Ekspresi Cinta Seorang Anak TK


Momo dan si-Imoet menyelaraskan rasa


Hadiah yang sempurna

Ceritanya bermula dari perbincangan WA. Seorang teman (senior) memamerkan beberapa  teman bermain di rumahnya. Beberapa anak kucing yang manis. Satu kucing yang masih gadis di tawarkan kepadaku. Jika suka, segera akan di antarkan ke rumahku. Janjinya !

Tanpa berfikir panjang tawaran itu aku terima. Kebetulan istri dan anak-anak menyukai  si-manja nan manis ini. Dulu pernah memelihara, tapi kemudian pergi dan tak kembali. Rupanya ada kucing manis yang menggoda perhatiannya. Maklum usianya sudah perjaka.

Beberapa hari kemudian, teman yang menawarkan kucing gadisnya tersebut benar-benar datang ke rumah. Mobilnya diparkir tepat di depan rumah. Seekor kucing gadis dengan tenang duduk di dalam box yang bersih, tampak masih baru. Rupanya si-temanku  ingin memastikan kucingnya berada di tempat yang baru dengan nyaman, tak kurang suatu apa. Buktinya semua peralatan dan makanan kesukaannya pun juga telah disiapkan. Hadiah yang sungguh sempurna.

Begitu kucing gadis (sebut saja si manis) itu di turunkan, anakku yang masih TK girang luar biasa. Demikian juga kakak serta ibunya. Paras nya yang manis langsung membuat se isi rumah jatuh cinta. Sesingkat itu chemistry antara kami dan si manis pun terbangun.  

Berikutya kami semua mendengarkan protokol pemeliharaan yang disampaikan. Mulai merk makanan, cara memandikan, tempat buang hajad, potong kuku dan sebagainya. Sesaat setelah pengantarnya pulang, kami berdiskusi tentang sebuah nama. Dengan mufakat kami memberinya nama si-imoet, dapat dipanggil “moet”.

Dua tiga hari si imoet  sudah beradaptasi. Perilakunya menunjukkan telah berada di rumah sendiri. Tak terlihat adanya kegalauan karena ingat rumah kelahiran. Curahan cinta kami sekeluarga mempercepat ia melupakan keluarga pertamanya.  


Si Imoet dipinang oleh kucing tetangga

Kecantikan si-imoet memang sesuai dengan namanya. Cantik dan imoet sekali, siapun mengakui. Bahkan anak kecilpun tak keliru menilai. Ia juga mempunyai karakter yang disiplin. Tahu ruang dan waktu. Kapan dan dimana ia harus buang hajad. Dimana ia boleh dan tidak boleh tidur.

Karena disiplinnya itu, hampir tidak pernah ia menerima sangsi pelangggaran. Mugkin hanya aba-aba peringatan saja saat mencoba manja kala menyaksikan kami sedang makan bersama.

Entah siapa yang lebih dahulu memulai, tidak ada yang tahu. Imoet kah yang main ke tetangga, untuk sekedar melihat-lihat suasana. Ataukah ada kucing tetangga yang datang ke rumah kami. Mereka kelihatnya menjalin hubungan asmara.

Beberapa kali mereka terlihat jalan dan duduk berduaan. Kawan,.. tak usah bertanya apa yang mereka berdua bicarakan. Singkat cerita perut si-imoet tak seperti sebelumnya. Makin buncit.

Imoet lebih suka berdiam diri di rumah. Ia terlihat mulai membatasi gerakan lincahnya. Sehari-hari lebih banyak membaringkan tubuhnya di lantai. Lidahnya mengusap-usap perutnya yang makin hari makin membesar.


Perjuangan melahirkan itu antara hidup dan mati

Dua bulan kemudian imoet tampak gelisah. Rupanya ia merasakan perutnya mulas tak karuan. Andai ia bisa bicara pasti bermaksud memohon pertolongan. Kami ikut larut dalam kecemasan. Tak tahu bagaimana caranya membantu. Dan kecemasan kami bertambah, saat teringat cerita kucing tetangga yang gagal saat melahirkan. Melahirkan pertama (tembean) memang penuh perjuangan. Karena mengandalkan kekuatan prima saja tidaklah cukup, diperlukan kesiapan mental dan pengalaman.  

Sekitar jam sepuluh malam, dua anaknya sukses dilahirkan. Belum bisa ku menikmati lucunya dua bayi kucing kecil itu. Karena perasaanku serasa tak tega melihat wajah ibu muda ini. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya lunglai.

Ku beri ia air untuk menghilangkan dahaga dan mengembalikan energinya. Dua kali suapan air habis di minum. Benar ternyata dugaanku, perjuangan persalinan itu antara hidup dan mati. Hingga tak terbantahkan, bahwa durhaka pada ibu dosanya tak tertanggungkan. Dunia tembus akherat. Kawan, segeralah cium kaki ibumu supaya ia memaafkan salahmu di waktu dirimu belum dewasa dulu. Walaupun hanya mengatakah, “ah” saja kepadanya. Segera !!

Ku melihat sepertinya imoet  sedang istirahat. Jam satu dini hari ku terbangun dan beranjak melihat kembali keadaan si-imoet. Subhanalloh... ada enam,.. sekali lagi ada enam... bayi kucing berebut menyusu ibunya. Kali ini sang ibu wajahnya tampak cerah. Rasa sakitnya telah lunas terbayar saat melihat enam anaknya terlahir dengan sehat dan selamat.

Sebulan kemudian, keluarga ini makin solid. Kasih sayang selama menyusui telah imoet tunaikan dengan baik dan adil. Semua anaknya berkembang sempurna. Mereka mulai menampakkan aksi-aksi atraktif untuk menarik simpati siapapun yang melihatnya. Tiap hari berlatih ketangkasan. Bergulat, menggigit, mencakar dan menjerit meminta pertolongan.  

 

Ekspresi cinta anak TK

Kasih sayang imoet kepada semua anaknya mendapatkan ujian. Tiga anaknya dipinang orang. Dan Alhamdulillah yang meminang orang-orang yang terbukti sayang pada mereka. Kini tiga bersaudara  dalam dekapan hangat ibunya. Mereka makin manja.

Ke-empat anggota keluarga ini (imoet dan tiga anaknya) hidup bersama  kami di rumah yang kecil, dan ternyata menimbulkan perkara baru. Perkara yang saya maksud disini sama sekali bukan karena perilaku imoet dan anak-anaknya. Tapi semata mata karena sempitnya rumah kami hingga tak memenuhi standar sebagai tempat bermain yang ideal.

Maafkan kami, karena rumah ini terlalu sempit untuk keluarga kami dan keluarga mu (imoet). Aku tak tega jika melihat Momo (anak kami yang TK) dan tiga anak imoet bermain di bawah kursi dan meja. Seharusnya ada taman dan halaman hingga ruang bermainmu lebih luas.

Keseruan tiga anak imoet ini pernah menghiasi status WA ku. Hingga ada satu nomor yang ternyata saudara sepupuku, berkirim pesan. Saat kubaca ternyata ia menginginkan untuk meminang salah satu diantara tiga anak imoet. tanpa berfikir panjang, ku kirimkan jawaban “bawa saja semua, imoet dan tiga anaknya”. Tentu saja dia (saudara sepupu) kaget. Memangnya mengapa ? “tidak ada apa-apa,.. rumahku terlalu sempit” Terus nanti Momo bagaimana ? ku jawab “tidak apa-apa”.

Dua hari kemudian, saudara sepupu benar-benar datang membawa kennel box, untuk memboyong keluarganya imoet. Sehari sebelumnya Momo (anak kami yang TK) sudah ku beri bocoran tentang rencana ini. Ia tak percaya, sama sekali tak percaya jika akan ada keputusan setega itu.

Maka saat kami berdialog tentang cara pemboyongan dan cara perawatan,  Momo tampak sock. Ternyata apa yang di dengar kemarin sungguh serius. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Suasana menjadi hening seketika, konsentrasiku pecah. Antara membantu memasukkan kluarga imoet ke box dan menenangkan mentalnya Momo.

Tak dapat disembunyakan hati Momo menangis. Ia tak sanggup berpisah dengan Imoet dan keluarganya. Imoet dan keluarganya memang tak memiliki hubungan apapun dengan kami. Tapi mereka semua telah menjadi keluarga besar kami. Mereka bermain bersama Momo setiap hari. Diantara mereka biasa saling menggoda, pertanda telah satu jiwa. Saling memahami.

Momo tampak gugup. Ia tak mampu membela supaya imoet tetap di sini. Karena ia juga sadar rumah ini terlalu sempit untuk kami dan keluarga imoet. Dalam kebisuan itu Momo berlari, masuk ke dalam kamar. Dadaku terasa sesak., mataku berkaca-kaca.

Momo kehilangan teman tercintanya. Imoet dan anak-anaknya tak berontak. Sepertinya mereka ikhlas menerima kenyataan, akan  berpindah rumah. Atau diamnya imoet dan anak-anaknya karena tak mau menambah beban nya Momo. Entahlah...  imoet sudah hilang dari tatapan ku, menuju Boyolangu, rumahnya yang baru.

Kususul Momo di kamarnya. Ia berbaring dan miring ke kanan. Perlahan ku mendekat, mataku makin berkaca, rasanya air mataku mau tumpah. Mulutku gemetar saat melihat Momo menangis lirih, sambil berkata “mengapa ayah tega memberikan imoet dan anak-anaknya ? yaaah...yaaah...yaaah... bagaimana to ayah ini...? Kudekap Momo, dadanya berdegup kencang... ku dekatkan bibirku dan kukatakan padanya, “imoet itu tidak dimiliki oleh pak De... tapi dititipkan disana, supaya mereka lebih bahagia dapat bermain di rumah yang halamannya luas, nanti kita kesana mengunjungi imoet”. Tangis dan irama di dada Momo mereda. Momo menarik nafas panjang, mencoba menstabilkan diri.

Sambil berbaring disisi Momo aku merenung. Dalam hati anak sekecil  ini  telah tumbuh rasa cinta dan kasih sayang yang tulus. Jika sesuatu yang ia cintai itu meninggalkannya, ekspresi sedih dan nelangsanya ternyata tak jauh berbeda dengan orang dewasa. Mungkin karena sumber dari rasa kasih dan sayang itu satu yaitu Dia Yang Ar-Rohman dan Ar-Rohiim. Sekian....!!!

 

KangNoer, Puri Jepun Permai-2, 17 Mei 2020


Comments

  1. Trenyuh Pak membacanya...ikut merasakan betapa sedihnya perasaan Momo saat itu..😭

    ReplyDelete
  2. D rmh ada kucing 2 ekor.. Dan memang setiap kesayangan ada ceritanya Makasih kang ceritanya

    ReplyDelete
  3. Memang bahwa utk bisa mendapatkan CINTA yang MAHA KASIH, maka CINTAilah makhluk²nya.. Cerita penuh makna nan berharga dlm kehidupan nyata..

    ReplyDelete
  4. Cerita yang sempurna.. .. Semoga diberi imout yang baru serta tempat main yang layak. .. Aminnn

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah... Aamiin... Trims komen nya yg imoet

    ReplyDelete
  6. Dan kulo sakniki tdk mau ngingu kucing kenapa??
    Krn perpisahan itu membawa duka.....hiks jd ingat 2 kucingku yg mati krn keracunan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia