BELAJAR LITERASI (MENULIS) BERJAMAAH



Sebuah refleksi 

Negara besar miskin literasi
Masih menjadi pertanyaan yang panjang. Mengapa bangsa indonesia budaya baca dan tulisnya (literasi) sangat rendah dibanding negara-negara lain. Kita pernah membaca temuan UNESCO Tahun 2016 yang menyatakan bahwa hanya satu dari seribu orang Indonesia yang membaca.

Tentu saja hal ini menjadi perhatian serius pemerintah. Utamanya yang membidangi urusan pendidikan. Karena dalam konteks ini, ibarat sebuah pohon,  lembaga pendidikan (sekolah/kampus) adalah akarnya.  Bayangkan apa yang terjadi jika akar itu tidak doyan menu utamanya. Maka dipastikan tak suburlah pohonnya. Hingga tidak maksimal hasil buahnya. 

Dikalangan siswa, lemahnya budaya literasi  terjadi mulai dari tingkat dasar (SD-SMP). Hal ini akan menjadi masalah yang berantai. Tidak akan ada perubahan yang berarti  saat mereka di bangku SMA. 

Dan jika kemudian mereka melanjutkan ke perguruan tinggi, barulah mereka menyadari, bahwa kegiatan membaca dan menulis merupakan modal utama meraih sukses di dunia akademis. 

Kita sering mendengar persoalan di masyarakat, yang bisa jadi ini merupakan buah dari lemahnya budaya literasi kita. Misalnya kasus plagiasi, jual beli ijazah bodong, makelar dan penjahit KTI (karya tulis ilmiah), mahasiswa DO dan sebagainya.

Bila ditelusuri,  masalah-masalah tersebut tidak mustahil, diantaranya sebabnya adalah karena lemahnya budaya literasi. 

Literasi sebagai gerakan budaya
Budaya literasi. Dua kata ini sering di sandingkan. Seperti halnya budaya gotong-royong, budaya kerja keras, dan sejenisnya. Hal ini menggambarkan bahwa literasi (keber-aksaraan; baca & tulis) harus menjadi pembiasaan di tengah masyarakat. Tentu saja sebuah pembiasaan akan berhasil jika dimulai sejak dari anak-anak,  usia sekolah.  

Agak ironis memang, di era 4.0 saat in, kita masih bicara bagaimana membangun budaya literasi. Bahkan sudah menjadi guru profesional pun masih dilatih literasi. Tentu tidak ada kata terlambat. Tapi yang membuat sedikit miris adalah, kelompok profesional dan terdidik ini masih saja berkelit dengan berbagai alasan.  

Upaya akselerasi kemudian dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (MENDIKBUD). Dengan dikeluarkannya Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 yang selanjutnya menjadi dasar   Gerakan Literasi Sekolah (GLS). 

Mendikbud sampai merasa perlu untuk turun gunung mengatur hal yang sangat teknis di kelas. Yaitu memerintahkan kepada guru untuk mengajak siswanya membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum di mulainya  pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan minat baca siswa. 

Indonesia adalah negara besar. Mendorong negara sebesar ini untuk memiliki budaya baru bukanlah perkara yang mudah. Perlu gerakan massif dan dalam jangka waktu yang panjang. 

Dari mana gerakan ini dimulai ? Jawabannya tidak lain adalah dari Dunia Pendidikan. Karena melalui pendidikanlah perubahan perilaku anak bangsa terjadi.  Pendidikan adalah  katalisator dan kreator budaya.  Dari sinilah maka, kurikulum dan pelaksana kurikulum (sekolah/guru) diharapkan mampu meng-arus utamakan gerakan budaya literasi ini.  

Belajar literasi dengan berjamaah
Mengapa belajar literasi (khususnya menulis) sebaiknya dilakukan bersama-sama (berjamaah) ? 

Pertama ;
Biasanya orang gagal memulai belajar menulis karena faktor internal (diri) dan faktor eksternal (luar diri). Dengan belajar menulis bersama-sama,  penulis pemula akan saling memberikan suntikan motivasi. 

Ini penting, karena hanya motivasi yang kuat dan bulat yang dapat mengalahkan segala bentuk alibi. 

Sejak awal kelompok/jamaah literasi,  dideklarasikan untuk satu tujuan yang sama yaitu, memulai belajar menulis. Sehingga terjadilah apa yang disebut sebagai konsolidasi  misi. Disini semua  anggota sepakat melupakan semua latar belakang dan urusan. Urusannya hanya satu yaitu belajar membuat tulisan. 

Dan akan lebih indah lagi, jika tidak ada yang bertindak sebagai hakim ; mengadili salah dan benar, baik dan buruk. Semua adalah provokator (dalam arti baik) dan motivator. Dinamika positif pasti akan terjadi.

Kedua ;
Karena berjamaah tentu ada imamnya. Imam yang dimaksud disini adalah, orang yang mempunyai kompetensi dalam bidang kepenulisan. Tentu saja bukan hanya teori, tapi bukti hasil karya nyata-nya telah menginspirasi banyak orang. Sehingga disaat menyampaikan materi kepenulisan, buku-buku hasil karyanya, serta tulisan-tulisannya di media massa mampu berbicara sendiri (sebagai bukti). 

Akan sangat berbeda rasanya, jika imam kepenulisan, belum mempunyai produk yang bisa di tunjukkan.  Ibarat makmum, diajak  berselancar ke langit oleh imam tanpa mendarat ke bumi. 

Tanpa keraguan sedikit pun disini penulis menyebutkan sebuah contoh yang layak di teladani. Komunitas KAMAD MI MA'ARIF di Tulungagung memilih Dr. MGAINUN NAIM, M.H.I sebagai imam dalam belajar menulis. Kompeten ilmunya, ahli memotivasi, mau turun langsung ke bawah, telaten, dan istiqomah menulis. Terlebih lagi banyak buku-buku karya tulisnya terbukti mampu menginspirasi. 

Imam yang bukan hanya memberi pengetahuan tentang cara menulis. Tetapi mampu mengantarkan jamaahnya membuat karya tulis (buku).  Gerakan yang sukses seperti ini mestinya di duplikasi oleh kelompok/komunitas lain. Dan silahkan di bayangkan hasilnya !

Ketiga ;
"Menjadi seorang penulis itu sungguh membahagiakan".  Demikianlah kata motivasi mereka yang telah berhasil menjadi penulis. Pernyataan ini dapat di-ilustrasikan seperti pernyataan berikut ini "wisata di gunung bromo sangat menyenangkan". 

Bagi orang yang belum pernah wisata ke gunung bromo, dan ingin membuktikan keindahan gunung bromo, tentu ia perlu banyak pengetahuan tentang hal ihwal gunung bromo. Misalnya, peta/jalan  menuju gunung bromo, alat yang harus dibawa, kapan waktu paling baik wisata ke gunung  bromo, dan seterusnya. Mengapa demikian ? Karena belum pernah ke sana. 

Atau dengan ilustrasi lain, orang yang belum pernah ke surga, dan ia ingin masuk  surga. Maka tidak ada jalan lain kecuali ia harus mengikuti jalan (syariat) orang yang pernah diberi pengetahuan oleh Tuhan tentang gambaran surga dan jalan menuju surga. Yaitu Rosululloh SAW. Untuk hal yang satu ini jangan sekali-kali membuat (mengarang) jalan sendiri. Agama tak segan-segan  menyebutnya sebagai orang yang tersesat dan menyesatkan. Na'udzubillah

Karena itu, tepat sekali jika belajar literasi (menulis) dilakukan secara berjamaah dan di pandu oleh imam yang mumpuni. Yaitu orang yang kompeten dan mempunyai banyak karya tulis yang telah diakui oleh lembaga yang berwenang. 

Keempat ;
Sadar bahwa perjuangan mengembangkan budaya literasi (menulis) adalah medan perjuangan yang berat. Aku dan kamu saja,  tidak akan kuat.  Maka pilihannya harus kita bersama. Berjamaah !

Semakin banyak kolompok dan komunitas yang menggerakkan budaya literasi, akan semakin mempercepat bangsa ini naik ke level yang lebih tinggi. Menuju menjadi bangsa yang maju. (...)


KangNoer, Jepun, 22 Mei 2020

Comments

  1. Keren kang.. jamaah itu banyak sekali manfaatnya.
    Apalagi ahlus sunnah wal jamaah

    ReplyDelete
  2. Joss, dalam jamaah tentu ada imam ada makmum,makmum yg rukunnya kurang sempurna ditanggung imam lo..������

    ReplyDelete
    Replies
    1. Leres sanget... Tambahan ilmu. Trimakasih ibu..

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia