Temukan Bahagia di Lapak Sayur

lapak sayar langgananku

Lebih dari 10 tahun kebiasaan pagi seperti ini ku jalani. Pagi-pagi belanja sayur-mayur di bakul sayur dekat rumah. Sayur untuk di masak, demi memenuhi kebutuhan logistik dan nutrisi keluarga satu hari. 

Sepintas mungkin ironi. Seorang laki-laki belanja sayur dan mengurus urusan dapur. Karana perkara ini umumnya perempuan yang berkuasa. Semua terjadi karena ketiga anak kami punya karakter yang sama. Tak mau lepas dari pelukan bundanya di tempat tidur. 

Pernah dicoba, bundanya berangkat belanja, selang beberapa menit si kecil menangis se jadi-jadinya. Begitulah awal mulanya, dan sampai detik inipun tetap sama, belum ada tanda-tanda berubah. Tentu ini bukan sebuah masalah, karena setiap anak kecil punya khas (gawan bayi) nya masing-masing. 

Berbicara tentang laki-laki dan perempuan memang kodratinya beda. Melahirkan, menyusui, menstruasi tak bisa di gantikan, telah menjadi kodrat perempuan. Tapi peran selain itu, semuanya bisa dibagi dan semua boleh mengerjakan. 

Tidak ada dalil yang mengharamkan bagi laki-laki (bapak) belanja sayur dan mengurus dapur. Kalau dikatakan bahwa itu tidak umum, mungkin bisa dibenarkan karena warisan dan konstruksi  budaya patriarki kita begitulah adanya. 

Sedikit cerita pengalaman,  saya pernah diajak teman-teman  terlibat dalam pelaksana program Tifa Foundation dan Family Health International (FHI) tahun 2004 - 2009, tidak lama tapi sungguh berkesan.

Lembaga internasional ini sering melakukan kegiatan (semacam diklat) penguatan kapasitas staf implementing unit nya. Disitulah tema-tema peran gender didiskusikan. Kodrat laki-perempuan dan konstruksi budaya didudukan sebagaimana mestinya.

Tujuannya adalah, menempatkan peran dan fungsi gender secara proporsional, adil dan bijaksana. Terimakasih Tifa dan FHI, atas pengalaman dan ilmu-ilmunya. 

Sedikit mengulang ingat, bahwa diskursus gander ini pernah ramai di bicarakan sekitar tahun 2003. Hingga pemerintah mengesahkan  UU Nomor 12 Tahun 2003, tentang pemilu. 

Undang-undang inilah yang mengawali gerakan afirmative action keterwakilan perempuan di lembaga legislatif. Lembaga yang saat itu (sebelum pemilu 2004) nyaris diisi oleh kaum adam saja. Karena itu untuk meningkatkan kwalitas sistem demokrasi, pemerintah merasa perlu memberikan dorongan dan payung hukum upaya meningkatkan peran serta kaum hawa di kancah politik indonesia.

Kita masih ingat, saat pemilu tahun 2004, partai politik wajib mengajukan calon anggota  legislatif  dengan memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 %. Sampai sekarang upaya ini terus di kawal dan diperkuat dengan undang-undang pemilu berikutnya.

Saat ini, pembagian peran publik dan domistik laki-laki dan perempuan sudah makin  setara. Melihat laki-laki menjadi koki (juru masak) sudah tidak ada rasa tabu lagi. Demikian juga sebaliknya, tak sedikit perempuan yang mampu menjadi pilot dan sebagainya. 

---------------

Kembali ke cerita kebiasaanku. Pagi itu, 'idul fitri hari yang kedua. Sepinya kegiatan masyarakat masih sangat terasa. Yang ramai hanya berita tentang si-corona dan palang memalang jalan. Toko dan warung masih malas membuka pintu, jalanan pun lengang. 

Pagi itu, saya mencoba keluar rumah. Membawa catatan rencana belanja urusan per-dapuran. Sayur dan bumbu-bumbu masak telah habis sejak kemarin. Hanya beberapa butir telur saja yang tersisa. 

Susah payah menerobos portal yang menghadang gang kecil  yang biasa ku lalui. Sampai di lokasi yang ku tuju, ternyata warung sayur mayur itu masih belum buka. Pintunya tertutup rapat, mungkin si pedagang masih ingin menikmati hari raya. Rencana pagi itu gagal. 

Besok pagi hal yang sama coba ku ulangi lagi.  Ujung gang kecil  juga masih di hadang portal. Kokoh tak bisa mentoleransi siapun yang akan melewati. Dan pagi yang kedua ini pun ternyata gagal lagi. Pintu toko sayur langganan banyak orang ini pun belum membuka lapaknya. 

Gagal untuk yang kedua kalinya. Maka terpaksa pindah lokasi, yang agak jauh. Acara belanja berhasil tapi belum sesuai harapan. Tidak jadi masalah, dapur tetap mengepul seadanya. 

Pagi yang ketiga. Semangat tetap membara berburu belanjaan yang kemarin sudah ter-catat di angan-angan. Rasa bahagia pertama hadir saat melihat portal bisu itu telah tiada.

Bahagia kedua pun ku dapatkan saat menyaksikan lapak sayur sudah digelar. Bahagia selanjutnya terus hadir saat melihat aneka sayur lengkap sesuai angan-angan di kepala.

Satu persatu ku amati, dan setiap yang kuamati selalu hadir rasa senang dan bahagia di hati. Walaupun hanya bisa melihat tanpa harus di beli. 

Mataku dimanjakan dengan pemandangan yang menggoda. Ada kelompok  hewani  berisi ; udang, ikan laut, ikan air tawar, pindang, daging ayam, daging sapi. 

Kelompok lauk daun (sayur) juga hadir lengkap ; kangkung, daun singkong, sawi, bayam, kenikir, terong, kulit melinjo,  cipir, nangka muda dan kacang panjang. 

Tak kalah indahnya melihat kelompok bumbu dan rempah ; lombok, bawah putih, bawang merah, kunir, lengkuas, jahe, sere, daun jeruk, daun salam dan kencur. Semuanya tampak masih segar.

Kawan... Dari banyak yang ku sebutkan di atas sebenarnya hanya beberapa saja yang ku bawa pulang (beli). Tapi salahkah jika kita bisa berbahagia, dengan hanya menyaksikan limpahan bahan makanan yang ada, dan tersedia di dekat kita ?

Kalau boleh menyimpulkan, ternyata bahagia itu dekat, ia ada dan melekat di hati kita. Bahkan sarananya pun sederhana, bertebaran di sekitar kita berada. Dan ternyata, ikhlas berbagi peran juga bisa menjadi sarana kebahagiaan. Semoga ! [...]


KangNoer, Puri Jepun, 28 Mei 2020

Comments

  1. Berbelanja adalah bagian rekreasi maka berbahagialah..

    ReplyDelete
  2. Tilisan bermutu sekaligus berjiwa, pesan yang dimasak dengan olah kata yang indah dan kaya akan rasa... Ibarat satu besek pindang yang dimasak menjadi beberapa sajian yang lezat, pepes pindang, peyek pindag, pindang krispy, ungkep pindang, misalnya.
    Walhasil: meski tulisan itu panjang, membacanya pun tak bosan bosan.. Apik pak noer.

    ReplyDelete
  3. Selalu ada hal yang bisa ditulis. Hal biasa menjadi luar biasa ketika ditulis.

    ReplyDelete
  4. Abah teladan, meramu masakan lezat, mermu tulisanpun tambah nikmat dibaca..

    Sae Kang Noer eh Yai Noer...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhhh Alhamdulillah..

      Bu Nyai kok nggih saget mawon paring dawuh... Yg paling lezat tetep masakan ibu..bu.

      Delete
  5. Ayah dan suami yg hebat, mau bantu tugas2 seorang ibu/istri. Salut Pak
    👍👍

    ReplyDelete
  6. tifa dan fhi pengalaman kerja LSM yang sesungguhnya....klo program pemda dan pemprov kerja sampingan wkwkwk

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia