Berteman dan belajar bersama pohon jambu
![]() |
| Teman baru ; dua jambu Madu Deli Merah |
Proses dan Hasil,
keduanya Hadiah dari Yang Maha Pemurah
Ini jambuku, mana jambumu ?
Hampir dua bulan ini saya mempunyai kebiasaan baru. Setidaknya tiga kali dalam sehari. Memandangi dua tanaman baruku di depan rumah.
Seorang teman, Ketua Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Kabupaten Tulungagung. Pak Mujiono, M.Pd.I namanya. Memberiku hadiah satu batang bibit jambu. Dua minggu kemudian saya menitipkan sedikit uang kepada beliau. Minta tolong untuk dibelikan satu bibit serupa, untuk menemani pemberian beliau sebelumnya. Madu Deli Merah, demikian pak Muji mengenalkan namanya.
Beliau ini kebetulan rumahnya di Desa Pulosari Kecamatan Ngunut. Desa yang terkenal sebagai pusat bisnis budidaya bibit tanaman buah, bunga, empon-empon dan sejenisnya.
Ide memberi hadiah tersebut saya duga muncul saat suatu waktu kami berkegiatan bersama. Kegiatan workshop guru di gedung Balai Arsif Kabupaten Tulungagung. Saat istirahat (coffee break), kami sempat membincangkan pohon jambu yang saat itu sedang penuh dengan buah berwarna merah. Indah sekali, dan menggoda selera.
Tanaman yang indah dan berbuah seperti ini memang saya sangat suka. Pernah saya menuliskan di suatu kolom curriculum vitae bahwa hobby ku ; menanam, memancing dan membaca. Tiga kegitan ini dulu sering saya lakukan saat ada waktu luang. Kalaupun tidak melakukannya sendiri, terkadang melihat orang menanam dan orang memancing saja sudah ikut senang.
Profile dua pohon jambu di depan rumah dapat saya jelaskan sebagai berikut ; usia tanam saat ini sekitar dua bulan, media tanamnya tanah satu arco di campur dengan 6 kg kompos campuran sekam dan kotoran kambing. Dimasukkan dalam polybek carbon black tinggi kira-kira 60cm dan berdiameter 50cm.
Dua tanaman ini sudah ada di hati kami. Tempatnya yang satu rumah (di teras rumah) membuat keberadaannya selalu ada di mata. Ketika kami sedang memasak sayur kangkung misalnya, sisa-sisa sayuran yang tidak di masak menjadi jatahnya.
Saat menguliti nanas, semangka, duku, pisang juga demikian. Kulit-kulit buah yang biasanya masuk di tempat sampah, berubah fungsi. Masuk polybek dan menjadi nutrisi spesial dua pohon jambu kesayangan tadi.
Ini adalah ilmu yang sangat sederhana, bahwa semua makhluk hidup butuh makanan. Sebagaimana kita sangat menyenangi makanan yang tidak setiap waktu dapat memakannya. Durian misalnya. Buah ini menjadi istimewa lantaran hadirnya bersifat musiman. Demikian juga sate, rasanya istimewa karena hanya makan jika di ajak teman yang sedang syukuran. Yang terakhir ini aku banget !
Demikian juga buah jambuku. Alangkah senangnya ia, menikmati makanan dari kompos yang berasa ; nanas, semangka, pisang dan duku. Kebiasaan sederhana ini menjadi spirit saya membangun komunikasi batin dengan si-jambu.
Pohon jambu menjadi teman belajar
Dua bulan ini (April dan Mei 2020) benar-benar tak akan terlupakan. Fenomena zaman yang tak pernah kita kira sebelumnya. Dunia sedang merana karena pandemi virus corona. Terlebih vaksin dan obatnya belum ditemukan. Hingga semua aktifitas dirumahkan. Work for Home, bekerja dari rumah, belajar di rumah dan ibadah lebih baik juga di rumah. Kehidupan model baru. Tulisan ini juga bagian dari upaya mendokumentasikan peristiwa ini. Supaya dapat dikenang oleh generasi mendatang.
Rumah sederhana nan sempit menjadi saksi kami menghabiskan waktu. Mondar-mandir antara dapur, kamar tidur, kamar mandi dan teras depan. Tak perlu waktu setengah menit untuk memutari semua lokasi tersebut. Kawan,.. jangan tanyakan perihal halaman depan dan kebun di belakang rumah. Itu perkara paling mustahil di komplek perumahan kami. Mungkin inilah sebabnya mengapa orang kota sering mengajak anaknya bermain di taman alon-alon. Mungkin,.
Beruntung sekali. Dua bulan ini ada dua pohon jambu di teras rumah. Kami bersepakat menjalin pertemanan baru. Setidaknya pagi, siang dan sore kami ber-interaksi. Saat di dekatnya saya selalu memandangi perubahan demi perubahan terjadi.
Daunnya mulai tampak segar menghijau. Dibanding waktu baru datang dulu sudah jauh berubah. Aku dikejutkan dengan munculnya dua daun baru. Seakan memberi kabar bahwa Tuhan telah memberi Kemurahan. Menggerakkan akarnya memungut makanan. Amboi.. muculnya daun pertanda proses kehidupan telah dimulai.
Hari berganti hari. Daun itu makin tumbuh sempurna. Proporsional, sesuai rumus yang telah digariskan Sang Kuasa. Mengamati dua helai daun itu diriku berfikir. Sesederhana itu, tapi bisakah manusia membuatnya ?
Manusia oleh Alloh telah di beri kamampuan akal fikiran. Dengan akalnya itu, Alloh kemudian menantang jin dan manusia untuk melintasi penjuru langit dan bumi. Sepertinya Alloh sudah memprediksi bahwa jika manusia mau mengembangkan akal pikirannya tak mustahil perjuru langit dan bumi akan terlintasi. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Nya QS Ar-Rohman 33.
“Hai sekalian jin dan manusia, jika
kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah,
kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Alloh)”
Kehebatan manusia
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi semata-mata karena kekuatan akal. Akal
inilah diantara pembeda manusia dengan makhluk lainnya. Akal yang dimiliki oleh
manusia adalah karunia Sang Maha Pencipta, Alloh SWT.
Dengan kemampuan akalnya, manusia mampu menciptakan teknologi. Dengan teknologi masalah apapun yang di hadapi oleh manusia, inginnya dapat di pecahkan.
Dengan kemajuan teknologi saat ini, manusia dapat melakukan hal yang dulu mustahil. Manusia mampu melintasi negara, dan benua dalam waktu singkat dengan pesawat terbang. Manusia dapat menyeberangi dalam dan ganasnya lautan dengan kapal laut dan kapal selam. Bahkan manusia dapat menjelajahi luar angkasa dan seterusnya.
Saat diriku memandangi daun jambu sore itu. Ia seakan mengajukan pertanyaan kepadaku. Mampukah manusia yang hebat, dan dapat menciptakan teknologi canggih itu menciptakan sehelai daun saja ? Daun yang setiap waktu terus tumbuh dan berubah. Daun yang bentuknya selalu selaras dengan pohonnya?
Sepertinya, sehebat apapun manusia tak kan mampu menciptakan sehelai daun pun. Sehelai.. padahal di bumi ini berapa juta daun telah diciptakan. Dengan bentuk dan model yang bermacam-macam. Dengan fungsi yang berbeda-beda. Bahkan dengan manfaat yang begitu mulia bagi umat manusia.
Cukuplah sehelai daun jambu
mengajari kita ;
Betapapun hebatnya manusia,
kehebatannya adalah titipan Sang Maha Kuasa. Betapapun canggihnya teknologi
manuisa, tak kan mampu menandingi Kuasa Nya. Betapapun kuasanya manusia, tak
kan kuasa menolak kepastian dari Nya. Dan betapapun canggihnya kreasi manusia
tak kan mampu menciptakan daun sehelaipun.
Kemampuan akal kita adalah titipan
Tuhan. Titipan ini sungguh istimewa, hingga Dia menyertainya dengan Buku Panduan. Berupa Firman-firman Nya yang dibawa oleh Sang Utusan (Rosul). Selanjutnya tugas
kita adalah mengembangkan dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan alam semesta. Kholifatullah fil Ardh.
Mensyukuri sesuatu mulai dari proses
Menikmati munculnya daun dari pohonnya juga memberi pelajaran. Pelajaran bahwa janganlah kita hanya mensyukuri suatu hasil saja. Kebiasaan kita adalah bersyukur atas suatu keberhasilan. Padahal sejatinya, proses menuju suatu keberhasilan tak lain adalah
karunia Tuhan Yang Maha Kuasa.
Siapa yang memberi kita inisiatif,
memberi kita kekuatan, dan mempertemukan kita dengan orang-orang yang membantu
kesuksesan kita ? Siapa yang membekali kita oksigen saat kita bekerja ? Semua ini adalah wilayah proses. wilayah daun.
Pada wilayah ini sejatinya kita juga tak punya kuasa apapun.
Karena itu janganlah kita hanya menikmati dan mensyukuri hasil. Semenjak daun (proses) pun seharusnya kita selalu bersyukur dan bersandar kepada Nya. Bahwa Dialah Yang Maha Pemurah dan Maha Baik terhadap semua makhluk-Nya.
Wahai pelajar dan mahasiswa
Nikmati dan syukuri proses belajar
dan kuliah anda
Janganlah bersyukurnya menuggu setelah
engkau diwisuda
Karena proses dan hasil, keduanya
hadiah dari Sang Maha Pemurah
KangNoer, Puri Jepun 19 Mei 2020

Wow... Dua helai daun... Cukup simple tapi sarat makna...
ReplyDeleteSemua diciptakan Allah untuk manusia yang berfikir
Leres dawuh bunda...
DeleteBagus bro... Sederhana tapi bermakna..👍
ReplyDeleteTrims bu...sampun berkenan mmbaca
Delete
ReplyDeleteMantap ustadz.... Tulisan nya
Matursuwun bpk/ibu...sdh berknan mmbaca
DeleteUntaian kata yang sungguh indah.
ReplyDeleteSiap prof... Trimksih sampun berkenan mmbaca
ReplyDeleteSukses sll pak pengawas
ReplyDeleteAamiin...doa yg sama kagem panjenengan
DeleteSatu kata saja "mantap".... Lanjut....
ReplyDeleteItu tulisan jambumu mana tulisankuuu...
ReplyDelete