Khusus Dirimu Hari ini Sate Saja
![]() |
| Sate kambing ; gratis |
Hari ini Ahad, 31 Mei 2020 bertepatan dengan tanggal 08 Syawal 1441 H. Banyak umat muslim khususnya di Daerah Durenan Trenggalek, serta Tulungagung dan sekitarnya, merayakan Rioyo Kupat.
Rioyo kupat atau hari raya ketupat adalah acara perayaan sebagai bentuk syukur bagi umat muslim yang telah purna melaksanakan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Puasa ini biasanya dilaksanakan tanggal 2 sampai 7 Syawal. Walaupun boleh juga dilaksanakan di hari yang lain asalkan masih di bulan yang sama. Adapun ketupat, adalah jenis menu utama yang "wajib" adanya pada acara tersebut.
Karena itu mulai tadi malam, diantara umat muslim Trenggalek dan Tulungagung sudah ramai membincangkan perihal kupatan di media sosial. Beberapa kali saya melihatnya pada status WA, dan unggahan di WA Group.
Tak terkecuali, komunitas pegiat literasi. Banyak sekali penulis yang menyumbangkan ilmu lewat tulisannya dengan berupaya membedah ikhwal budaya agama, bernama bodo kupatan ini.
Budaya agama satu ini menang unik dan menarik untuk ditulis. Mulai sejarah awalnya (bibit kawit), tokoh penggagasnya, filosofi ketupatnya, serta pesan dan hikmah yang terkandung di dalamnya.
Sifatnya yang unik dan khas inilah hingga kupatan masuk dalam daftar khasanah budaya Islam Nusantara.
Bagi saya unggahan maupun tulisan-tulisan tentang ikhwal kupatan saat ini, juga merupakan ekspresi dari tahadduts binni'mah.
Tulisan-tulisan yang ada berupaya memotret dari dekat kejadian yang sebenarnya, terlebih para penulisnya juga bagian dari pelaku langsung. Disini akan nampak dengan jelas suasana kebatinan yang menyertai peristiwa itu berlangsung. Misalnya saat ini bodo kupatan dirayakan di tengah masa pandemi covid-19.
Secara tidak langsung tulisan demi tulisan itu menjadi dokumen penting yang membantu mengabadikan budaya terpuji ini. Menjadi saksi dan jejak sejarah yang berbicara di kemudian hari.
Kelak lima puluh tahun lagi misalnya, ada satu generasi yang membaca dan mendiskusikannya.
Kawan,.. Barikut saya gambarkan suasana kelas pada jaman itu (lima puluh tahun yang akan datang) yang oleh gurunya diberi tugas meng-eksplorasi budaya agama di Indonesia.
Dengan ekspresi sedikit miris salah seorang siswa melaporkan hasil temuan (searching) nya, "oh ternyata lima puluh tahun yang lalu, Hari Raya Kupatan Tahun 2020 M / 1441 H dilaksanakan dalam suasana keprihatinan, karena sedang musim pageblok pandemik covid-19".
Guru, dan siswa yang lain tersentak dan bertanya dengan penuh penasaran. "Dari mana kau dapati hal itu ? Kemudian di jawab "dari tulisan-tulisan para profesor, doktor, kyai, dan penulis-penulis jaman itu di Tulungagung".
Merekapun kemudian menemukan nama-nama seperti Prof Ngainun Naim, Prof Etik Rachmawati, Prof Suprianto, Prof Subadi, Prof Ansori, Prof Barit, Kyai Masngut, Kyai Saiful, Kyai Haryo Slamet, Kyai Aan Khoirul, Mister Darwi, dan seterusnya.
Dan biasanya siswa muslim, dan santri seperti ini mendo'akan atau berkirim fatihah pada mereka yang telah berjasa menjadi jalan ilmu, dan kebetulan telah tiada.
--------------------
Hari ini, 08 syawal 1441 H saya mungkin tak semujur teman-teman yang lain. Yaitu tidak sarapan ketupat. Padahal di hari raya kupatan, hampir di pastikan ada ketupat sayur di dapur. Entah masak sendiri, ataupun mendapat kiriman sedekah dari tetangga.
Pagi-pagi, selesai menjemur cucian, saya membuka WA. Telah ramai di salah satu group paseduluran pengurus yayasan yatim Ar-Rohman Jepun, ajakan kerja bakti. Agendanya membersihkan gedung panti yang beberapa bulan ini sedang di kosongkan aktiftasnya.
Ada delapan teman pengurus yang telah bersiap meluncur ke lokasi.
1. Pak Karyasim (juragan mobil bekas)
2. Pak karmaji (pensiunan)
3. Pak kaji pur (pengusaha mebel)
4. Pak kaji kusdi (karyawan pabrik)
5. Pak yai kalimi (guru agama)
6. Pak suprianto (juragan ban)
7. Pak zaenuddin (karyawan swasta)
8. Pak muryani (pns dinas pariwisata)
9. Dan saya sendiri
Sekitar pukul 08.00 wib kerja bakti di mulai. Mengepel lantai, membersihkan dapur, membersihkan kamar, membersihkan sawang, dan membongkar gudang.
Tepat pukul 11.00 acara dinyatakan selesai. Dua gedung besar dan luas yang dibangun dengan dana 2.1 M, diresmikan Bupati tahun 2015 tersebut benar-benar telah cling, bersih.
Di saat rehat sambil minum kopi salah satu diantara kami ada yang curhat. Bahwa pagi tadi belum sempat sarapan. Saya pun membatin kok sami (sama).
Singkat cerita, guyonan semalam ingin di wujudkan. Guyunan tentang betapa sudah lama team ini tidak nyate bareng. Akhirnya kami pun meluncur ke barat Stasiun Tulungagung. Mengikuti Pak Karyasim sang-juragan mobil.
Sembilan porsi beliau pesan, ditambah gulai dan sembilan wedang jeruk hangat. Sudah diduga, nikmat sekali. Di saat usus tak bisa diajak kompromi.
Dari lubuk hatiku yang paling dalam berbisik, bahwa Dia Yang Maha Baik sedang berkata "untuk mu hari ini sate saja". Tidak harus ketupat seperti mereka.
Kawan,... Masih ingat kan ? yang dulu pernah ku ceritakan kepada mu, bahwa makanan yang satu ini sungguh istimewa. Bukan tentang rasanya. Tapi hadirnya hanya ketika diajak teman dan atau saat undangan aqiqohan.
Keduanya persis sama. Sama-sama gratisnya. Alias tak perlu si-dompet di bawa. [...]
Terimakasih Pak Karyasim
Semoga bisnis mobil nya makin laris, makin sukses & makin berkah
Aamiin
KangNoer, Puri Jepun, 31 Mei 2020

Kelak, akan ada yang membaca tulisan ini. Tulisan seorang Kiai, guru, dan tokoh masyarakat. Apa yang kita lakukan sekarang Insyaallah akan memberikan manfaat di masa depan. Amin.
ReplyDeleteAamiin...matusmbhnwun prof..
DeleteKang nur ini gaya nulis enak dibaca....joss
ReplyDeleteAamiin... Pak pri..
DeleteSungguh indah....
ReplyDeleteAamiin.. Swun tadz
DeleteSae pak... Namung masukan tulisan n biground warnanya hampir sama shg membacanya grayah grayah.. tetap semangat..
ReplyDeleteSmhnuwun yii... Masukanipun... Sampun pernak terfikir untuk d ganti... Siip swun
DeleteSebagian tulisan ini. Saya anggap sebagai do'a yang saya khusu' Aminkan...
ReplyDeleteSatenya rasa kupat gak mas
Iyo bund... Ndah neo ke duanya bersatu yo..??
DeleteKulo bakso mawon Pak....
ReplyDeleteKulo nggih purun niku...
DeleteKLO yang ini bukan cerita cerita saja tetapi memang pecinta kuliner tulen,
ReplyDeleteNgonooo Ki yo ISO berkat mas
Siiap mister...kapan siap mendampingi pnjngan...
DeleteJujur, sampek hari ini saya ndak bisa membuat kupat Pak Noer, ada saran? hehehe...
ReplyDeleteSaran kulo ajak kulo menikmati ketupat yii...
DeleteDari situ mangke sareng2 kulo memutuskan bahwa tdk harus bisa membuat untuk bisa menikmati.
Babini'mati Robbika Fahaddits..
ReplyDeleteSiap bunda..
Delete