini menyinggung sebuah konspirasi dua kekuatan adidaya di atas.
Prestasi akademis beliau tak bisa diremehkan. Ibu Doktor ini juga telah menulis 150 karya tulis yang diterbitkan oleh jurnal lokal, regional dan internasional. Berbagai penghargaan nasional dan internasional pun memenuhi curriculum vitae nya.
Kredibilitas keilmuan dan karakter tegas nya inilah yang membuat presiden SBY kala itu kesengsem meminangnya untuk memimpin Kementerian Kesehatan tahun 2004.
Selama belasan menit wawancara tersebut banyak statemen beliau yang menurut saya sungguh mengharukan, dan menggetarkan hati. Misalnya beliau mengatakan "saya ini tidak salah, tapi saya kalah".
Saya merasakan, saat statemen ini keluar dari mulutnya, dada beliau rasanya sesak, dan bola matanya spontan berkaca-kaca. Ibu hebat idola saya ini tampak sedang menggugat ketidak bijaksanaan (atau ketidak adilan) oleh manusia pada dirinya.
Ada satu statemen yang akan selalu ku ingat sebagai hadiah beliau untuk diriku. Adalah saat beliau ditanya "apakah ibu bahagia?" Dengan tenang beliau menjawab "ya... sesungguhnya kebahagiaan itu ada di hati, bukan dimana anda duduk, dan bukan pula dimana anda berdiri".
Jawaban tersebut seakan melunaskan semua rencana interview yang telah di susun oleh sang pewawancara (host)
Bagi saya, disitulah kita semua harus terus-menerus belajar, untuk mengelola hati hingga pandai bersyukur. Bersyukur di setiap ruang dan waktu, kapanpun dan dimanapun, serta saat menjani perkara (jejibahan) apapun.
Perkara syukur ini sering sekali di nasehatkan oleh guru-guru kita, sebagai perkara yang mudah diucapkan tapi sulit untuk dipraktikan. Nasehat syukur yang tiada waleh-waleh (terus menerus) ini sejalan dengan Firman Nya dalam QS. Ar-Rohman, hingga diulang 31 kali dalam satu surat yang terdiri dari 78 ayat ini.
Oleh karena itu saya mohon ijin, mengulangi nasehat beliau di atas untuk saya nasehatkan pada diri saya sendiri bahwa ; "sesungguhnya kebahagiaan itu ada di hati, bukan dimana anda duduk, dan bukan pula dimana anda berdiri".
Terakhir ijinkan saya berdo'a semoga Alloh SWT senantiasa mencurahkan Rahmad Nya. Sehat dan bahagia selalu ibu Siti Fadhilah Supari (SFS). Aamiin. [...]
KangNoer, Puri Jepun, 27 Mei 2020
Betul... Bersukur memang mudal diucapkan, sulit ditunaikan... Banyaknya ayat menjelaskan syukur, menandakan bahwa syukur tidak hanya mempunyai posisi istimewa di hadapan Tuhan, tetapi juga karena perkara yang sulit, hingga diulang ulang olehNya tanpa lelah. Bahkan suatu riwayat mengatakan bahwa syukur ini derajatnya di atas ridha. Itulah kira2 pesan ibnu qoyyim al jauziyah. Semoga kita semua bisa menjadi orang yang selalu bersyukur, sekecil apapun bentuknya. Amin.
ReplyDeleteSabar hanya berlaku dan ada d dunia..tapi syukur ada dan berlaku di dunia dan d akherat.
ReplyDeleteSyukur sebenarnya tidak cukup dengan hanya mengucapkan “alhamdulilah”. Tidak cukup dengan kata-kata yang diucapkan dari mulut saja, tetapi juga dengan hati dan anggota badannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan, dan anggota badan.
ReplyDeleteKapan² ngopi ya ?
Ngaten nggih yii..
DeleteMerinding. Tulisan berjiwa.
ReplyDeleteProf...bisa aja..
DeleteSAE tenan
ReplyDeletePangapunten masih ada salah2 kata bunda..kurang teliti.
DeleteBelum tentu idola saya juga. Tapi tulisan panjenengan sangat sarat dengan pro perjuangan perempuan...
DeleteSalut
Menggugah naluri tuk sabar
ReplyDeleteSyukron yai
DeleteDari awal membaca pikiran saya sudah tertuju pada sosok seorang ibu, yaitu ibu mantan Menkes St Fadilah Supari. Beliau ibu yg hebat. Barusan saya juga membaca tulisan beliau tentang pandemi corona yg sekarang lagi mewabah, menurut beliau bahwa virus corona adalah konspirasi global yg bertujuan untuk melemahkan tatanan ekonomi yg sudah ada.Saya tdk tau apakah pendapat tersebut benar atau salah, yang jelas, ada atau tidak adanya virus corona hidup harus terus berjalan dengan nuansa kebahagiaan yg penuh rasa syukur, bukan bersyukur saat kebahagiaan datang saja, tapi bersyukur dalam segala suasana, bahagia, susah, sedih, gembira....Karena saya meyakini segala sesuatu yg terjadi pasti ada hikmahnya. Wallohu A'lam Bish-Showaab
ReplyDeleteMatursuwun bpk/ibu..
DeleteSayang unknown
Keren pak kyai...terus menulis yai..tak nderek belajar
ReplyDeleteAlhamdulillah... Monggo pak/bu...
DeleteKebenaran hakiki hanya milik Alloh
ReplyDeleteManusia hanya ketitipan sedikit ibarat burung minum di air laut
Jadi dak ada manusia yg sempurna disaat tertentu mungkin benar disaat yg lain mungkin salah termasuk pendapat seorang profesor sekalipun
Wallohu a'lambishowab