Kemurnian Hati Seorang Ibu Perempuan Desa


Kemurnian Hati Seorang Ibu Perempuan Desa


Ibuku Seorang Perempuan Desa

Terlahir di sebuah desa yang sepi, jauh dari modernisasi. Tak terbayangkan betapa sunyinya daerah itu 65 tahun  yang lalu saat perempuan ini (ibuku) dilahirkan. Sebuah desa di pinggir hutan di tepi laut selatan. Jangankan nama desanya, nama kecamatannya saja baru akhir-akhir ini sering dibicarakan orang. 

Sadisnya bukan dibicarakan tentang  keindahan alamnya, akan tetapi cerita tentang pengalaman traumatis melewati jalan pegunungan yang ekstrim menggetarkan adrenalin. Entah berapa banyak korban berjatuhan di jalan menuju sebuah Kecamatan di ujung selatan Kabupaten Trenggalek ini. 

Kawan, pernahkan engkau mendengar kata Munjungan, di situlah aku (penulis) dilahirkan oleh ibuku. Tepatnya di Dusun Gunung Kembar Desa Tawing Kecamatan Munjungan Kabupaten Trenggalek.

Ku telusuri Jejak Tubuhnya

Di hari istimewa, Ahad tanggal 22 Desember 2019, banyak orang membuat acara surprise dalam rangka membahagiakan ibunya.  Hari itu diperingati sebagai hari ibu.  Pada hari itu aku turut larut merenungi jejak cinta ibuku yang dicurahkan pada kami sekeluarga. Ku tarik nafas panjang, ku buka mata hatiku, dan pemandangan istimewa itu langsung memenuhi dadaku. 

Tak kusadari dua bola mataku basah, air mataku tumpah. Sosok perempuan desa, yang lusuh itu seakan berdiri tersenyum di hadapanku, sambil berkata, “jangan sok tahu tentang berapa besar cinta ibumu”.

Kawan, apa yang akan ku tulis ini hanya secuil (sebagian kecil) dari yang sebenarnya  tentang perempuan desa itu. Karena cinta yang ia punya dan berikan untuk anak dan keluarganya pasti melebihi apa yang aku dan kami kira.  Yang saya tahu hanyalah derap kakinya yang tak pernah berhenti, gerak tangannya yang tak pernah lelah, dan do’a-do’anya yang tak pernah putus.

Suatu hari sambil memegang gagang (tangkai) sapu ia duduk di dekatku, di teras depan rumah. Melepas kangen dengan saling tukar cerita karena diriku tidak setiap bulan bisa sambang orang tuaku. Semenjak melanjutkan sekolah (MAN) pada tahun 1992 sampai saat ini (2019) dimana diriku telah dikaruniai 3 anak. Waktuku lebih banyak di rumahku sendiri. Beda Kabupaten dengan orang tuaku.  

Sambil mengobrol ke sana ke mari kupandangi ujung kaki sampai ujung rambut ibuku. Keseluruhan jasmaninya tampak begitu lelah,  menua, dan tak segar sepertu dulu lagi.

Bentuk kakinya yang sudah tidak simetris sebagaimana mestinya, telapak kakinya  menebal, kulitnya mengkilat, menghitam dan keriput, jari kakinya memutar membengkok. Menggambarkan betapa berat medan yang pernah ia lalui. Entah berapa ribu kilo meter dua kaki itu berjalan tanpa alas saat menyusuri rutinitas dinas sehari-harinya  di sawah, ladang, hutan, ke pasar dan sebagainya. 

Kaki itu tak pernah berkenalan dengan sepatu. Kalaupun memakai sandal itu hanya saat pergi ke musholla dan mendatangi acara buoh (hajatan). Seumur hidupku (saat ini 43 th) belum pernah aku melihat ibuku mengayuh sepeda. Dan hanya saat hari raya idul fitri saja sering membonceng sepeda motor untuk berkunjung ke family yang rumahnya jauh. Tentu saja dengan gaya duduk yang kaku karena tak biasa.

Kupandangi tangannya yang masih memegangi garan (tangkai) sapu. Jemarinya tampak seperti hanya kulit dan tulang. Tongkat sapu itu tampak halus dan licin, bukan karena digosok rempelas, tapi karena minimal sehari tiga kali dalam genggaman tangan ibuku untuk menyapu seluruh sudut ruangan rumah. Dan entah sudah berapa puluh tangkai sapu berganti selama 60-an tahun ini. 

Andai pekerjaan membersihkan rumah ini dihargai dengan gaji/upah harian, entah berapa ratus juta telah diterima. Terhadap jasa kebersihan gratis selama puluhan tahun itu, mungkin tak pernah sekalipun ucapan terimakasih di terimanya. Astaghfirulloh ..., semoga Alloh membalasnya dengan membersihkan dosa-dosanya.

Di rumah sederhana ini, semua urusan rumah tangga seperti berjalan otomatis, rumah selalu bersih, sarapan pagi, makan siang dan sore hari selalu siap tersaji, piring selalu bersih, baju, sarung, dan peralatan harian ayahku selalu tertib dan siap pada saatnya akan dipakai. 

Semua itu tak lain hanya dikerjakan oleh tangan ibuku. Juga terhadap semua itu mungkin tak pernah ia menerima satupun apresiasi walau hanya berupa ucapan matursuwun

Emansipasi Wanita Bagi Perempuan Desa

            Hampir semua perempuan tani di desa, selain sebagai seorang ibu, mereka juga mengerjakan hampir semua pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kaum bapak. Yaitu juga bekerja di sawah dan ladang. 

            Padahal sebagai seorang ibu, di rumah ia telah mengerjalan ber puluh-puluh ‘me ...’ ;  mencuci baju, memasak, menyapu, menyiapkan makan, mengisi bak mandi, mencuci piring, menguras, mengurus anak, membeli kebutuhan dapur, menyetrika baju, mengurusi ternak (ayam), menjemur gabah, menjahit baju yang rusak/sobek, membuat kopi, dan seterusnya.

            Selain urusan  rutin rumah tangga di atas, ibu dalam profesinya sebagai petani juga membantu pekerjaan ayah di sawah dan kebun. Seperti menanam padi (tandur), membersihkan rumput (matun), memanen padi, menggendong kayu bakar, menggedong buah kelapa,  dan lain-lain. 

            Bahkan selain mengerjakan sawah dan kebunnya nya sendiri, tiap musim tanam dan panen ibu biasanya juga buruh tandur dan buruh memanen padi. Hal itu dilakukan demi menambah penghasilan untuk kebutuhan biaya sekolah anaknya, atau terkadang karena barter jasa dengan tetangga atau saudara.                                                                                           

Salah Satu Perjuangan dan Cara Seorang Ibu Menikmatinya

Di antara seribu perjuangannya melayani kami sekeluarga, salah satunya akan aku ceritakan di sini. Kawan ..., di malam hari saat kami pulas menikmati tidur, ibuku masih berfikir tentang rencana hari esok. 

Hasil berfikirnya adalah, esok hari ia pergi berjalan menuju pasar di pusat kecamatan (pasar Munjungan). Berjalan kaki sejauh 2 kilometer, membawa uang secukupnya membeli sayur dan bahan makanan, ikan laut, dan bumbu dapur. Walau mungkin haus karena perjalanan jauh, segelas dawet (cendol) pun ia tahan mencoba tidak tergoda. Lebih baik untuk tambahan beli  bawang dari pada memenuhi nafsu hausnya sendiri.

Sampai di rumah, tak terbersit sedikitpun untuk istirahat. Kegiatan berikutnya adalah memasak, karena keluarganya (suami dan anak-anak nya) harus segera sarapan pagi. Satu ekor ikan dimasak sesuai selera keluarganya (bukan seleranya sendiri). Kebetulan kami sangat suka masakan bothok (dibungkus daun pisang dan di kukus). 

Saat masakan hampir matang, yang ia lakukan adalah mengambil nasi supaya segera dingin, dan memanggil anak-anaknya untuk bersiap sarapan. Sebenarnya ibulah yang paling merasa lapar pagi itu karena telah banyak mengeluarkan energi untuk belanja ke pasar dan memasak.

Kawan perhatikan bagaimana ibuku membagi bungkusan daun pisang berisi bothok ikan tersebut. Untuk anak-anak dan suami telah disiapkan sedemikian rupa. Ibu sendiri telah memilih bungkusan yang ia beri tanda khusus. Anak-anak dan suami berisi daging ikan hampir tanpa duri. Dan apa yang dipilih ibuku sebagai balasan atas perjuangan belanja ke pasar dan memasak se-pagi itu? satu bungkus yang ia pilih adalah yang paling tidak disukai oleh semua orang yaitu kepala ikan yang banyak duri dan minim daging. 

Kawan, aku yakin demikianlah kebanyakan dari ibu-ibu kita, mereka berjuang tanpa pamrih, dan saatnya menikmati hasil perjuangan, mereka pun masih mengutamakan dan mendahulukan orang lain (keluarganya). bukankah yang bisa melakukan perbuatan semacam ini adalah Malaikat?

Tak akan ada habisnya menuliskan pengerbonan seorang ibu pada keluarganya. Dan sudah menjadi pegetahuan umum terlebih ibu di pedesaan, bahwa mereka  berangkat tidur paling akhir tapi bangun tidur paling awal. Meraka yang belanja dan memasak tapi mereka baru makan setelah semua keluarganya makan. 

Mereka menambal dan menjahitkan baju anak dan suaminya sebelum diminta, karena sambil mencuci dan menjemur, ibu meneliti baju anaknya satu persatu; kancingnya, dan ada tidaknya yang robek dan sebagainya. 

Mungkin kita masih ingat saat masih sekolah dasar (SD), kancing baju kita lepas, tahu-tahu waktu dipakai sekolah esok hari, kancing baju tersebut sudah terpasang dengan rapi kembali. Miracle alias ajaib bukan?

Kehidupannya adalah Praktik dari Keikhlasan Hidup

            Yang saya maksud dari keikhlasan di sini adalah keridhoan ibu dalam menerima keadaan. Mulai dari keadaan dijodohkan dengan bapak  yang bukan lelaki rupawan, bahkan ceritanya bapak sejak kecil peglihatan dan pendengarannya kurang  sempurna. 

            Bapak juga  bukan orang yang berada (kaya), pernah mengenyam sekolah rakyat sampai kelas 5 (tidak sampai lulus) konon karena harus menjadi tulang punggung keluarga karena ayahnya (kakek) telah meninggal sejak bapak usia enam tahun dengan dua kakak perempuan dan  adik laki-laki (4 tahun) dan adik perempuan (1 tahun). 

            Sehari-hari membantu ibunya (nenek) sebagai buruh tani dan mejadi nelayan di laut dekat rumah. Ibu yang beda usia dengan bapak sekitar 10 tahun, rela menerima perjodohan itu dan membangun keluarga yang serba pas-pasan secara ekonomi.

Tahun 1976 saya dilahirkan sebagai anak pertama. Singkat cerita ayah ibuku dikarunia empat anak. Sebagai anak sulung (anak pertama) saya lebih banyak tahu dinamika yang terjadi di keluarga kami. Bagaimana keseharian ibu sebagai istri dan sebagai ibu bagi empat anaknya. 

Bagaimana kebiasaan ayah yang 100% minta dilayani semua urusannya oleh ibu; menyiapkan makan, mencucikan baju, mencucikan piring, menyiapkan bahan bakar (rokok), dan semua urusan pribadi lainnya.

Ayah berkepribadian keras, lemahnya pendengaran mengakibatkan bicaranya ber-nada tinggi sehingga bagi orang yang belum paham, bicaranya seakan penuh emosi.  Terhadap semua karakter yang dimiliki ayah terlebih karakter negatifnya, menurut saya ibu mempunyai kuwalitas kesabaran dan keikhlasan yang istimewa. 

Terkadang saya dan adik-adik berfikir, "kok ya kuat ibu menghadapi ayah yang keras  seperti itu" semua minta di layani.

Nasehat Sakti Manusia Suci

            Profile ibuku tidak ada yang istimewa. Hanya lulusan sekolah rakyat, yang ijazahnya sampai detik ini belum pernah ku melihatnya. Tak pernah ikut diklat, seminar, dan kegiatan ilmiah lainnya. Prestasi oraganisasi tertinggi yang pernah di sandang adalah menjadi bu RT, yaitu saat ayah menjadi Ketua RT selama 5 tahun (satu periode). Kegiatan nya saat itu adalah memimpin acara arisan warga (ibu-ibu) satu RT, dan sekaligus menjadi tuan rumahnya. 

        Kegiatan lain yang bagi saya sebagai prestasi ibu adalah, menjadi juru masak besar saat tetangganya mempunyai hajad pernikahan, khitanan, dan sejenisnya. Konon walau bumbunya sama, tapi masakan dari tangan ibuku rasanya istimewa, terhadap yang satu ini saya mengakuinya.

            Melihat profile ibu yang bukan alumni orang sekolahan, pesantren bahkan tak pernah hafal urutan jenjang pendidikan, maka seingatku ibuku tak pernah memberiku dan adik-adikku nasehat atau wejangan yang berhubungan dengan cara belajar yang baik. 

            Kalaupun memberikan nasehat, sifatnya umum misalnya saat saya mau berangkat sekolah (MAN dan kuliah) ia mengucapkan kalimat pendek saja; seng ngati-ati (berhati-hatilah), ojo sembrono (jangan sekehendaknya), seng tenanan lek sinau (yang serius belajar), seng apik karo konco (berbaiklah dengan teman). 

             Tiada nasehat yang sifatnya khusus misalnya kalau lulus Aliyah dengan nilai baik nanti bisa kuliah di sini atau di sana ..., atau kalau lulus kuliah tarbiyah nanti bisa menjadi guru agama. Karena memang beliau tidak memahami apa yang sebenarnya sedang di hadapi oleh anaknya di bangku SMA dan bangku kuliah.

Bagi ibuku, cukuplah yang ia lakukan adalah menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan untuk menunjang sekolah, dan memohonkan kepada Alloh (berdoa) untuk kebaikan, keselamatan dan keberhasilan anak-anaknya. 

Dan yang saya tahu persis adalah jantung ibuku tak berhenti berdebar, saat sepucuk surat datang dari ku saat sekolah (3 tahun MAN) dan kuliah (5 tahun IAIN). Karena supucuk surat dengan bahasa yang penuh rayuan itu ujung-ujungnya adalah rincian kebutuhan ku sebulan kedepan, dan bahkan terkadang catatan hutang  ku di warung sebulan yang lalu.

Saya sangat hafal bagaimana orang tuaku terlebih ibuku menyikapi surat yang isinya  lebih mirip proposal itu. Yaitu membacanya bareng ayah, dilanjutkan berdiskusi, apakah punya simpanan uang, atau apakah buah kelapanya waktunya di petik. Jika dua hal itu luput, maka mereka akan menyepakati besok ibuku pergi ke rumah bakul kelapa atau bakul  gabah (padi). 

Tentu saja dengan membawa misi. Meminjam uang dengan perjanjian akan dikembalikan saat ngunduh (metik) kelapa dan atau saat sawahnya panen (padi). Kebiasaan seperti ini berlangsung lebih dari dua puluh tahun (1992 – 2018), mengapa? Karena pertama di antara empat anaknya, ada tiga yang sekolahnya dibiayai dengan metode seperti itu. Kedua pekerjaan dan kehidupan ekonomi keluargaku dari dulu tak beranjak berubah dari hanya mengolah sedikit sawahnya sendiri dan buruh.  Ditambah hasil kebun berupa buah kelapa dan kayu sengon.

Kembali pada isi nasehat ibuku pada anak-anaknya. Memang tak ada yang istimewa. Tetapi dari keempat anaknya semuanya sangat condong, memikirkan bagaimana cara membuat ibunya bahagia. Tak lain karena mereka semua melihat langsung bagaimana perempuan ini begitu tulus berjuang membantu ayah mencukupi kebutuhan keluarga. 

Berjuang menyiapkan sangu (uang) saat anaknya akan berangkat ke luar kota untuk sekolah.  Menyembunyikan rasa malu saat mencari pinjaman (hutang) untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya. Menahan selera makan yang enak, demi menghemat uang untuk menyiapkan kebutuhan hidup dan sekolah anaknya. Menahan keinginan membeli gamis baru, demi persiapan datangnya surat proposal dari anaknya yang sekolah.

Karena sedikitnya ilmu agama yang beliau punya maka ibadah yang biasa dilakukan nyaris hanya yang wajib-wajib saja. Sholat lima waktu, puasa ramadhan, mengikuti rutinan jama’ah jantiqo muslimat NU tingkat dusun  dan kecamatan, membagi sayur (masakan) pada tetangga saat masak sesuatu yang istimewa, dan memberi hasil kebun (kelapa) kepada janda kurang mampu yang rumahnya di pinggir jalan. Saat mendorong gerobak isi kelapa dari ladang. 

Akan tetapi saya membayangkan ke-ikhlasannya dalam berjuang menyiapkan dan  menata  urusan keluarga dan kebutuhan hidup serta sekolah anaknya membuat dosa-dosanya diampuni dan dibersihkan oleh Alloh SWT. Mungkin pahala ibadahnya sedikit, akan tetapi pengampunan dari Alloh bisa jadi selalu tercurah padanya. Sehingga do’a-do’anya di-Dengar dan di-Ijabah Oleh Alloh SWT. Aamiin.

Wal hasil, seorang ibu perempuan desa yang  hanya lulusan SD yang bekerja sebagai buruh tani  itu kini  mempunyai empat anak dengan profil singkat sebagai berikut ; 

1) Anak pertama; pendidikan terakhir perguruan tinggi dan telah lulus S-2,  menjadi PNS (guru agama), sekarang menjadi pengawas pendidikan agama islam, telah berumah tangga di suatu kota dan mempunyai 3 anak. 

2) Anak kedua; lulusan MTs, pernah bekerja di luar negeri (malaysia) lebih dari 10 tahun, telah berkeluarga dengan empat anak dan mempunyai usaha mandiri, 

3). Anak Ketiga; pendidikan terakhir perguruan tinggi dan lulus S-1 Bahasa Arab IAIN, mondok di pesantren sambil sekolah dan kuliah selama 7 tahun, bekerja sebagi guru madrasah swasta, sekarang menjadi Kepala Madrasah (MI) swasta, dan telah lulus sertifikasi guru, telah berkeluarga dengan 2 anak. 

4). Anak Keempat; pendidikan terakhir perguruan inggi dan telah lulus S-1 jurusan ZAWA (zakat waqaf) IAIN, penerima beasiswa bidik misi, dan telah berkeluarga.

Merenungi hasil perjuangan dan do’a orang tua, ter-khusus ibuku di atas dalam mendorong sekolah anak-anaknya, terkadang saya berfikir, mampukah saya yang lulusan S-2 ini mewujudkan anak-anak saya nanti pendidikannya lebih tinggi dengan orang tuanya (istri S-1 dan saya S-2)? atau minimal sama dengan orang tuanya? 

Kami (saya dan istri) adalah para sarjana. Dibandingkan orang tua kami dahulu, bisa dikatakan kami lebih punya modal pengetahuan dan pengalaman tentang cara memotivasi, mendidik dan mengoptimalkan potensi anak-anak kami. 

Untuk mewujudkan tujuan itu, saya masih terus meminta bantuan do’a dari ibu dan orang tuaku, ini menggambarkan masih ada perasaan kurang percaya diri dalam memohon kepada Nya. Faktanya memang seperti itu ..., saat ini anak-anak kami (SMP dan SD)  secara prestasi akademis masih dibawah saya dan istri saya saat kami sekolah dulu. 

Terhadap hal ini tak ada kata lain kecuali bahwa; saya dan istri masih kalah hebat dengan ibu dan ayah kami dahulu, setidaknya dalam laku prihatin, mentirakati anaknya yang sedang sekolah.

Keikhlasan Jilid Kedua

            Perempuan yang miskin ilmu, tapi kaya pengorbanan dan cinta. Mengesampingkan kesenangan diri demi membekali ilmu untuk kemandirian anak-anaknya. Bekerja keras banting tulang  menyelesaikan urusan dalam rumah. Urusan dalam rumah selesai, berganti baju membantu pekerjaan suami di sawah dan ladang sebagai petani. Itulah keseharian aktifitas ibuku bahkan sampai saat ini.

            Kemudian, apa yang di dapatkan oleh ibuku saat ini,  setelah punggungnya tak tegak lagi? Bukankah selayaknya semua anak-anaknya berada di dekatnya, meringankan pekerjaannya, mengajaknya menikmati kehidupan, memijiti kaki dan punggungnya yang mulai sering  kesemutan, membelikan baju yang ia sukai, mengantarnya datang ke hajatan (buoh) naik kendaraan. Begitukah?

            Tapi faktanya apa yang beliau dapatkan saat ini? anak-anaknya telah berumah tangga di luar kota, sibuk dengan keluarganya sendiri, jarang menelepon memberi kabar,  sambang orang tua hanya ketika libur hari raya. Sambang hanya ketika ada acara tertentu. Sama sekali tidak pernah mengutamakan untuk menyambangi ibu dan untuk membahagiakannya. 

        Padahal setiap pagi ibu masih berjalan subuh menuju musholla dan tak melupakan memohon kepada Alloh untuk kebahagiaan anak-anaknya. Bukankah keridhoannya menjalani semua ini adalah keikhlasan jilid kedua yang tak kalah hebatnya? 

        Oleh karena itu Yaa Alloh kami memohon perkenan Mu untuk ibuku, lindungilah, panjangkan usianya dalam kesehatan, jangan Engkau panggil ia kecuali dalam keadaan husnul khotimah, terimalah amal ibadahnya, ampuni dosa-dosanya, kasihilah ia sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil,  dan hadiah kan untuknya surga atas Ridho Mu. Aamiin Yaa Robbal’alamiin


KangNoer, Puri Jepun, Selasa, 22 Desember 2019


Comments

  1. Sungguh mulia jasa ibu, daya dan upayanya adalah titipan Tuhan atas kasih dan sayangNya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggih ustadz leres...Dia sangat mengistimewakannya,..

      Delete
  2. Yang masih tajam dalam ingatan saya adalah... ketika saya dolan ke rumahmu... masakan bothok ikan laut yg begitu lezaaat pak Nur..
    Semoga ibuk dan bapak selalu sehat dan panjang umur... aamiin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah puluhan tahun yang lalu ya kang Nal..masih ingat. sekarang sudah banyak yang berubah. monggo kalo ada waktu main lagi.

      Yang paling ku ingat saat main ke berbek-semare-Nganjuk, mandi di sungai pemandangannya bagus..

      Delete
  3. Replies
    1. Kagem yang ibunya sudah tiada di sini...semoga ada disana, di Surga Nya. aamiin

      Delete
  4. Alhamdulillah, dulur Lanang di pertemukan di kota bersinar. Maju terus dan selalu semangat

    ReplyDelete
  5. Mantap Kang Noer. Potensi menulis yang sungguh luar biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trimakasih prof...maaf bertahun tahun mandeg menggerakkan jari jemari di FB, ini sambil tertatih tatih di tuntun Ustadz Badi (santri literasi panjenengan).

      Delete
  6. Semoga ibu kita diberi kesehatan umur panjang Mksh berbagi cerita dengan ibunya kang nur

    ReplyDelete
  7. Ibumu ibumu ibumu,

    Bapakmu. Figur ibu ku memujamu

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia